Ahmad Bastian Puji Kapolri karena Beri Kenaikan Pangkat 32 Personel yang Tangkap Teroris

Bagikan:

Bandar Lampung – Anggota DPD RI daerah pemilihan (Dapil) Lampung memberikan apresiasi atas kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) 32 anggota Polri. Sebanyak 32 personel Polri itu mendapat penghargaan atas prestasi menangkap buron terduga teroris di Lampung pada November 2020 lalu.

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada 32 anggota Polri yang berhasil menangkap terduga teroris di Lampung. Prestasi mereka sudah sepantasnya mendapat penghargaan,” ungkap Ahmad Bastian, Rabu (20/1/2020).

Adapun 32 anggota itu diberi kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi yang tertuang dalam surat telegram nomor STR/29/I/KEP./2021 per tanggal 19 Januari 2021. Mereka terdiri atas 3 anggota berpangkat komisaris polisi (kompol), 13 anggota berpangkat ajun komisaris polisi (AKP), 4 anggota berpangkat inspektur satu (Iptu), dan 12 anggota berpangkat inspektur dua (Ipda).

Bastian pun memuji keputusan Kapolri Jenderal Idham Azis atas KPLB kepada 32 anak buahnya itu. Ia menyebut, langkah Jenderal Idham Azis menunjukkan seorang pemimpin yang bijaksana.

“Keputusan Jenderal Idham Azis memberi kenaikan pangkat luar biasa kepada 32 personel Polri berprestasi perlu ditiru. Pemimpin yang baik memang harus memberikan reward atas keberhasilan yang ditunjukkan anak buahnya,” kata Bastian.

Adapun penangkapan teroris itu terjadi pada 23 November 2020. Tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap 23 terduga teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI) di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Dari 23 terduga teroris tersebut, dua orang merupakan DPO Polri bernama Taufik Bulaga alias Upik Lawanga dan Zulkarnaen alias Arif Sunarso alias Daud.

“Sebagai senator Dapil Lampung, saya secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Polri karena berhasil mengungkap dan menangkap jaringan teroris di Lampung. Apalagi terduga teroris yang ditangkap ini beberapa di antaranya ‘pemain kakap’,” kata Bastian.

BACA JUGA :  SK Perhutanan Sosial Resmi Diserahkan Presiden, Ini Komentar Senator dari Lampung

Anggota Komite I DPD RI itu menegaskan tindakan teror tidak bisa dibiarkan. Bastian menyebut, keberhasilan Polri menangkap kelompok terduga teroris tersebut melegakan masyarakat Lampung.

“Lampung harus bersih dari teroris. Kita patut bersyukur atas pengungkapan jaringan ini. Jangan sampai akibat adanya jaringan teroris, ketertiban umum di Lampung jadi terganggu,” sebutnya.

Untuk diketahui, Upik Lawanga dan Zulkarnaen memang ‘pemain kakap’ dalam kelompok teroris di Indonesia. Upik Lawanga diketahui merupakan anggota JI yang mendalangi sejumlah penyerangan bom di beberapa tempat seperti bom Tentena, bom Gor Poso, dan bom Pasar sentral. Ia juga terlibat dalam rangkaian tindakan teror lainnya pada 2004-2006.

Upik Lawanga disebut sebagai ‘profesor’ karena pintar membaca situasi dan karakteristik suatu wilayah dia berada. Dalam persembunyiannya di Lampung, Upik membuat bom berbentuk senter sesuai dengan kebiasaan masyarakat di tempatnya berada, yang memang biasa membawa senter pada malam hari.

Kemudian Zulkarnaen diketahui merupakan pimpinan askary Markaziah Jamaah Islamiah yang menjadi pelatih Akademi Militer di Afganistan selama 7 tahun. Ia terlibat dalam kasus teror Bom Bali 1 yang terjadi pada 2002. Tak hanya itu, Zulkarnaen juga disebut sebagai arsitek kerusuhan di Ambon, Ternate, dan Poso pada 1998-2000.

Zulkarnaen pun banyak terlibat aksi teror lainnya. Ia diketahui sebagai otak aksi peledakan kediaman Dubes Filipina di Menteng pada 1999. Polisi juga menyebut Zulkarnaen terlibat dalam peledakan gereja serentak pada malam Natal dan tahun baru 2000 dan 2001, Bom Marriot pertama pada 2003, Bom Kedubes Australia 2004, dan Bom Bali 2 pada 2005.

Bastian menilai pemberian KPLB kepada 32 personel Polri yang berhasil menangkap Upik Lawanga dan Zulkarnaen sudah sewajarnya diberikan. Sebab 32 personel itu mendapatkan tokoh penting dalam jaringan teroris di Indonesia.

BACA JUGA :  Drama Jisoo BLACKPINK, Snowdrop Tunda Produksi karena Corona

“Wajar ya dapat kenaikan pangkat luar biasa karena yang ditangkap di Lampung ini kan bukan anggota teroris ecek-ecek. Pimpinan-pimpinan besar kelompok teroris Jamaah Islamiyah yang pintar mengelabui banyak orang,” ucap Bastian.

Selama bersembunyi di Lampung, Upik Lawanga bersiasat membuat bunker di tempat tinggalnya. Ia membuat penyamaran sebagai peternak bebek sebagai bentuk kamuflase. Di tempat peternakan itu lah terdapat rumah Upik yang di dalamnya ada bunker kedap suara untuk merakit senjata dan bom.

Upik berada di wilayah tersebut sudah sejak lama, tepatnya sejak tahun 2016. Rumahnya di Lampung dikelilingi hamparan sawah dan sulit dijangkau dan berjauhan dengan warga. Atas peristiwa ini, Bastian mengingatkan Pemda agar mengetatkan pengawasan kepada pendatang.

“Bukan bermaksud untuk suudzon kepada para pendatang. Tapi Pemda, melalui jajaran tingkat desa harus betul-betul memperhatikan para pendatang di Lampung. Di sini peran serta RT/RW sangat dibutuhkan agar ketat mengawasi warganya,” ujar mantan anggota DPRD Lampung Selatan tersebut.

Bastian pun mengajak masyarakat Lampung untuk lebih peduli terhadap lingkungan di tempat tinggalnya. Peran serta masyarakat disebut juga menjadi faktor keberhasilan melawan kelompok teroris.

“Laporkan bila melihat ada aktivitas tetangganya yang mencurigakan. Kita harus lebih care dengan lingkungan sehingga bisa waspada terhadap teroris yang biasa menyamar sebagai orang biasa di tengah-tengah warga,” tutup Bastian. (ijs/elz)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *