DPR Tekankan Perempuan Dan Anak Korban Gempa Mamuju Jadi Prioritas Bantuan

Bagikan:

JAKARTA – Anggota Komisi VIII DPR RI, Arwan Aras menegaskan, perempuan dan anak harus mendapatkan prioritas bantuan. Sebab, kebutuhan spesifik bagi perempuan dan anak kerap dilupakan pada saat peristiwa bencana.

Padalah bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, asupan gizi yang baik menjadi modal awal tumbuh kembang kedepannya. Sehingga, kebutuhan pokok tersebut harus dipenuhi oleh pemerintah pada saat memberikan bantuan.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA :  44 Pengungsi Tanah Longsor di Nganjuk Keracunan Mi Ayam

“Anak sebagai penopang masa depan bangsa juga harus menjadi prioritas dalam penerima bantuan. Kebutuhan gizi jangan sampai kurang walaupun sedang tertimpa bencana, lalu ibu-ibu di posko juga harus diperhatikan,” kata Arwan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/1/2021).

Mantan Ketua Pemuda Pancasila Mamuju Tengah ini mendukung langkah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), yang terjun langsung dalam membantu perempuan dan anak korban gempa.

“Kemen PPPA sudah bagus dengan menerjunkan tim untuk memenuhi kebutuhan spesifik perempuan dan anak korban gempa di Mamuju,” tambah Arwan.

Selain bantuan logistik, lanjut Arwan, posko-posko penampungan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan perempuan dan anak. Sehingga hak-hak perempuan dan anak dalam situasi darurat bencana dan di lokasi pengungsian tetap terpenuhi.

“Pada prinsipnya tenda ramah perempuan dan anak tersebut mengakomodasi kepentingan-kepentingan perempuan dan anak, termasuk trauma healing,” lanjut dia.

BACA JUGA :  Anggaran Pendidikan Keagamaan Minim, Jangan Beratkan Orangtua Murid

Berkaca pada gempa di Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) pada 2018 lalu, tenda pengungsian ramah anak sangat membantu dalam memulihkan mental pasca bencana.

“Tenda ramah perempuan saat gempa di Pasigala terbukti ampuh dalam memenuhi hak-hak perempuan dan anak. Nah, itu bisa diterapkan di gempa Mamuju sekarang,” pungkasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat Terdapat 27.850 orang pengungsi di 25 tempat pengungsian. Mereka tersebar di Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang serta Desa Limbua. (ijs/rls)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *