Kapten Pilot Sriwijaya Air Muslim Taat, Kopilot Kristen Taat

Kopilt Diego Mamahit (kiri) dan Kapten Pilot Afwan (kanan)
Bagikan:

Jakarta – Kedua kru yang bertugas menerbangkan pesawat naas Sriwijaya air SJ 182 merupakan agamawan yang taat beribadah.

Kapten pilot, Afwan, merupakan muslim taat yang dikenal sebagai jamaah masjid yang rajin dan dermawan.

Bacaan Lainnya

Pria yang tinggal di Perumahan Bumi Cibinong Endah, Blok A3, Jalan Sukahati, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini adalah pegiat masjid dan ketua panitia renovasi Masjid Addaulah di lingkungannya.

Masjid yang kini berdiri megah di kompleks perumahan itu tak dapat dilepaskan dari amal baktinya dalam proses pembangunannya dulu. “Dahulu warga ragu bisa mewujudkan masjid yang bagus di kompleks. Berkat kerja kerasnya kami memiliki masjid besar yang bisa dimanfaatkan warga di sini,” ungkap Hadi, seorang tetangga yang ikut datang ke rumah duka.

Kapten Afwan lahir di Sungai Jambu, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat, 26 Februari 1966. Sebelum menerbangkan pesawat komersial, ia adalah mantan penerbang TNI Angkatan Udara alumni Ikatan Dinas Pendek (IDP) IV 1987. Sebelum bekerja di maskapai komersial, Afwan merupakan penerbang di Skadron Udara 4 dan Skadron Udara 31.

BACA JUGA :  854618_10325028032020_foto_lockdown

Kehidupan yang relijius juga dijalani kopilot Diego Enrile Mamahit. Diego sebenarnya mendapat jadwal flight ke Belitung malam harinya, tetapi meminta pindah jadwal ke Flight Jakarta-Pontianak agar bisa masuk gereja pagi harinya.

Paman Diego, Pierre Patrick Pangemanan menggambarkan Diego sebagai sosok yang sopan, cerdas, dan rajin beribadah. “Dia itu orangnya sangat santun dan religius,” tandasnya.

Diego merupakan putra bungsu pasangan Boy Mamahit dan Evie Tuerah yang asli Suwaan, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Ayah Diego dahulu adalah Pilot Bouraq Airlines, maskapai yang sudah tidak beroperasi sejak tahun 2005.

Kini kedua penerbang saleh tersebut menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Airyang hilang kontak setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Sabtu (9/1/2020) Pukul 14.36 WIB.

Pesawat dipastikan jatuh di perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu.

Otoritas Bandara Soekarno Hatta menerangkan, pesawat take off pada pukul 14.36 WIB. Satu menit kemudian, pesawat tercatat berada di ketinggian 1.900 kaki, kemudian terbang selama empat menit lalu hilang dari radar. (Mjr/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *