Benarkah Media Sosial Bersifat Dangkal?

Bagikan:

Terdapat sejumlah kalangan menilai bahwa keberadaan media saat ini utamanya media sosial, identik dengan kedangkalan intelektual. Salah satunya  seperti dikatakan oleh  Lindlof dan Schatzer (1998) bahwa komunikasi melalui internet  sangat berbeda dengan media lain karena sifatnya sementara dan dangkal.  Kritik ini cukup masuk akal, apabila menjadikan paradigm kritis sebagai acuan. Karena secara empiris, dunia intelektual adalah hampir identik dengan pemikiran kritis. Kalangan pemikir dan intektual di masa lalu hampir identik dengan orang-orang kritis.

Kritik ini tertentunya mengarah pada kehidupan dunia milenial yang merupakan generasi yang lahir dan tumbuh dalam dunia yang termediasi oleh internet, seperti media social dan platform internet lainnya. Tak heran kalau saat ini, ada sementara pihak yang menganggap bahwa milenialisme adalah dunia yang dangkal secara intelektual. Benarkah?

Memang secara faktual terjadi perubahan model komunikasi jika dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Katakanlah para era cetak dan televisi. Para ahli disrupsi atau milenialisme melihatnya secara berbeda, Mereka melihat bahwa perubahan model komunikasi adalah sesuatu yang wajar dengan beberapa penyebab. Salah satunya adalah   karena daur hidup segala sesuatu menjadi lebih pendek. Belum sempat sebuah tulisan di baca, sudah terlewatkan, tertimpa tulisan yang lebih baru yang jauh lebih banyak. Belum sempat menikmati sensasi teknologi baru, datang lagi teknologi yang lebih terbaru. Dan banyak contoh lain bisa disebut.

BACA JUGA :  Presiden Jokowi Bicara Penegakan Hukum, Azis Syamsuddin: Komitmennya Jelas!

Anggapan pemikir mazhab Frankfurt,  Jurgen Habermas,  yang melihat dunia modern sebagai dunia yang sangat diskursif, menarik untuk dilihat kembali berkaitan dengan fenomena milenial dewasa ini. Pandangannya yang melihat bahwa dunia kehidupan penuh dengan perdebatan dan argumentasi, lantaran sempitnya ruang kesepahaman perlu kembali dicermati. Dalam kenyataannya, pada masyarakat siber dewasa ini, para milenial justru cenderung menujukkan proses menyatuan dan solidaritas yang lebih kuat. Meningkatnya pertemanan yang disertai engagement di dunia maya semakin nampak terlihat.

Apakah ruang kesepahaman pada dunia milenial kembali melebar? Ini pernyataan yang menarik dibahas. Habermas pernah menyatakan, awalnya dunia kehidupan adalah dunia yang guyub, komunikatif, seiya sekata. Realitas yang ada diandaikan begitu saja. Menurutnya, dunia yang solid tersebut berubah menjadi tercerai berai, diskursif, saat dunia sosial berubah akibat menyepitnya dunia kehidupan oleh sistem kapitalis.

 

Ruang Kesepahaman Digital

Lalu apa mungkin dunia yang telah menyempit tersebut, terbuka kembali para era milenial ini, dalam arti ruang kesepahaman kembali melebar? Jawabannya adalah sangat mungkin.

Penyebab utama munculnya perluasan kesepahaman adalah meningkatnya ketersediaan ruang publik (public sphere) yang disiapkan oleh internet, dalam berbagai macam dan bentuk platform, seperti twitter, facebook, youtube, intagram, tiktok, dan sebagainya.  Total Pengguna media sosial  saat ini telah menjadi lebih dari 3 milyar, dan pembaca media online mencapai 3,8 milyar,  atau sekitar setengah dari penduduk bumi saat ini.

Patut diduga bahwa ruang kesepahaman yang ada,  boleh jadi mengalami perluasan. Penyebabnya, tidak persis sama pada zaman lampau, dimana dunia kehidupan masa lalu berciri sederhana, dengan budaya tradisionalnya. Melainkan, penyebabnya lebih berbasis digital, dengan trafik komunikasi yang sangat besar.

BACA JUGA :  Banjir Masalah, OJK Dimita Tak Buru-buru Beri Izin Fintech

Generasi milenial lebih mudah membangun kesepahaman karena dunia digital menyiapkan berbagai informasi bagi setiap manusia untuk dapat saling memahami. Tidak saja secara volume tetapi juga kualitas penyajian informasi yang lebih komunikatif dan informatif. Melalui desain dan warna yang lebih bagus.

Juga menyiapkan ruang komunikasi yang tranfaran untuk memahami dunia tanpa distorsi. Tak ada hal yang tersembunyi di dunia digital. Dunia digital dengan segala macam sifat keterbukaannya seakan menjadi horizon kebersamaan dan kesepahaman yang sangat luas.

Selain itu, alasan yang masuk akal adalah, bahwa perluasan kesepahaman masyarakat milenial juga karena   perubahan besar yang terjadi akibat terjadinya disrupsi ke era informasi ke era big data. Dimana terjadi fenomena blue ocean dalam berbagai urusan,  utamanya kepentingan bisnis. Dimana masing-masing entitas bisnis dapat mengeruk keutungan tanpa merugikan pesaingnya. Juga berakibat pada semakin murahnya akses informasi, harga barang, akibat pertumbuhan bisnis yang termediasi bigdata.

Kekuasaan atas informasi mengandaikan kekuasaan yang vis a vis antara produsen dengan konsumen. Sementara era data tidak. Konsumen tidak menjadi korban dari kapitalisme secara langsung, tetapi justru mengambil keuntungan darinya tanpa mengurangi apapun dari konsumen. Seperti pada fenomena tranportasi online yang membuat ongkos lebih murah dari pada sebelumnya.

Sehingga tidak ada kepentingan bagi dunia kapitalisme untuk menahan dan menguasai informasi. Alih-alih membaginya dan disebarkan secara luas. Konsumen bukan lagi sebagai objek semata, tetapi lebih menjadi mitra kolaboratif.

Dengan begitu, mungkin tak ada alasan menyatakan  bahwa dunia milenial  adalah dangkal secara intektual. Karena komunikasi zaman milenial sangat cair, pemikiran juga lebih mengalir. Mungkin saja tidak kritis tapi lebih positif dan integratif.

Jika pada dalam  kehidupan modern mengalami banyak kebuntuan dan tak  menemukan solusi. Justru pada masa milenial, menyediakan   lebih banyak dan lebih beragam solusi. Kuncinya,  dunia milenial cenderung tak kritis, tapi menciptakan dunia yang lebih integratif dan solusi secara kolaboratif.

Ilham Paulangi, Praktisi dan Magister Komunikasi, Tinggal di Jakarta.

 

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *