Epidemiolog Griffith University: Di Indonesia, Pandemi akan Selesai Hingga 2024

Ilustrasi lalu lintas jalan saat pandemi diberlakukan PPKM Jawa-Bali.
Ilustrasi lalu lintas jalan saat pandemi diberlakukan PPKM Jawa-Bali. (Foto: Jasa Marga)
Bagikan:

Jakarta – Saat ini, kondisi Indonesia diprediksi hingga enam bulan ke depan akan memasuki masa kritis. Melihat kondisi seperti ini, Dicky Budiman, epidemiolog Griffith University menegaskan, pemerintah dan masyarakat Indonesia harus bekerjasama untuk mengendalian pandemi ini

Ia mengungkapkan, kesehatan adalah aspek penting yang harus didahulukan dan tidak dapat dinegosiasi dengan kepentingan lainnya. Menurutnya, jika tidak didahulukan terlebih dahulu, maka pandemi di Indonesia baru akan mereda pada 2024.

Dicky menyatakan, aspek kesehatan ini terpinggirkan dan tidak menjadi prioritas. Maka dari itu, penguatan tes, lacak, dan isolasi (TLI), PSBB, serta peran protokol kesehatan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas (5M) hanyalah jargon biasa.

“Bila ingin mencegah pandemi, namun masih dibarengi dengan kepentingan ekonomi harus terus berjalan, maka akan sangat sulit. Sebetulnya, inti dari permasalahan pandemi, komitmen dan konsistensi sehingga hasilnya tidak setengah-setengah,” ujarnya saat dihubungi Suara Pembaruan, Jumat (9/1/2021).

Dicky menambahkan, saat ini Indonesia mengandalkan TLI menjadi strategi utama pengendalian Covid-19 selama lebih dari 10 bulan ini. Namun, hal tersebut masih jauh dari kata optimal, dengan alasan belum memadai. Bila melihat dari aspek testing, diharuskan sesuai dengan skala jumlah penduduk. Dengan perhitungan minimal, 1 tes per 1.000 orang per minggu.

“Usai skala minimal itu terpenuhi, maka dilihat kembali, apakah sesuai dengan eskalasi pandemi dengan angka tes positivity rate. Bila masih di angka 5%, maka saya menyarankan skalanya harus ditingkatkan lagi,” tutur Dicky.

Dicky menjelaskan, positivity rate merupakan angka rujukan dengan eskalasi pandemi minimal 5%. Yang menjadi permasalahan, kata Dicky, Indonesia sejak awal pandemi itu selalu di atas 10% hingga 20%.

BACA JUGA :  Sentil Jokowi, Pengamat Sebut Kebijakan PPKM Setengah Hati

“Ini bisa diartikan, Indonesia bukan hanya, di bawah angka tidak cukup, namun sangat tidak cukup atau di bawah standar pada umumnya,” pungkasnya.

Senada dengan Dicky, Tri Yunis Miko Wahyono, salah satu Epidemiolog dari Universitas Indonesia meyakini penyebaran Covid-19 di Jakarta akan turun dalam pertengahan tahun 2021.

“Meski akan turun, namun tetap tak boleh menurunkan pengetatan protokol kesehatan di DKI Jakarta,” ujar Tri saat dihubungi media, Rabu (13/1/2021).

Ia menjelaskan, alasan penurunan Covid-19 lantaran pemerintah sudah memulai untuk melakukan vaksinasi di sejumlah daerah yang memasuki zona merah, termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya.

“Saya mengharapkan dengan vaksinasi ini bisa mengurangi bahkan menghilangkan wabah Covid-19. Meski demikian, saya mengingatkan bahwa vaksin ini bukanlah senjata utama untuk melawan virus Covid-19,” tandasnya.

Setelah divaksin, masyarakat harus tetap menjaga prosedur kesehatan. “Bahkan sampai pertengahan tahun depan,” ujarnya.

Tri Yunis mengimbau masyarakat tetap harus menerapkan protokol kesehatan hingga pertengahan tahun.

“Wabah ini, kami perkirakan akan segera turun hingga 50 persen pada pertengahan tahun mendatang. Seluruh wilayah Indonesia diprediksi juga akan berubah status menjadi epidemik yang bisa diartikan wabah sudah menurun dan dapat dikendalikan,” ujarnya.

(FWI/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar