Buaya Banyak Aktivitas di Dekat Permukiman Warga, BKSDA Babel Diminta Cari Solusi

Alexander Fransiscus (Foto beritababel com)
Alexander Fransiscus (Foto beritababel com)
Bagikan:

Pangkalpinang – Aliran Sungai Baturasa di Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung (Babel) kini dijadikan sarang buaya. Anggota DPD RI Alexander Fransiscus meminta kepada warga untuk mewaspadai banyaknya buaya yang kini mulai mendekati permukiman.

“Mulai banyak buaya yang saat ini bersarang di dekat permukiman warga di Babel. Saya imbau masyarakat, terutama yang tinggal di dekat aliran sungai untuk waspada,” ujar Alexander Fransiscus, Selasa (19/1/2021).

Alexander meminta warga untuk hati-hati saat beraktivitas di sungai. Sebab beberapa kali terjadi ada korban yang diterkam oleh buaya.

“Buaya sering melintasi sungai yang mengarah ke pesawahan di beberapa desa di Kecamatan Merawang. Ini membahayakan warga yang sedang beraktivitas di sawah. Warga juga harus hati-hati saat beraktivitas di sungai, baik itu memancing atau berenang karena banyak kejadian warga diterkam buaya,” ujar Alexander.

Untuk diketahui, seorang warga di Desa Ranggi Asam Kecamatan Jebus, Bangka Barat, tewas diterkam buaya saat mandi di Kolong Ranggi Asam yang satu aliran dengan Sungai Antan. Banyak buaya diketahui berkeliaran di Sungai Antan dan kerap mengancam keselamatan warga.

Pada 2019 lalu, seorang bocah juga tewas digigit buaya saat mandi di sebuah sungai di Belitung Timur. Buaya juga ditemukan muncul di Pantai Putat Belinyu, Bangka. Kondisi ini membuat masyarakat terancam.

“Pemda harus segera mengatasi permasalahan ini karena jika terus dibiarkan seperti ini, akan semakin banyak jatuhnya korban,” kata Alexander.

Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bangka Belitung, konflik antara buaya dan manusia disebabkan oleh kerusakan habitat hidup buaya. Tempat hidup buaya semakin sempit akibat penambangan, pembangunan pabrik, perumahan dan perkebunan. Alexander memberi catatan soal ini.

BACA JUGA :  Senator Bastian: Kawasan Wisata Religi Mesuji Jadi Angin Segar Sektor Pariwisata Lampung

“Harus ada kebijakan yang melindungi habitat buaya. Kita harus menggali akar masalah kemarahan buaya yang menyebabkan mereka kemudian bersarang di dekat permukiman warga,” sebut anggota Komite II DPD RI itu.

Alexander meminta agar peningkatan kasus serangan buaya kepada manusia di Babel dilihat secara lebih luas. Sebab tidak mungkin buaya menyerang jika tidak terganggu aktivitasnya oleh manusia.

“Semakin habitatnya berkurang dan rusak, buaya juga semakin terdesak untuk berkembang biak. Di dekat aliran sungai, hutan, rawa-rawa tempat hidup buaya sekarang banyak aktivitas penambangan, pembangunan, maka mereka akhirnya lari ke arah permukiman,” terang Alexander.

Untuk itu, salah satu senator muda ini meminta Pemda segera mencari solusi atas konflik buaya dan manusia di Babel. Alexander menilai Pemda harus mengeluarkan peraturan mengenai pembatasan izin usaha penambangan, pembangunan pabrik, perumahan dan perkebunan di kawasan habitat buaya.

“Pembatasan izin usaha yang berada di dekat habitat buaya perlu dilakukan. Ini agar buaya tidak kehilangan tempatnya tinggal, sehingga tidak mengancam masyarakat,” tutur dia.

“BKSDA Babel juga perlu mencari solusi jangka pendek agar buaya tidak lagi bersarang di dekat permukiman warga. Karena keberadaan buaya membuat takut masyarakat yang hidup di sekitar aliran sungai,” sambung Alexander. (ijs/elz)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *