Bantuan Kuota Data Siswa Lanjut, Maya Rumantir Ingatkan Ortu Ketat Awasi Anak

Maya Rumantir (Foto Harian Komentar)
Maya Rumantir (Foto Harian Komentar)
Bagikan:

Pemerintah memutuskan melanjutkan pemberian bantuan kuota data bagi insan pendidikan di 2021 ini menyusul masih berlanjutnya pembelajaran jarak jauh karena masih tingginya penyebaran virus Corona (Covid-19). Anggota Komite III DPD RI Maya Rumantir mendukung kelanjutan program bantuan kuota tersebut.

“Pemanfaatan bantuan kuota internet bagi siswa/siswi sangat tinggi dan sangat meringankan beban masyarakat. Kami dari Komite III DPD RI mendukung program tersebut dilanjutkan, karena kita tahu pandemi Corona masih memaksa mayoritas siswa belajar dari rumah,” ujar Maya Rumantir, Jumat (9/1/2021).

Menurut Maya, bantuan kuota data telah membantu pembelajaran di tengah masa pandemi pada 2020 lalu. Oleh karena itu, Komite III DPD RI yang salah satu tugas pengawasannya di bidang pendidikan ini menyambut baik keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang akan melanjutkan memberikan bantuan kuota data internet.

“Semester genap tahun ajaran 2020/2021 ini kan belum bisa dilaksanakan karena pandemi Covid masih melanda dunia. Meski beberapa daerah sudah ada yang mulai sekolah tatap muka, tapi mereka juga memberlakukan sistem sift sehingga masih tetap ada yang belajar dari rumah,” kata Maya.

Untuk diketahui, pemerintah mengalokasikan Rp 7,2 triliun untuk bantuan kuota data kepada guru, siswa, dosen dan mahasiswa selama empat bulan sejak September-Desember 2020 untuk mengakomodir sistem sekolah daring atau PJJ. Penyaluran bantuan kuota data internet tersebut dilaksanakan selama dua tahap setiap bulan. Hingga Oktober lalu, sudah ada 35,7 juta penerima bantuan kuota data ini.

Kemendikbud saat ini sedang merumuskan agar penyaluran kuota data bisa berjalan lebih baik dari sebelumnya. Maya pun mengingatkan penyaluran kuota internet harus merata dan diberikan kepada yang benar-benar berhak.

BACA JUGA :  Crazy Rich Jakut Dapat Vaksin Duluan, DPRD DKI Minta Usut Tuntas

“Bantuan kuota data kami harapkan supaya lebih tepat sasaran dan merata, karena informasi yang kami terima masih banyak siswa-siswi yang belum mendapatkan kuota untuk belajar daring,” tutur senator asal Dapil Sulawesi Utara itu.

Dalam program ini, alokasi kuota data yang diberikan bermacam-macam. Peserta didik PAUD mendapatkan kuota data sebesar 20 GB/bulan, dan peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah mendapat 35 GB/bulan.

Kemudian pendidik pada PAUD dan jenjang pendidikan dasar dan menengah menerima 42 GB/bulan, serta untuk mahasiswa dan dosen 50 GB/bulan. Seluruhnya mendapatkan kuota umum sebesar 5 GB/bulan, sisanya adalah untuk kuota belajar.

Maya pun berharap agar bantuan kuota data ini bisa menambah semangat para siswa yang sudah hampir setahun terpaksa mengikuti PJJ secara daring. Ia juga mengimbau kepada orang tua agar terus melakukan pengawasan kepada anak-anaknya saat sekolah dari rumah.

“Orang tua harus terus mengawasi anak-anak yang belajar online agar tidak salah penggunaan seperti digunakan untuk menonton YouTube atau kanal medsos yang kurang bermanfaat,” kata Maya.

Kepada pemerintah, artis senior ini meminta perbaikan infrastruktur untuk mendukung jaringan internet di daerah-daerah terpencil. Menurut Maya, Kemendikbud bisa bekerja sama dengan Kementerian Kominfo untuk menyusun sistem sekolah daring untuk memudahkan para siswa yang tempat tinggalnya sulit akses internet.

“Jaringan internet atau infrastruktur yang minim harus mendapat pembenahan, sehingga pemberian kuota tidak mubajir. Percuma mendapat banyak bantuan kuota data tapi jaringan internetnya tidak ada,” tegasnya.

Pembelajaran dengan sistem sekolah tatap muka yang direncanakan dimulai pada Januari ini belum bisa dilaksanakan menyusul masih banyaknya kasus Corona. Hanya beberapa daerah yang memutuskan mulai melakukan sekolah tatap muka, namun tetap saja terbatas.

BACA JUGA :  Terlilit Hutang Saat Nyaleg, Pria Ini Nekat Jadi Kurir Narkoba

“Memang lebih baik sekolah tatap muka ditunda terlebih dahulu karena risiko terhadap anak didik cukup besar. Kita tidak mau anak-anak terinfeksi Covid dengan memaksakan dibukanya sekolah dalam kondisi masih tingginya penyebaran Corona,” tutup Maya.

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *