Anna Wardiyati, Emansipasi Wanita Dari Lereng Dieng

anna wardiyanti pejuang emansipasi lereng dieng
anna wardiyanti pejuang emansipasi lereng dieng
Bagikan:

Dia merupakan Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cemerlang, Wonosobo, yang lahir dan dibesarkan di Wonosobo, kota berhawa dingin di wilayah selatan Jawa Tengah. PKBM adalah lembaga di bawah pengawasan dan bimbingan Dinas Pendidikan, yang dibentuk masyarakat dan bergerak di bidang pendidikan.

Sebelumnya, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan penghasilan yang tinggi. Bersama sang suami, ia mengumpulkan pundi-pundi untuk memenuhi kebutuhannya. Kematian sang ibu menyadarkannya bahwa bekal ke alam baka bukan harta, tetapi amal ibadah semasa hidup.

“Pada akhirnya, saya keluar dari pekerjaan dan segera mendapat ilham untuk berjuang di jalur non-profit, untuk saudara-saudara yang kurang beruntung dalam hidupnya,” kata Anna.

Perjuangannya bermula dari rasa prihatin terhadap nasib sesama perempuan di Lereng Dieng yang kurang beruntung.

“Saya amati, di wilayah Kecamatan Mojotengah Wonosobo, sebelum tahun 2010 banyak kasus pernikahan dini dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tentunya para perempuan rawan menjadi korban,” ungkap perempuan tiga anak itu.

Masalah sosial yang terjadi di Lereng Dieng tersebut bukan karena kenakalan remaja atau pun moralitas masyarakat. Menurutnya, pernikahan dini dan kurangnya pendidikan kesetaraan gender disebabkan karena belum adanya dukungan yang betul-betul konsen di bidang pendidikan masyarakat.

“Di sini, masyarakatnya religius, jadi ketika anak sudah beranjak remaja langsung dinikahkan oleh orangtuanya tanpa menunggu kesiapan mental dari mempelai, alhasil banyak masalah yang terjadi dalam rumah tangga pasangan pernikahan dini tersebut,” tuturnya.

“Biasanya, pasutri nikah dini rawan melakukan KDRT, sehingga ada korban yang harus sampai dirawat di RS Wonosobo,” ujar Anna.

Akibat ketidaksiapan mental dalam berumah tangga, akhirnya angka perceraian makin meningkat. Empati Anna pun diwujudkan dalam misinya menuntaskan kemiskinan, kebodohan, dan bias gender di lingkungannya.

BACA JUGA :  Kisah Kakek Yang Selamatkan Ratusan Nyawa Dengan Secangkir Teh

ia mulai melalui pintu ke pintu, membujuk korban perceraian untuk berlatih keterampilan bersama di sebuah petak beratap seng yang dipinjamkan. Pada awalnya orangtua para korban perceraian ini tidak mengizinkan anak-anaknya untuk belajar sambil berkarya.

“Orangtuanya banyak yang menolak kedatangan saya, mereka curiga kalau anak-anaknya makin terjerumus ke hal-hal yang tidak benar,” ujarnya. Dengan gigih, ia terus berusaha merangkul warga agar mau belajar keterampilan. Alhasil terkumpullah 10 warga yang setiap hari mau belajar untuk masa depan yang lebih baik.

Sepuluh orang tersebut diajarkan keterampilan dan pelajaran setara SMP dan SMA. Keterampilan yang diajarkan berupa kerajinan tangan sulam kerudung dan anyaman dari bahan limbah.

“Hasil keterampilan dijual dan hasilnya dibawa pulang untuk menambah uang belanja warga belajar,” ucapnya.

Singkat cerita, 1 Januari 2010, Anna pun menaungi warga dalam sebuah lembaga pendidikan non-formal dengan sebutan PKBM Cemerlang, yang berada di Jalan Dieng Kilometer 4, RT 005 RW 004, Sibunderan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Warga belajar pun makin banyak, mulai dari jenjang Paket A, Paket B, dan Paket C. Semua program gratis,

“Satu hal yang membuat saya terus konsisten di pendidikan masyarakat adalah dukungan dari suami, beliau sampai merelakan SK-nya dan digunakan sebagai agunan pinjaman guna membeli lahan yang sekarang kami tempati ini,” ujarnya.

Kini, PKBM Cemerlang sudah memiliki produk unggulan berupa minuman Carica yang pemasarannya sudah tersebar di seluruh pulau Jawa. Berkat kerja kerasnya, Anna mendapatkan berbagai penghargaan baik di tingkat provinsi maupun nasional.

“Produk Carica ini dikelola oleh warga binaan, tak sepenuhnya prioritas profit, hanya pemasarannya saja. Warga belajar yang sudah mahir mengolah Carica kami lepas untuk memiliki usaha sendiri,” tuturnya.

BACA JUGA :  Inspiratif, Seorang Kuli Bangunan Berhasil Menjadi Prajurit TNI AD

Bukan berarti, program yang dibangun sepuluh tahun lalu ini selalu mulus. Banyak sekali rintangan yang menghadang. Mulai dari kesulitan untuk membayar tenaga pendidik maupun karyawan, hingga gerai Carica yang omzetnya sudah puluhan juta rupiah hangus dilalap si jago merah.

“Saya sempat terpuruk, setelah gerai utama Carica Cemerlang ludes kebakaran, berbulan-bulan saya loyo, hingga sebuah mimpi membangunkan saya untuk kembali bersemangat,” ungkapnya.

Mimpi yang membuatnya kembali bangkit ketika banyak warga pinggiran yang bergantung nasib pada usaha keterampilan yang dipimpinnya. Maka dari titik nol, ia mulai berusaha bangkit untuk membawa masyarakat sekitar kepada kehidupan yang layak.

“Semoga, jika apa yang saya lakukan ini mendapat pahala, biarkan pahala itu mengalir kepada almarhumah Ibu. Penyesalan yang tak putus adalah saat saya dulu sibuk bekerja di saat keluarga membutuhkan kehadiran saya,” ujarnya.

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *