BPOM Berikan Penjelasan Efek Samping Vaksin Sinovac

Ilustrasi vaksin Covid-19.
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Foto: Pixabay)
Bagikan:

Jakarta – Penny Kusumastuti Lukito, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan mengungkapkan, secara keseluruhan uji klinik menunjukkan vaksin Sinovac aman dengan memiliki efek samping ringan hingga sedang.

“Memang vaksin ini memiliki efek samping seperti iritasi, pembengkakan, nyeri dan efek samping sistemik seperti rematik, nyeri otot dan demam,” ujar Penny dalam konferensi pers virtual di Jakarta.

Bacaan Lainnya

Penny mengatakan, vaksin sinovac berhasil menujukkan pembentukan antibodi di dalam tubuh. Selain itu, vaksin ini juga membantu pembentukan antibodi dalam membunuh atau menetralkan virus. Vaksin ini sudah menjalani uji klinik fase satu dan dua di Cina dengan periode pemantauan sampai dengan enam bulan.

Menurutnya, data imunogenitas menunjukkan data yang baik dalam uji klinik fase tiga di Bandung. Terbukti, dalam 14 hari usai penyuntikan dengan hasil kemampuan vaksin membentuk antibodi sebesar 99,74 persen. Sedangkan, dalam kurun waktu tiga bulan setelah penyuntikan, hasilnya 99,23 persen.

“Vaksin ini telah dicoba hingg tiga bulan setelah penyuntikan. Alhasil, antibodi dari vaksin ini masih tinggi dan hanya berkurang sedikit,” jelasnya.

Sebelumnya, Penny Lukito, telah mengumumkan telah mengeluarkan izin Emergency Use Authorization (EUA) vaksin Sinovac. Meski demikian, ia menegaskan masyarakat Indonesia harus tetap menerapkan protokol kesehatan yakni mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak).

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil uji klinis fase ketiga, efikasi vaksin Sinovac telah mencapai 65,3 persen. Penny mengartikan bahwa vaksin ini mampu menurunkan angka kasus Covid-19 hingga 65,3 persen.

BACA JUGA :  Ditahan KPK, Mantan Dirut PT Pelindo II Malah Merasa Senang

“Kami menilai vaksin ini mampu menurunkan angka Covid-19 hingga 65,3 persen. Penurunana angka ini akan sangat berarti di masa pandemi seperti ini. Namun, kita harus tetap melakukan langah preventif dengan melakukan protokol kesehatan 3 M. Tak hanya itu, masyarakat juga dianjurkan untuk tetap menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh,” papar Penny, Senin (11/1/2021).

Kendati demikan, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan data dari negara Turki dan Brasil. Berdasarkan data, Negara Turki telah mengeluarkan efikasi Sinovac sebesar 91,25 persen. Sedangkan, negara Brasil telah mengeluarkan efikasi Sinovac sebesar 78 persen.

Penny menambahkan, meski angka efikasi Sinovac negara Indonesia masih lebih rendah dari dua negara tersebut, namun syarat minimal WHO adalah 50 persen lebih.

Sebagai informasi, BPOM resmi mengumumkan keputusan terkait emergency use authorization (EUA) dalam sebuah jumpa pers virtual pada Senin (11/01/2021) . Konferensi pers virtual itu dihadiri Kepala BPOM Penny Lukito didampingi, Ketua MUI Komisi Fatwa dan Urusan Halal Asrorun Niam, Perwakilan WHO untuk Indonesia, Ketua ITAGI Prof dr Sri Rezeki, Ketua Umum IDI dr Daeng Muhammad Faqih, Dirut Bio Farma Honesti Basyir dan anggota Komisi Nasional Obat.

(FWI/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *