Bocah 13 Tahun Jadi Korban Pencabulan Ayah dan Kakak Kandungnya

Ilustrasi tindak kekerasan seksual terhadap anak. (Istimewa)
Bagikan:

Deli Serdang – Nasib nahas tengah dialami oleh DNS, bocah berusia 13 tahun yang menjadi korban pencabulan oleh ayah kandungnya, AA (54) dan kakak kandungnya, MI (16) selama dua tahun, 2018-2020. Tim Satuan Reskrim Polresta Deli Serdang, Sumatera Utara, menangkap keduanya di rumah yang terletak di Kecamatan Tanjung Morawa, Kamis malam, sekitar pukul 21.30 WIB (7/1/2021).

“Bapak kandung korban dan abang kandung korban telah mencabuli korban mulai tahun 2018 hingga 2020,” ujar Kasat Reskrim Polresta Deli Serdang Kompol M. Firdaus, Minggu (10/1/2021).

Menurut Firdaus, kasus ini terungkap setelah korban menceritakan persitiwa tersebut kepada kakak angkatnya. Mendengar itu, kakak angkatnya pun bercerita kepada ibu kandung korban, J (50). Ibu korban pun langsung melaporkan peristiwa nahas yang dialami putrinya tersebut ke Polresta Deli Serdang. Usai mendapatkan laporan dari ibu korban, polisi langsung bergerak cepat dan berhasil meringkus kedua pelaku di rumah mereka.

BACA JUGA :  Pandemi, Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan di DIY Naik Signifikan

Keduanya pun dijerat Pasal 81 Ayat (3) Subs Pasal 82 Ayat (1) Jo Pasal 76D, 76E UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling laam 20 tahun.

Sebelumnya, pada 7 Desember 2020 lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meneken Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2020. tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak. Pada PP tersebut tertuang pedoman bagi penegak hukum melakukan penindakan kebiri kima bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Tata cara mengenai tindakan kebiri kimia diatur dalam Pasal 1 ayat (2), yaitu pemberian zat kimia dengan cara disuntik atau menggunakan metode lain. Pada pasal tersebut juga disebutkan bahwa tindakan kebiri kimia diberikan kepada pelaku yang pernah dipidana karena praktik kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sehingga menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, untuk menekan hasrat seksual berlebih yang disertai rehabilitasi.

Sementara regulasi mengenai lama waktu kebiri kima diatur dalam Pasal 5, yakni maksimal dua tahun. Lalu untuk pelaksanaan diatur dalam Pasal 6, yaitu tindakan kebiri kimia dilakukan melalui tiga tahap (klinis, kesimpulan, dan pelaksanaan).

PP nomor 70 Tahun 2020 merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2OO2 tentang Perlindungan Anak. (Sdy/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *