Harga Ikan Melonjak Tinggi di Babel, Alexander Fransiscus: Dampak Cuaca Buruk

Anggota Komite II DPD RI, Alexander Fransiscus
Anggota Komite II DPD RI, Alexander Fransiscus
Bagikan:

Pangkalpinang – Harga ikan laut segar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melonjak tinggi menyusul berkurangnya stok di pasaran lantaran faktor cuaca buruk. Anggota DPD RI daerah pemilihan (dapil) Babel, Alexander Fransiscus menilai fenomena kenaikan harga ikan saat musim penghujan bisa disiasati dengan teknologi pangan yang maksimal.

“Masalah kenaikan harga ikan ini kan karena tangkapan nelayan kurang akibat cuaca buruk, hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi yang membuat nelayan jarang melaut. Fenomena ini terjadi setiap tahunnya,” ungkap Alexander Fransiscus, Senin (1/3/2021).

Pedagang ikan di Babel terpaksa menaikkan harga ikan karena harga dari pelelangan juga mahal. Pasokan ikan terbatas juga disebabkan banyak perusahaan yang menjual ikan ke luar Babel.

Beberapa jenis ikan yang mengalami kenaikan seperti ikan kerisi merah dari sebelumnya Rp 30.000 menjadi Rp 80.000 per kilogram. Kemudian ikan dencis dari Rp 15.000 naik menjadi Rp 30.000 per kilogram, ikan ciu dari Rp 20.000 naik menjadi Rp 45.000.

Bahkan stok ikan air tawar seperti lele di Babel saat ini kosong di pasaran. Alexander menyebut, pemerintah daerah perlu mendorong agar pelaku industri perikanan lebih memaksimalkan teknologi bahan pangan.

“Sudah menjadi hukum pasar ketika stok sedikit dan permintaan tinggi, maka harga bahan kebutuhan jadi akan naik. Hal ini harus disiasati. Kita tahu fenomena kenaikan terjadi saat panceklik ikan, nelayan bisa memaksimalkan penggunaan coldstorage sehingga bisa menggunakan sistem penyimpanan ketika musim ikan tiba,” kata anggota Komite II DPD RI yang membidangi urusan kelautan dan perikanan tersebut.

Untuk itu, Alexander berharap agar Pemda Babel bisa memberikan bantuan untuk mengoptimalkan tangkapan nelayan. Dengan demikian, nelayan bisa menggunakan simpanan ikan untuk dijual ketika pasokan hasil melaut sedang minim.

BACA JUGA :  Corona Merajalela di Babel, Alexander Fransiscus Angkat Bicara Soal Penanganan

“Pemprov maupun Pemkab dan Pemkot diharapkan memberikan bantuan maupun subsidi berupa coldstorage dan fasilitas penunjangnya kepada nelayan. Bisa beruapa bantuan langsung, maupun sistem koperasi. Tentunya ini akan sangat membantu masyarakat,” sebut Alexander.

“Selain memastikan pendapatan nelayan tetap terjamin saat sedang kesulitan melaut, sistem teknologi hasil tangkapan ikan ini juga memastikan pasokan ikan di pasaran tetap aman sehingga tidak terjadi lonjakan harga,” tambah senator muda ini.

Musim cuaca buruk yang biasa terjadi di akhir dan awal tahun memang membuat hasil tangkapan ikan nelayan tidak maksimal. Selain itu, potensi kecelakaan yang mengancam nyawa nelayan juga terjadi di musim-musim tersebut. Pemerintah juga diminta untuk memperhatikan daerah yang belum memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

“Seperti di Beltim ini kan TPI di Manggar belum jadi dioperasionalkan karena Covid, jadi nelayan terpaksa menjual langsung ke tengkulak. Akibatnya nelayan harus pasrah menerima harga yang ditawarkan tengkulak yang cenderung kurang menguntungkan. Pemda perlu memperhatikan lagi masalah ini,” tutur Alexander.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Menurutnya, pemerintah daerah harus memastikan peningkatan kesejahteraan para nelayan.

“Apalagi di musim hujan yang menyebabkan cuaca buruk sering terjadi. Nelayan kesulitan melaut, sehingga tangkapannya pun jadi berkurang. Pemda harus memberikan solusi jangka panjang mengatasi permasalahan yang akan berdampak dengan pasar,” ucap LaNyalla. (elz/ijs)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *