2 Menteri Jadi Tersangka KPK, Direktur IPI: Momentum Jokowi Untuk Lakukan Reshuffle Kabinet

Bagikan:

Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai bahwa dengan tertangkapnya 2 menteri dalam dua pekan ini menjadi momentum bagi Presiden Jokowi untuk melakukan reshuffle kabinet.

Diketahui dalam waktu singkat, KPK berhasil mengamankan dua menteri Kabinet Indonesia Maju atas dugaan kasus korupsi. Ditangkapnya kedua menteri tersebut dianggap akan mengurangi tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

“Upaya melakukan reshuffle dilakukan untuk memperbaiki performa pemerintahan. Point yang tak kalah penting menjadi bahan pertimbangan adalah mempercayakan jalannya pemerintahan kepada orang-orang yang tidak hanya kompeten, tetapi juga konsisten terhadap visi Indonesia dan memiliki komitmen kuat memperjuangkan Trisakti; berdikari di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian di bidang budaya”, tutur Karyono, Kamis (17/12/2020).

Terpisah, Ketua DPP GMNI Arieo Pandiko juga menyampaikan hal senada dengan Karyono Wibowo.Ia menilai bahwa ini adalah waktu yang tepat bagi Presiden Jokowi untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja para bawahannya serta melakukan reshuffle kabinet.

“Saat ini ada 2 menteri Pak Jokowi yang ditangkap atas dugaan kasus korupsi. Belum lagi beberapa menteri yang dianggap tidak mampu menjalankan tugas dan memenuhi ekspektasi Presiden, serta adanya isu menteri yang sedang mempersiapkan diri untuk ikut dalam pertarungan Pilpres 2024 mendatang,” ujar Arieo.

Dilansir oleh Tribunnews.com, menurut Arieo jika presiden tidak melakukan reshuffle maka hal ini tentu akan mengganggu jalannya pemerintahan dan tentu masyarakat yang akan merasakan dampaknya.

Arieo mengungkapkan untuk mengisi kekosongan posisi Menteri Sosial saat ini, Presiden harus memilih sosok yang benar-benar memahami Pancasila dan UUD 1945 untuk menjabat posisi kementerian yang vital mengurus kesejahteraan rakyat.

Agar dapat menerjemahkan visi-misi Presiden Jokowi dan mentransformasikannya pada program-program kementerian sehingga dapat sejalan dengan cita-cita Indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

BACA JUGA :  Bangkrut, Hotel dan Casino Trump Plaza di Atlantic City Akhirnya Dirobohkan

“Salah satu sosok yang saya anggap layak dan sesuai dengan kriteria tersebut adalah Ahmad Basarah,” ungkap Arieo.

Menurut Arieo, selain untuk mengisi kekosongan jabatan, pentingnya melakukan reshuffle kabinet juga untuk merombak posisi Menteri yang saat ini dianggap tidak mampu menjalankan amanat dan tanggung jawab yang diberikan Presiden.

“Dari beberapa Menteri yang pantas untuk diganti, satu yang paling menarik perhatian adalah Erick Thohir. Menteri BUMN ini kurang mampu menjalankan tugasnya sebagai Menteri BUMN,” terang Arieo.

Arieo menilai bahwa Ahmad Basarah yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua MPR dan Ketua Umum Persatuan Alumni (PA) GMNI adalah alternatif sosok yang ideal sebagai calon alternatif Menteri BUMN menggantikan Erick Thohir, yang menurutnya kurang mampu menjalankan tugasnya.

“Ahmad Basarah yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum PA GMNI adalah sosok nasionalis yang berintegritas dan benar-benar memahami Pancasila serta UUD 1945,” ujarnya.

Arieo yakin Ahmad Basarah mampu menjalankan amanat UUD 1945 khususnya pasal 33 yang menjadi landasan pelaksanaan perekonomian nasional untuk menggerakan perekonomian Indonesia melalui BUMN.

“Itu adalah modal penting untuk membawa kemajuan bagi jalannya pemerintahan Pak Jokowi dan membawa kemakmuran bagi rakyat Indonesia”, pungkasnya.

 

Sumber : Youtube/Tribunnews.com

 

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *