Industri Penerbangan Terjangkit Covid-19, Delapan Bandara Internasional Akan Turun Kelas

Maskapai penerbangan dalam negeri, di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten
Bagikan:

Jakarta – Pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan perekonomian dunia. Industri pariwisata dan transportasi masuk dalam daftar paling atas terkena dampaknya.

Kondisi ini juga menimpa industri penerbangan nasional. Kenyataan ini membuat maskapai penerbangan harus menelan pil pahit, memberhentikan karyawannya. Garuda Indonesia telah merumahkan 700 pekerjanya lebih cepat sebelum masa berakhir kontrak.

Mereka yang dirumahkan meliputi pilot, awak kabin, teknisi dan karyawan pendukung lainnya dengan skema unpaid leaving atau dipulangkan tanpa gaji.

Lion Air juga mengambil langkah serupa. Maskapai dengan armada terbanyak di Indonesia ini tidak memperpanjang kontrak 2.600 karyawannya yang bekerja untuk Lion Air, Batik Air, dan Wings Air.

Langkah ini ditempuh untuk dapat berhibernasi selama masa pandemi yang ujungnya tidak diketahui.

Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Denon Prawiratmadja mengatakan, sejak awal Maret lalu semua maskapai penerbangan sudah mengurangi jadwal terbang hingga 50 persen atau lebih.

Selain maskapai, pihak pengelola bandara juga dalam masalah besar. Sampai saat ini, setahun dari awal pandemi menyerang, okupansi penumpang masih di angka 35 persen.

BACA JUGA :  Sriwijaya Air Jatuh Saat Kondisi Perusahaan Sedang Sakit

Vice President Corporate Communications Angkasa Pura II, Yado Yarismano mengungkapkan, lalu lintas pada bandara yang dikelolanya hanya mencatatkan 45.000-47.000 pergerakan per hari, yang berarti hanya 30%-35% dari frekuensi normal.

Kondisi ini masih sedikit lebih baik daripada di awal pandemi, yang angkanya di bawah 10.000 pergerakan per hari. Di titik terendahnya, sehari Angkasa Pura II hanya melayani 1.000 penumpang dalam satu hari di 19 bandara yang dikelolanya.

Angkasa Pura II mengelola 19 bandara, yaitu Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma (Jakarta), Kualanamu (Medan), Supadio (Pontianak), Minangkabau (Padang), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Husein Sastranegara (Bandung), Sultan Iskandarmuda (Banda Aceh), Raja Haji Fisabilillah (Tanjungpinang), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir (Pangkal Pinang), Tjilik Riwut (Palangkaraya), Silangit (Tapanuli Utara), Kertajati dan Banyuwangi.

Menyikapi tekanan ekonomi yang makin berat, Kementerian Perhubungan mengusulkan 8 bandara internasional diubah statusnya menjadi bandara domestik. Kedelapan bandara tersebut meliputi Bandara Maimun Salah (Sabang), RH. Fisabilillah (Tanjung Pinang), Radin Inten II (Lampung), Pattimura (Ambon), Frans Kaisiepo (Biak), Banyuwangi (Banyuwangi), Husein Sastranegara (Bandung) dan Mopah (Merauke).

Langkah ini penting dilakukan untuk menghemat biaya operasional di tengah sepinya perjalanan.

Bandara-bandara yang diusulkan turun kelas itu hanya memiliki sedikit penumpang ke luar negeri pada maa pandemi ini.

Padahal untuk menjalankan bandara internasional, harus ada kantor cabang imigrasi, karantina, dan berbagai layanan lainnya yang memakan biaya.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, secara kumulatif (Januari–September 2020), jumlah kunjungan ke Indonesia hanya 3,56 juta wisatawan, yang berarti turun sebesar 70,57%. Normalnya, jumlah kunjungan warga asing mencapai 12,10 juta. (Mjr/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar