Dipolisikan Anak Kandung, Sumiatun Dijebloskan Ke Tahanan Polres Demak

A bersama kuasa hukumnya menunjukkan surat visum dokter. (Foto: LBH Demak)
Bagikan:

Semarang – Kemarau setahun dihapuskan oleh hujan sehari. Peribahasa ini sungguh sesuai dengan yang dialami Sumiatun, warga Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Wanita 36 tahun ini terpaksa meringkuk di ruang tahanan Mapolres Demak selama dua hari gara-gara dipidanakan oleh anak kandungnya, A (19).

Sejuta kasih sayang yang telah diberikan kepada putri kandungnya selama ini dibalas dengan laporan pidana setelah pertengkaran antara keduanya.

Kepala Bagian Operasional Satreskrim Polres Demak Iptu Mujiono mengungkapkan, Sumiatun dijerat Pasal 44 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT subsider Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. “Ancaman hukumannya 5 tahun penjara,” kata Mujiono.

Sebenanrnya polisi telah mengarahkan agar kasus ini berujung damai. Namun pelapor menolak. “Pelapor mengaku memaaafkan tetapi tak mau mencabut laporan,” tambahnya. Padahal perkara ini merupakan delik aduan, apabila pelapor mencabut niscaya penyidikan langsung dihentikan.

Persoalan ini berawal saat A pulang ke rumah ibunya di Demak pada Jumat (8/1) lalu. Sehari-hari A tinggal bersama ayahnya, tak lain mantan suami Sumiatun, di Jakarta.

Maksud kepulangan A ke Demak adalah untuk mengambil pakaian dan barang-barang yang masih ada di rumah ibunya itu.

Menurut Sumiatun, hubungannya dengan sang anak sudah tidak harmonis sejak anaknya ikut ayahnya ke Jakarta. Dalam hal perceraian Sumiatun dengan suaminya, anaknya selalu membela ayahnya.

Nah, saat A bermaksud mengemasi pakaiannya, Sumiatun yang dalam keadaan marah membuang semua pakaian anaknya itu ke lantai.

“Saya jengkel karena dia menentang saya terus,” katanya.

Pertengkaran itu memanas hingga Sumiatun melakukan tindakan fisik yang melukai wajah A. “Anak saya marah lalu mendorong saya. Refleks saya tarik kerudungnya tetapi wajahnya kena kuku saya sampai lecet,” ujar Sumiatun.

BACA JUGA :  Bantuan untuk Operasional Posko Covid-19 Tingkat Desa Masih Belum Merata

Perkara ini tak berhenti sampai di situ saja. Berbekal visum dokter, A yang berstatus mahasiswi ini mengusung laporan ke Polres Demak dan Sumiatunpun dijadikan tersangka.

Sejak menjadi tersangka, pedagang pakaian di Pasar Bintaro, Kota Demak itu ditahan di Mapolres.

Di Kabupaten Demak yang agamis, perkara ini mendapat perhatian media-media lokal dan menjadi perbincangan luas.

Perkara ini mencuri perhatian Anggota DPR RI Dedi Mulyadi. Anggota Komisi 4 DPR yang membawahkan masalah pertanian, kehutanan, dan perikanan ini kemudian turun ke Demak.

Bersama dengan Ketua DPRD Demak, Dedi mengajukan penangguhan penahanan. Setelah ditangguhkan, Sumiatun diperbolehkan pulang pada Minggu (10/1/2021) pagi.

Dedi, yang berkunjung ke rumah Sumiatun sempat membujuk A via telepon agar “membebaskan” ibunya. Dalam pembicaraan itu A mengaku memaafkan ibunya, akan tetapi menolak mencabut laporannya di kepolisian.

“Apapun latar belakang masalahnya, tidak sepantasnya seorang anak menjebloskan ibu kandungnya sendiri ke penjara,” kata Dedi.

Namun Dedi mengaku tetap optimis perkara ini tidak berujung sidang. “Sekeras-kerasnya hati anak, insya Allah pada akhirnya akan luluh juga,“ kata Mantan Bupati Purwakarta itu.

M Syaefudin, kuasa hukum A mengungkapkan, kliennya bersedia mencabut laporan jika sang ibu meminta maaf secara langsung. “Permintaan maaf itu tidak harus dilakukan secara tatap muka. Boleh melalui telepon, pesan singkat atau surat,” katanya. (Mjr/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *