Gempa Bumi Sulbar dan Banjir Kalsel Dominasi Perbincangan Media Pekan Ini

Bagikan:

Jakarta – Perbincangan di media sosial  saat ini sedang diramaikan  dengan topik peristiwa bencana, diantaranya adalah peristiwa gempa bumi dan bencana banjir yang melanda berapa daerah di Indonesia. Titik bencana paling banyak diberitakan dan diperbincangkan adalah peristiwa banjir Kalimantan Selatan dan bencana gempa bumi di Sulawesi Barat.

Berdasarkan bacaan mesin big data Sciograf, Share Index perbincangan warga net seputar bencana mengalami kenaikan drastis satu minggu terakhir ini, dalam kurun waktu 8-15 Januari 2021.

Hari ini, (15/01/2021) pukul 13.00 peristiwa gempa bumi, mendapatkan perbincangan dengan share index 5.316 kali, sementara untuk bencana banjir mendapatkan share index 450 kali.  Share index di sini adalah total  nilai agrerat dari semua data, baik berupa  publikasi, mention di twitter, facebook, intagram, dan konten youtube. Singkatnya, kita sebut  saja sebagai perbincangan.

Di twitter misalnya, pada waktu yang sama, masalah gempa diperbincangkan sebanyak 6,854 kali perbincangan atau sekitar 44%, dan banjir 7.880 kali perbincangan atau sekitar 50% persen dari total perbincangan tentang bencana di Indonesia.

Kecenderungan di media pemberitaan juga demikian, terdapat sebanyak 2,733 perberitaan tentang banjir atau sekitar 55.3 persen dan gempa sebanyak 1,264 kali pemberitaan atau sekitar 25.7 persen persen dari total pemberitaan tentang bencana. Puncak pemberitan media soal banjir, terjadi di tanggal 8 januari 2021, sementara pemberitaan gempa mendapat perhatian yang tinggi pada 15 Januari 2021.

Perhatian warga net, hari ini tertuju pada kejadian gempa susulan yang terjadi di Sulawesi Barat yang dikabarkan menelan korban jiwa dan harta benda. Pada Jumat (15/1/2021) sekitar pukul 02.30 Wita terjadi gempa susulan dengan getaran lebih kuat, magnitudo 6,2, mengguncang wilayah Sulawesi Barat (Sulbar). Gempa pertama, terjadi Kamis (14/1/2021), gempa dengan magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Majene sekitar pukul 14.30 Wita.

BACA JUGA :  TNI Copot Baliho Habib Rizieq, FPI: Kok Sampai Segitunya Ngurusi Ormas

Menanggapi soal banjir misalnya, akun resmi Kementerian Agama RI @Kemenag_RI membuat tweet “Keluarga besar Kementerian Agama turut berduka atas peristiwa banjir bandang di Kalimantan Selatan. Semoga para korban diberi ketabahan dan kesabaran. Aamiin”, sambil juga memasang poster pray for Kalimantan Selatan pada cuitannya.

Sementara tanggapan untuk gempa bumi Sulbar, ditanggapi  sebuah akun bernama Irwan_Jafaruddin @IJafaruddin. Akun tersebut  men-tweet memohon pertolongan, lantaran dua anaknya terjebak reruntuhan gedung di Sulawesi Barat.

“Masih korban akibat gempa di Sulawesi Barat yang terjadi sekitar pukul 02.20 WITA dengan kekuatan 6,2 SR. Dua anak terjebak reruntuhan gedung. Mohon doanya.” cuit akun tersebut sambil memberi hastag @ @jokowi @BNPB_Indonesia @Kemenag_RI

Seperti diketahui bencana di Sulbar memang melululatakkan kota Mamuju dan sekitarnya. Dari data yang dikumpulkan oleh BNPB, Jumat (15/1/2021), setidaknya beberapa kerugian sudah didentifikasi. Diantaranya, Kantor Gubernur Sulbar Ambruk dan Hotel Maleo Mamuju mengalami rusak berat.

BNPB, berdasarkan update per Jumat (15/1), pukul 06.00 WIB, juga telah mengidentifikasi korban jiwa 3 orang, 24 orang luka-luka, dan sekitar 2.000 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, Listrik di Mamuju juga dilaporkan padam.

Kondisi Indonesia, memang merupakan wilayah yang rawan gempa dan banjir. Peritiwa alam tersebut sudah sering terjadi dan berulang. Sehingga sudah seharusnya pihak yang berwenang bisa melakukan berbagai langkah antisipasi dan mitigasi bencana.

Dalam hal mitigasi, tak ada salahnya kita melakukan perbandingan dengan Jepang. Strategi utama mitigasi Jepang adalah dengan membuat bangunan tahan gempa. Di Jepang, semua bangunan yang akan dibangun harus mengkuti aturan yang ditetapkan pemerintah. Bangunan yang dibuat harus memenuhi  syarat utama, antara lain bangunan dijamin tidak akan runtuh karena gempa  bumi dalam 100 tahun kedepan. Sehingga, di Jepang,  sangat jarang terdengar bangunan ambruk karena gempa.

BACA JUGA :  Libatkankan Pakar dan Akademisi, MPR Segera Susun Rancangan PPHN  

Selain itu, Jepang juga memiliki sistem peringatan gempa atau warning system. Semua handphone di Jepang memiliki sistem peringatan gempa/tsunami yang dipasang. Sistem ini akan memberi peringatan sekitar 5 hingga 10 detik sebelum bencana terjadi, peringatan juga akan memberi tambahan waktu untuk melarikan diri ke tempat aman atau berlindung dibawah meja.Sementara, bagi yang tinggal disekitar pantai, karena memungkinkan terjadi tsunami, Jepang membangun sistem peringatan sekitar 5-10 menit sebelum tsunami datang.

Selain itu,  rakyat memahami literasi kebencanaan dengan sangat baik. Negara sakura tersebut sangat memperhatikan pengetahuan bagi semua warganya tentang kebencanaan, dan senantiasa melaksanakan simulasi. Simulasi bencana sudah mulai diajarkan sejak TK, sekolah lanjutan, hingga mahasiswa. Anak-anak diajarkan agar tidak panik saat terjadi bencana, melarikan diri dengan teratur dan tidak terburu-buru. (ilp/ijs)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *