Dua Jempol untuk Kerja Densus 88, DPR Minta Operasi Tinombala Berbuah Manis

Bagikan:

JAKARTA – Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap 228 tersangka kasus terorisme sepanjang tahun 2020. Yang terbaru adalah penangkapan 23 teroris kelompok Jamaah Islamiyah pada November-Desember 2020.

Menariknya, dalam proses penangkapan tersebut, terdapat dua gembok pelaku yang cukup pandai dalam merakit bom dan taktik dalam menembar teror. Keduanya yakni Upik Lawanga dan Zulkarnain yang menjadi buron selama belasan tahun.

DPR memberikan apresiasi atas kerja keras dan dedikasi yang dilakukan Densus 88. Apalagi, keberhasilan Densus 88 berlanjut dengan upaya membongkar pusat latihan militer kelompok Teroris JamaahIslamiyah (JI) di JawaTengah.

BACA JUGA :  Senator Lampung Minta ASN P3K Tak Kecil Hati Saat Bekerja Meski Berstatus Kontrak

“Sekali lagi terima kasih atas kerja keras Densus 88. Berkat kejelian dan ketajamannya, gerakan yang masif yang dilakukan membuahkan hasil maksimal,” terang Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin, Senin (28/12/2020).

DPR meyakini, ke depan ada tantangan yang lebih berat dan membutuhkan energi dalam meredam aksi terorisme di seluruh daerah. Apalagi, pola yang dilakukan terorisme dalam mendukung gerakannya sangat beragam dan cepat beradaptasi dengan kondisi dan situasi sebuah daerah.

“Siklus mereka cepat berganti. Dan mampu beradaptasi dengan hal-hal sulit dalam mengumpulkan kekuatan. Kasus kotak amal, hingga terlibat dalam bisnis narkoba, merupakan bagian dari upaya untuk memberikan dukungan pendanaan dalam setiap pergerakan. Jelas ini harus kita waspadai,” paparnya.

Politisi Partai Golkar itu berharap, dengan terungkapnya tempat pelatihan para kader baru JI yang direkrut dari beberapa daerah menjadi sinyal kuat untuk mengungkap jaringan terlarang itu sampai akar-akarnya.

BACA JUGA :  Penerapan E-TLE di Lampung Disambut Baik Abdul Hakim

“Termasuk siapa saja yang bermain di belakang pelaku terorisme. Secara politis, kami menaruh curiga, seperti ada suplai besar yang diterima JI dan jaringan terorisme lainnya di Indonesia. Niatnya cuma satu, ingin menghancurkan bangsa ini,” tegasnya.

Azis Syamsuddin juga mendukung pelaksanaan Operasi Tinombala Satuan Tugas (Satgas) gabungan TNI-Polri dalam memburu sisa-sisa teroris kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

“Ketiak keputusannya kembali diperpanjang setelah berakhir pada Desember 2020, kami di DPR pun tentu memberikan suport terhadap keputusan tersebut,” jelasnya.

DPR berharap, dalam operasi tersebut, secara kuantitas personel Satuan Tugas (Satgas) Tinombala perlu ditambah dengan melibatkan unsur TNI. ”Untuk 2021 sebaikanya dilanjutkan. Jika memungkinkan diperlebar dengan keterlibatan TNI. Dengan ketambahan pasukan, mudah-mudahan cepat menyelesaikan masalahnya,” ujarnya.

BACA JUGA :  Bustami Zainuddin: Stabilitas Harga Beras di Lampung Harus Dipertahankan

Ditambahkan Azis, data dari Polri, saat ini sisa kelompok sipil bersenjata MIT Poso masih berjumlah 11 orang. Kondisi Medan di pegunungan Poso, Sigi dan Parigi Moutong, masih menjadi kendala untuk menangkap para pelaku.

Dari catatan yang diterima Azis, pelaksanaan Operasi Tinombala sendiri telah memasuki tahun ke lima, sejak digelar pada 2016 lalu. Hasil operasi ini membuat pimpinan awal MIT Poso, Santoso alias Abu Wardah dan beberapa anak buahnya tewas tertembak dan sebagian menyerahkan diri.

“Sekali lagi, DPR mengharapkan operasi ini berjalan dengan baik dan membuahkan hasil yang manis. Sejalan dengan operasi yang sudah cukup menyita waktu dan tenaga,” tegas Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut. (scio/ful)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *