Akankah Penarikan Dana Muhammadiyah Mengganggu Rencana Besar Bank Syariah Hasil Merger?

sekjen mui anwar abbas(foto : republika.co.id).
Bagikan:

JAKARTA – Rencana ditariknya Dana Milik Muhammadiyah dari PT Bank Syariah Indonesia, yang merupakan bank hasil merger BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri (BSM) sedikit banyak membuat kekhawatiran akan rencana besar yang digagas dalam pembentukan bank induk syariah tersebut.

Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas mengatakan, saat ini pihaknya sedang proses kajian terkait penarikan dana tersebut. 

Alasan dari rencana penarikan dana milik Muhammadiyah tersebut, menurut Anwar, karena setelah bank syariah hasil merger akan jadi bank syariah milik negara yang besar dan kuat. Karena semakin kuat, maka bank itu akan fokus pada pembiayaan-pembiayaan berskala besar saja.

Sementara menurut dia, Muhammadiyah memiliki komitmen memajukan ekonomi umat dan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

“Oleh karena itu, mungkin sudah waktunya bagi Muhammadiyah untuk tidak lagi perlu mendukung Bank Syariah Indonesia itu dengan memindahkan semua dana yang ditempatkan di bank syariah lain,” jelas Anwar Abbas.

Pengalihan itu bisa saja dilakukan ke bank syariah BUMN lainnya yang tidak ikut merger. Seperti Bank Pembangunan Daerah (BPD) Syariah, Uni Usaha Syariah (UUS) BPD, atau bank umum syariah lainnya yang memiliki komoitmen sama dengan Muhammadiyah. 

Anwar tidak menyebut detail jumlah dana yang bisa ditarik dari bank syariah BUMN tersebut. Namun, ia mengatakan jumlah institusi besar di bawah Muhammadiyah sangat banyak yang simpanan di perbankan syariah BUMN.

Anwar mengaku, Ada sebanyak 170 perguruan tinggi, 400 rumah sakit, 340 pesantren, dan sekitar 28.000 lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah. Anwar menyebut, empat perguruan tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta  saja memiliki Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja,  masing-masing sekitar Rp 300 miliar – Rp 500 miliar per tahun. 

Pengurus Pusat Muhammadiyah akan segera membentuk tim khusus yang beranggotakan pakar keuangan, bankir, dan mantan bankir, serta mantan-mantan regulator untuk mempersiapkan  penarikan dana tersebut. 

Di sisi lain, Anwar menampik jika kajian penarikan dana itu dilakukan karena pengurus Bank Syariah Indonesia itu tidak ada dari kalangan Muhammadiyah. 

“Saya tidak mengatakan kami mau minta jabatan.  Kalau bank BUMN Syariah ini menunjukkan komitmen akan melakukan fokus bisnis mayoritas ke segmen UMKM akan sangat kami dukung. Bisa 50% saja, saya yang akan paling depan memberikan dukungan,” tegas Anwar. 

Hanya saja, secara pribadi ia berpendapat, manajemen bank yang bijaksana harusnya lebih memperhatikan pihak-pihaknya yang memberikan dampak besar terhadap terhadap bisnis mereka.

Sementara, Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan penunjukan orang-orang yang menduduki jabatan di Bank Syariah Indonesia berdasarkan rekam jejaknya. 

“Kami  lihat track record direksi dam kesesuaian dengan jabatan yang ada untuk memperkuat manajemen yang ada. Penggabungan dari 3 bank induk dan talent internal bank syariah ini akan jadi pelengkap karena kekhasan masing-masing dari bank induk,” kata pria yang akrab disapa Tiko itu.

Tiko meyakini, jajaran komisaris dan direksi yang ditunjuk merupakan orang-orang terbaik dari bidangnya masing-masing yang akan membawa bank tumbuh lebih baik. 

(Nad/IJS)

Bagikan:
BACA JUGA :  Buku Sekolah SMA Berisi Pandangan Harun Yahya, Kemendikbud: Akan Segera Dicek Dan Diperbaiki

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *