Enam Daerah Zona Hitam, Bustami Zainudin: Belajarlah ke Daerah Lain yang Berhasi Tekan Wabah

Bagikan:

JAKARTA – Anggota Komite II DPD RI Bustami Zainudin kembali meminta warga lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan setelah enam daerah di Provinsi Lampung beralih ke zona merah atas merebaknya Virus Corona (Covid-19).

Enam daerah tersebut meliputi Kabupaten Lampung Utara, Lampung Barat, Tulangbawang, Way Kanan, Pesawaran, Pringsewu, Mesuji, Tulangbawang Barat, dan Pesisir Barat.

Sementara enam daerah yang beralih dari oranye menjadi zona merah meliputi Kabupaten Lampung Tengah, Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Tanggamus, Kota Bandarlampung, dan Kabupaten Lampung Selatan.

Atas kondisi ini, mantan Bupati Way Kanan berharap Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten/Kota lebih tanggap terhadap situasi dan kondisi saat ini. Terlebih Lampung menjadi pintu gerbang pulau Sumatera dimana banyak masyarakat keluar masuk, kewaspadaan perlu ditingkatkan.

“Zona merah artinya sebaran virus tidak terkendali. Kalau ada daerah lain, berhasil melakukan menekan sebaran wabah, jangan sungkan dan malu untuk kita belajar dengan daerah tersebut. Ini bukan persoalan gengsi, ini soal keselamatan jiwa masyarakat Lampung sendiri,” terang Bustami Zainudin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/1/2021).

Cara paling sederhana dan ampuh dalam menekan laju sebaran Covid-19, lanjut Bustami, hanya dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. “Ayo tumbuhkan kesadaran masyarakatnya. Tegas dalam mengambil kebijakan, tegas bukan berarti keras. Tapi ini upaya mendisiplinkan masyarakat,” terang Bustami.

Di sisi lain, Bustami juga meminta kepada Pemprov Lampung maupun Pemerintah Kabupaten/Kota untuk membuka pelayanan seluas-luasnya tes swab maupun antigen bagi masyarakat.

Selain itu memberikan kesempatan poliklinik maupun puskesmas membuka pelayanan yang sama. Langkah ini akan menumbuhkan kesadaran masyarakat, untik mengetahui sejauh mana kesehatan diri tengah sebaran wabah yang terus mengancam.

BACA JUGA :  Hampir Satu Tahun, Warga Masih Belum Percaya Korona Ada

“Ilustrasinya sederhana saja. Jam pelayanan bagi masyarakat yang ingin tes swab maupun antigen di RSUD Abdoel Moeloek dibuka layaknya jam kerja. Dari pagi hari hingga sore. Sayang kalau ada yang datang, tiba-tiba petugasnya tidak ada. Bagaimana mau menekan sebaran wabah, sementara petugas kesehatannya saja tak peduli,” tandas Bustami.

Ia juga berharap, Universitas maupun perguruan tinggi di Lampung lebih kreatif dan mampu memberikan kontribusi dalam menekan sebaran wabah. Tekhnologi yang berkembang menuntut semua elemen lebih peka dalam menerapkan ilmu dan pengetahuan untuk kehidupan dan lingkungan dewasa ini.

“Yuk kita contoh Universitas Gadjah Mada (UGM). Kontribusinya dengan menciptakan GeNose memberikan angin segar terhadap upaya mendeteksi dini paparan Virus Corona. Kontribusi semacam ini berguna bagi bangsa,” ungkap Bustami.

GeNose, sambung Bustami, dibanderol dengan harga murah. Alat ini bisa dengan cepat mendeteksi Covid-19 hanya dengan embusan nafas dan dalam waktu tidak lebih dari tiga menit.

“Tanamkanlah sisi kreativitas dan terobosan. Ini berguna bagi bangsa. Pemerintah daerah pun jangan diam. Jemput bola. Bangkitakn semangat generasi muda untuk terus berkarya. Hal positif walau kecil, Insya Allah bermanfaat bagi sesama,” tutur Bustami. (ijs/ful)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *