Akses Jalan ke Korban Gempa Terputus, Logistik Bantuan Hanya Bisa Ditandu

Relawan Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat se Indoneaia (KKMSB) mendistribusikan bantuan di Sulawesi Barat. (Foto : KKMSB)
Bagikan:

Mamuju – Pada hari kelima setelah gempa bumi 6,2 Skala Richter yang mengguncang Sulawesi Barat, pengungsi masih bertahan di tenda-tenda pengungsian yang berada di 25 titik.

Saat ini bantuan dalam jumlah besar telah membanjiri posko-posko pengungsian yang tersebat di beberapa lokasi strtagegis di kawasan Kota Mamuju dan Majene.

Namun daerah-daerah di pedalaman hanya sedikit dijangkau bantuan, bahkan ada daerah yang belum terakses sama sekali. Saat ini tim Basarnas, BNPB, serta unsur lain dari pemerintah maupun swasta bahu membahu mejalankan program bantuan logistik dan pemulihan prasarana fisik.

Relawan Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat se Indoneaia (KKMSB), Arwin Wilhelmina mengatakan, di posko-posko pengungsian yang letaknya strategis di dalam kota, bantuan datang dalam jumlah berlebih. “Mereka aman untuk beberapa waktu ke depan,” katanya.

Namun, lanjut Arwin, para korban yang berada di daerah pedalaman masih sulit dijangkau bantuan.

Misalnya di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, terdapat 8 desa yang aksesnya tertutup total karena jalan penghubung longsor. Kedelapan desa itu adalah Desa Kabiraan, Panggalo, Popenga, Salutambung, Sambabo, Sulai, tandeallo, dan Ulumanda sendiri.

BACA JUGA :  Terekam CCTV, Maling Nekat Curi Ponsel di Ruang Isolasi Covid-19

Daerah ini berada di sisi gunung yang konturnya terjal dan sebagian berlumpur. “Dari jalan besar jaraknya hanya 4 klometer, tetapi tak ada kendaraan apapun yang bisa lewat, termasuk sepeda motor,” kata Arwin.

Saat ini 8 desa tersebut hanya sedikit sekali mendapat bantuan karena tak mudah mengakses lokasi yang didiami oleh 6.000 jiwa ini.

Menurut Arwin, relawan ada yang masuk dengan berjalan kaki sejauh 4 kilometer di lereng perbukitan untuk memberitahu warga, bahwa di luar ada bantuan. Kemudian warga datang berbondong-bondong dengan membawa tandu untuk mengangkut bantuan itu. “Dengan  cara ini jumlah yang dapat terangkut sangat terbatas. Diperlukan mobilisasi udara untuk warga di daerah-daerah pedalaman,” katanya.

Arwin bersama Tim Relawan KKMSB menyalurkan berbagai jenis bantuan, berupa alat kesehatan, makanan, pakaian, dan alat-alat penunjang hidup sehari-hari. Untuk alat-alat kesehatan diantaranya masker, vitamin, paracetamol, paralatan, P3K, minyak tawon, dan lain-lain.

Untuk bahan makanan ada beras, abon, sarden, ikan kering, susu bayi, teh, kopi, gula, dan aneka bumbu dapur siap saji. Untuk bahan pakaian ada selimut, pembalut, tikar, dan popok, serta dilengkapi bahan penunjang lain seperti pasta gigi, obat nyamuk, dan sabun.

Ketua Umum Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat se Indoneaia (KKMSB), Muhammad Asri Anas mengungkapkan, pihaknya melakukan pendistribusian bantuan yang dihimpun oleh berbagai elemen keluarga Mandar di Seluruh Indonesia. Untuk itu KKMSB mendirikan 4 posko dengan kekuatan 30 relawan.

“Kami sementara ini berfokus mendistribusikan bantuan itu ke daerah-daerah terpencil yang masih sedikit dijangkau, “ tandasnya.

Mantan anggota DPD RI dari Sulawesi Barat ini mengatakan, dengan menyasar langsung ke pedalaman ia berharap distribusi lebih berdaya guna dan menemukan sasaran tepat yang benar-benar membutuhkan.

“Menjadi korban bencana merupakan hal berat yang dirasakan saudara-saudara kami. Tetapi berada di pedalaman yang tak terakses bantuan merupakan bagian paling berat di sini,” tambahnya.

Asri Anas mengungkapkan, saat ini pemerintah maupun swasta telah bersinergi menggalang bantuan untuk warga. Sebagai komunitas suku Mandar terbesar di Indoensia, pihaknya telah berupaya mengagalang bantuan semaksimal mungkin.

“Kami terus berupaya keras menggalang partisipasi publik, bantuan pemerintah saja tidak cukup dalam situasi ini,” tambahnya. (Mjr/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *