BPBD Banjarmasin Ungkap Penyebab Banjir di Wilayah Kalsel

Warga yang berada di tengah banjir Kalimantan Selatan.
Warga yang berada di tengah banjir Kalimantan Selatan. (Foto: Intagram-Wawan)
Bagikan:

Banjarmasin – Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan saat ini tertimpa banjir bandang yang belum kunjung surut. Kendat curah hujan tidak tinggi namun banjir makin tinggi.

Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin, Herliansyah meyakini, air kiriman dari hulu menyebabkan banjir makin tinggi.

“Kondisi Kota Banjarmasin di hari ketiga banjir, dapat air kiriman dari hulu, selain itu air laut pasang, hingga genangan air makin tinggi,” ujar Herliansyah, Sabtu (16/1) seperti dilansir dari Antara.

Herliansyah mengatakan, Daerah Banjarmasin Timur, Sungai Laut, hingga Pengambangan terlihat air makin bertambah tinggi. Ia memprediksi ketinggiannya mencapai 30-40 centimeter di pemukiman. Seperti diketahui Banjarmasin sudah terendam sejak Kamis (14/1/21). Dan merupakan daerah paling hilir bagian Sungai Martapura. Bukan hanya itu Sungai Batang dan Sungai Tabuk yang ada di sekitarnya pun ikut meluap.

“Air dari sana tertumpu mengalir kebagian hilir Banjarmasin di Sungai Martapura. Di hari ketiga ini makin banyak yang mengungsi, di mana-mana sekarang mulai didirikan tempat pengungsian oleh masyarakat,” kata Herliansyah.

Sekitar lebih dari 500 jiwa di Banjarmasin Selatan yang sudah mengungsi baik di posko kecamatan maupun pengungsian swadaya masyarakat. Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kabupaten Balangan mencatat 3.571 rumah terendam banjir.

“Sebanyak 3.571 unit rumah terendam banjir di Kabupaten Balangan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati dalam keterangannya, Sabtu (16/1).

Sementara itu BPBD Kabupaten Balangan memperkirakan ketinggian air mencapai 50-150 cm. Yang mengakibatkan 11.816 jiwa di tujuh kecamatan terdampak banjir. “Untuk jumlah pengungsi yang telah dievakuasi masih dalam proses pendataan,” pungkas Raditya.

Sebagai informasi, saat ini, kondisi Indonesia menjadi wilayah yang rawan gempa dan banjir. Peristiwa alam tersebut sudah sering terjadi dan berulang. Sehingga sudah seharusnya pihak yang berwenang bisa melakukan berbagai langkah antisipasi dan mitigasi bencana.

BACA JUGA :  81,9 Persen Masyarakat Indonesia Percaya Program Pemulihan Ekonomi Pemerintah

Dalam hal mitigasi, tak ada salahnya kita melakukan perbandingan dengan Jepang. Strategi utama mitigasi Jepang adalah dengan membuat bangunan tahan gempa. Di Jepang, semua bangunan yang akan dibangun harus mengkuti aturan yang ditetapkan pemerintah. Bangunan yang dibuat harus memenuhi  syarat utama, antara lain bangunan dijamin tidak akan runtuh karena gempa  bumi dalam 100 tahun kedepan. Sehingga, di Jepang,  sangat jarang terdengar bangunan ambruk karena gempa.

Selain itu, Jepang juga memiliki sistem peringatan gempa atau warning system. Semua handphone di Jepang memiliki sistem peringatan gempa/tsunami yang dipasang. Sistem ini akan memberi peringatan sekitar 5 hingga 10 detik sebelum bencana terjadi, peringatan juga akan memberi tambahan waktu untuk melarikan diri ke tempat aman atau berlindung dibawah meja.Sementara, bagi yang tinggal disekitar pantai, karena memungkinkan terjadi tsunami, Jepang membangun sistem peringatan sekitar 5-10 menit sebelum tsunami datang.

Tidak hanya itu,  rakyat memahami literasi kebencanaan dengan sangat baik. Negara sakura tersebut sangat memperhatikan pengetahuan bagi semua warganya tentang kebencanaan, dan senantiasa melaksanakan simulasi. Simulasi bencana sudah mulai diajarkan sejak TK, sekolah lanjutan, hingga mahasiswa. Anak-anak diajarkan agar tidak panik saat terjadi bencana, melarikan diri dengan teratur dan tidak terburu-buru.

(FWI/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *