Alexander Fransiscus Kutuk Penganiayaan Terhadap Jurnalis di Pangkalpinang

Bagikan:

Pangkalpinang– Seorang jurnalis lokal di Provinsi Bangka Belitung (Babel) dianiaya sejumlah orang akibat memberitakan aktivitas tambang ilegal. Anggota DPD RI Dapil Babel, Alexander Fransiscus mengecam aksi kekerasan itu.

“Saya mengutuk penganiayaan terhadap wartawan oleh sejumlah oknum masyarakat yang tidak terima atas pemberitaaan yang bersangkutan,” ujar Alexander Fransiscus, Jumat (15/1/2021).

Adapun wartawan di Babel yang dianiaya berinisial RF. Ia mendapat perbuatan tidak menyenangkan dari beberapa orang yang diduga preman setelah memberitakan aktivitas tambang timah dan pasir ilegal di kawasan RTH Parit Enam, Kota Pangkalpinang. Dari pemberitaan itu, pihak Polresta Pangkalpinang melakukan penertiban tambang liar.

Beberapa hari kemudian, sekelompok orang yang tidak terima dengan pemberitaan yang menyebabkan ada penertiban tambang liar, mendatangi RF. Mereka memukul wajah dan kepala RF dan menyatakan tidak terima atas pemberitaan yang dibuat RF.

“Aksi kekerasan tersebut tidak bisa dibenarkan. Saya meminta pihak kepolisian mengusut tuntas karena ini bentuk intimidasi kepada pers,” ungkap Alexander.

Anggota Komite II DPD RI ini mengingatkan, profesi jurnalistik dilindungi oleh undang-undang. Alexander menyebut, setiap orang harus menghargai kebebasan pers.

“Dalam UU No 40 Tahun 1999, disebutkan kemerdekaan pers dijamin sebagai hak warga negara. Dalam UU Pers dijelaskan, siapa saja yang dengan sengaja melakukan tindakan yang mengakibatkan terhambatnya kemerdekaan pers dipidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta,” tegasnya.

Rupanya intimidasi juga dilakukan terhadap keluarga RF. Oknum yang melakukan penganiayaan disebut berkali-kali mendatangi rumah RF setelah RF mengangkat pemberitaan soal aktivitas penambangan ilegal. Tak hanya itu, mobil RF juga dirusak orang tak dikenal diduga dilakukan kelompok yang sama.

BACA JUGA :  POLRI dan KPK , Isu Polhukam Paling Disorot Media Minggu Ini

RF bersama sejumlah organisasi pers akhirnya melaporkan kasus penganiayaan tersebut ke Polres Pangkalpinang. Alexander meminta polisi segera menangkap pelaku intimidasi dan penganiayaan terhadap RF.

“Ini bukan hanya bentuk ancaman terhadap profesi, tapi sudah bentuk pidana umum. Harus ditindak tegas,” ucap salah satu senator muda ini.

“Polisi harus segera menangkap pelaku kekerasan terhadap saudara RF dan ditindak tegas. Indonesia harus clear dari premanisme,” sambung Alexander. (ijs/elz)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *