Harga Naik 20 Persen, Produsen Tahu Tempe Minta Maaf

Pengrajin tahu tempe
Pengrajin tahu tempe
Bagikan:

Jakarta – Dengan berat hati, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) akhirnya mengumumkan kenaikan harga penjualan tahu tempe di kisaran 10 persen hingga 20 persen hari ini, Sabtu (2/1/2021).

Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan tersebut merupakan usulan, desakan dan permintaan dari anggota perajin tempe dan tahu di berbagai wilayah di Indonesia.

“Gakoptindo sebagai wadah koperasi tahu tempe tingkat nasional mendukung usulan dari anggota-anggota perajin tempe tahu di seluruh Indonesia untuk menaikkan harga tempe dan tahu antara 10 sampai dengan 20 persen,” ujarnya Aip

Sejalan dengan kenaikan harga tahu tempe tersebut, Gakoptindo pun meminta maaf kepada warga Jabodetabek, kepada seluruh masyarakat di Indonesia, terutama kepada rakyat kecil sebagai konsumen utama tahu tempe dan para pecinta tahu dan tempe.

“Kami mohon kepada seluruh masyarakat Indonesia pecinta makanan tempe dan tahu agar dapat memakluminya dan kami mohon maaf atas hal itu,” ucap Aip

Aip menyampaikan bahwa kenaikan telah mempertimbangkan harga kedelai impor yang terus melambung. Untuk itu, ia pun meminta pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) memikirkan hal ini mengingat besarnya kebutuhan kedelai sebagai bahan baku utama tahu tempe, dan berharap masyarakat mau memaklumi kondisinya.

“Kami sudah minta ke Kementan untuk jangka panjang tingkat produksi. Ini lah momentumnya. Karena kalau kedelai impor naik tinggi pasti produsen lebih memilih kedelai lokal daripada impor,” tuturnya.

Perlu diketahui, hampir semua kedelai untuk bahan baku tahu dan tempe diimpor dari negara seperti Amerika Serikat, Brazil dan beberapa negara lainnya.

Pada 2019, misalnya, Indonesia mengimpor 2,63 ton kedelai untuk tahu dan tempe. Sedangkan kedelai lokal hanya sekitar 400-500 ribu ton.

BACA JUGA :  Teka Teki Mayat Terapung di Sungai KBB Tambora Belum Terungkap

“Kebutuhan nasional satu tahun itu kurang lebih 3 juta ton. Harga kedelai dari Rp6.000 lebih sebelum pandemi, sekarang di berbagai daerah tidak ada yang di bawah Rp8.000 ada yang Rp8.500 Rp8.200 dan lain-lain. Harganya naik 20-30 persen,” tutur Aip.

Ditambah lagi, para perajin tempe dan tahu merasa kondisi perekonomian mereka semakin sulit di tengah pandemi covid-19. Permintaan tempe juga susut sekitar 5 persen.

“Karena itu, kami koordinasi dengan para pedagang di daerah ada yang baik dan 10 persen ada yang 15 persen maksimal 20 persen, kenaikan dimulai dari 1 Desember kemarin,” tandasnya.

(Nad/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *