Hallyu, Demam Budaya Korea di Seluruh Dunia

Ilustrasi : static.cultura.id
Bagikan:

Jakarta – Industri populer dunia yang dulunya dikuasai budaya pop Amerika dan Jepang, kini didominasi budaya Korea Selatan. Seluruh dunia mengalami demam budaya pop Korea, baik melalui drama (K-drama), musik (K-pop),  film (K-film), fesyen (K-fashion), makanan (K-food) dan kecantikan (K-beauty). Demam budaya Korea sangat populer  dengan sebutan, Hallyu.

Hallyu, intinya adalah gelombang budaya pop Korea (Korean Wave). Biasanya, negara yang terkena pengaruh Hallyu,  cenderung untuk berusaha mempelajari budaya dan bahasa Korea.

Fenomena Hallyu muncul tahun awal tahun 1990a-an,  saat drama televisi Korea mulai diputar di Tiongkok dan menyebar ke negara-negara lain di Asia, termasuk Indonesia. Tak sampai disitu saja, gelombang budaya Korea ini berlanjut pada menyebaran produk Korea Selatan, seperti masakan, barang elektronik, musik dan film.

Proses ini menyebabkan budaya Korea menyebar ke berbagai negara,  melalui film dan drama televisi, yang diikuti dengan masuknya K-pop, manhwa, bahasa Korea, dan masakan Korea. Segala macam yang berbau Korea turut digemari anak-anak muda diseluruh dunia, termasuk gaya hidupnya.

Proses utama yang memuluskan  penyebaran buadaya Korea tersebut adalah kesukaan orang terhadap drama Korea. Drama televisi lah yang pertama kali memicu Hallyu. Beberapa judul drama yang sulit dilupakan  Winter Sonata, Dae Jang Geum, Stairway to Heaven, Beautiful Days,  Hotelier.  Menurut catatan Wikipidia, dari tahun 2002-2005 drama-drama Korea yang populer di Asia termasuk Indonesia antara lain Endless Love, Winter Sonata, Love Story in Harvard, Glass Slippers, Stairway to Heaven, All In, Hotelier, Something Happened in Bali, dan I’m Sorry, I Love You.  Kemudian muncul pula drama Full House, Sassy Girl Chun Hyang, Lovers in Paris, Princess Hours, My Lovely Sam Soon, My Girl, Hello! Miss, dan Coffee House.

BACA JUGA :  Upacara Mappanretasi, Objek Wisata Bahari Andalan Kalsel

Genre drama berlatar belakang sejarah ikut mencetak rating tinggi, antara lain drama Dae Jang Geum, Queen Seon Deok, Hwang Jini, hingga Jumong. Tahun 2008-2009, drama Korea yang banyak mendapatkan perhatian adalah Boys Before Flowers (BBF).

Beberapa drama Korea yang teranyar dan masuk dalam rating tertinggi diantaranya The Uncanny Counter di OCN, Mr. Queen, True Beauty, Run On, She Would Never Know , A Man in a Veil, Love (ft. Marriage and Divorce), Awaken, Homemade Love Story, Royal Secret Agent. Dapat dipastikan, semua ini akan menambah popularitas  Korean pop.

Ciri utama dari drama korea adalah plot ceritanya yang amat kuat. Kemudian dari segi genre juga sangat bervariasi. Keunggulan lainnya adalah karena akting para bintang korea kelihatan sangat natural,  membuat penonton  mudah terharu, bahkan menangis.

Demikian halnya, dari sisi tema cerita, sangat cocok dengan warga asia, yang banyak berkisar pada tema kesejatian cinta dan pengorbanan, serta pentingnya kerja keras.

Saking  populernya,  drama televisi Korea ini,   tempat pengambilan gambarnya pun bisa menjadi destinasi wisata.  Tempat syuting tersebut sangat diminati para pelancong untuk sekedar berfoto dan menemkan sensasi dan keseruan. Dan tentunya dapat mendatangkan banyak devisa.

Sejalan dengan semakin populernya drama Korea, muncul pula berbagai kelompok boyband, beberapa kelompok yang terkenal dan go internasional diantaranya  SM Entertainment, seperti TVXQ, Super Junior, BTS, SuperM, NCT, SEVENTEEN, Stray Kids, MONSTA X, TXT, ATEEZ, GOT7, TREASURE, CRAVITY, dsb. Para personil grup band tersebut adalah anak-anak muda yang jadi idola dan inspirasi di seluruh dunia.

Selain itu, Hallyu juga berdampak pada meningkatnya popularitas makanan Korea, mulai cara menghindangkan hingga cara memasaknya. Dari makanan rakyat sampai makanan istana, semua dipopulerkan dan menyebar di seluruh dunia.

BACA JUGA :  Nobar Film De Toeng Asal Makassar, Muhajir Effendy: Daerah Bisa Jadi Pusat Perfileman

Hal yang perlu diketahui, gelombang budaya pop Korea, bukan hadir begitu saja, melainkan melalui suatu strategi politik kebudayaan. Bahkan budaya pop Korea Selatan, merupakan bagian dari program pemerintahnya, serta diperuntukkan sebagai alat diplomasi budaya.

Diplomasi budaya Korea,  sebagai salah satu kekuatan andalan negara mereka, yang disebut dengan kekuatan soft power. Maksud soft power  adalah bagaimana sebuah negara memengaruhi negara lain, tanpa kekuatan politik atau angkatan bersenjata.

Ranny Rastati, Peneliti PMB LIPI, mengutip, buku (The Soft Power; 2018), dalam pmb.lipi.go.id, bahwa gelombang budaya pop Korea, menjelma menjadi salah satu sarana diplomasi Korea Selatan dengan negara-negara lain. Korea Selatan termasuk dalam jajaran tiga puluh negara di dunia yang memiliki kekuatan soft power. Pada tahun 2018, negara ginseng ini menempati posisi kedua untuk negara soft power di Asia. Sementara Indonesia menempati posisi kesembilan untuk negara soft power tingkat Asia setelah Jepang, Korea Selatan, Singapura, China, Taiwan, Thailand, Malaysia, dan India.

Perkembangan Hallyu, secara langsung memengaruhi kinerja pariwisata Korea Selatan. Pada tahun 2004 kunjungan wisata sebagai efek dari Hallyu, mencapai pemasukan 825 juta dollar. Angka ini meningkat tajam di tahun 2011,   pemasukan pariwisata mencapai 937 juta dollar.  Beberapa penelitian menyatakan bahwa peningkatan tersebut dipicu oleh penyebaran korea ke seluruh dunia. Buktinya, sebanyak 28.3% orang Hongkong yang berkunjung ke Korea Selatan menyatakan terpengaruh oleh K-drama, angka itu masih lebih kecil dibandingkan jumlah wisatawan Hongkong yang berkunjung ke negeri ginseng karena K-food (Oxford Economics, 2014: 13). Bahkan sebenarnya ketertarikan terhadap K-food juga merupakan pengaruh dari K-drama.

Pemerintah Korea sendiri sangat mendukung dan memiliki peran dalam mewabahnya Hallyu ke seluruh dunia. Dukungan tersebut diwujudkan dengan menghindarkan diri dari serangan industri hiburan dari negeri Barat. Hal ini menjadikan orang Korea berusaha menciptakan produk-produk media massanya sendiri. Selain itu dukungan dari pemerintah juga diwujudkan melalui berbagai acara kesenian seperti festival-festival film dan musik bertaraf internasional.

BACA JUGA :  Ma'raga, Tradisi Permainan Bugis yang Masih Bertahan

Seiring dengan penyebaran telepon genggam Samsung ke seluruh dunia, Korea Selatan kemudian mampu menjadi negara yang memiliki kekuatan ekonomi melalui budaya populernya. Dan dari kekuatan soft power, melalui Hallyu, menjadikannya Korea Selatan sebagai negara yang relatif berpengaruh di dunia. (ilp/ijs)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *