Ditemukan Seaglider Milik Asing di Perairan Indonesia, KSAL: Belum Diatur Dalam Aturan Negara Kita

KSAL Yudo Margono
KSAL Yudo Margono
Bagikan:

Jakarta – Penemuan tanpa sengaja drone laut alias Seaglider oleh seorang nelayan saat memancing di Sulawesi hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

unmanned underwater vehicle (UUV) yang berbentuk seperti rudal tersebut ditemukan kemudian diangkat dari air oleh nelayan setempat pada tanggal 20 Desember lalu yang di dekat Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, tapi baru dilaporkan ke pihak berwenang enam hari kemudian.

UUV yang ditemukan tersebut memiliki panjang 225cm, dengan lebar sayap 50cm dan antena sepanjang 93cm.

Banyak pihak yang menyebut bahwa UUV yang ditemukan adalah milik China. Penemuan ini menjadi perhatian banyak pihak karena lokasi ditemukannya UUV dianggap strategis bagi Australia, yang menghubungkan Laut Cina Selatan dengan kota paling utara di Australia, yakni Darwin.

Namun hal itu kemudian dibantah oleh TNI AL yang membawa UUV ke Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) yang berlokasi di Ancol, Jakarta Utara.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menyebut, tak ada tulisan atau ada ciri-ciri tulisan yang menjadi penanda negara pembuat.

“Tidak ditemukan ciri-ciri tulisan negara pembuat,” Kata Yudo saat saat konferensi pers di Pushidrosal, Ancol, Jakarta Utara, Senin (4/1/2021).

Kepada awak media, Yudo menunjukkan kondisi UUV yang ditampilkannya itu tidak berubah, masih sama persis seperti saat ditemukannya

“Jadi tidak ada tulisan apa pun di sini. Kami tidak rekayasa, bahwa yang kami temukan seperti itu masih persis seperti yang ditemukan nelayan tersebut kita bawa ke sini (Jakarta),” ucap Yudo.

Yudo menjelaskan kronologi temuan UUV atau seaglider oleh seorang nelayan di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, sedang memancing. Benda tersebut ditemukan sekitar pukul 07.00 Wita pada 26 Desember 2020.

BACA JUGA :  Kejari Maros Tangkap Seorang Kakek 69 Tahun, Sudah Buron Selama 9 Tahun

“Jadi, alat itu ditemukan nelayan dan ini bentuknya masih persis seperti yang ditemukan. Alatnya ada di sini (di Jakarta). Jadi ini asli yang ditemukan nelayan tersebut pada 26 Desember pukul 07.00 (Wita), di mana saat itu nelayan (sedang) memancing,” ujar Yudo.

Yudo menambahkan, hingga saat ini Indonesia belum memiliki aturan khusus berkaitan dengan izin bagi negara lain untuk mengoperasikan Seaglider atau kendaraan bawah air otonom (drone) di wilayah perairan nusantara.

“Keberadaan alat ini juga belum diatur di dalam aturan negara kita,” ungkap Yudo saat menyampaikan konferensi pers di Gedung Pushidorsal, Ancol, Jakarta Utara, Senin (4/1).

Oleh karena itu, menurutnya akan lebih baik jika ada aturan khusus yang mengatur masuknya benda-benda asing yang dioperasikan negara lain tanpa kerjasama dengan Indonesia. Salah satunya drone mirip rudal atau kemudian seaglider yang ditemukan di perairan Selayar pada Desember 2020 lalu.

“Lebih baik ada Perpres yang mengatakan bahwa alat ini (seaglider) harus diatur (izinnya) di Indonesia. karena alat ini tidak punya identitas. Yang punya identitas adalah kapal perang, kapal perang negara atau kapal perang pemerintah yang punya identitas,” pungkasnya.

(Nad/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *