Kedai Kopi Ganja Boleh Buka Saat Belanda Berlakukan Lockdown Nasional Hari Ini

Bagikan:

Dunia masih belum terlepas dari ancaman virus Covid-19. Meski vaksin telah dikembangkan dan diproduksi oleh beberapa perusahaan besar farmasi. Serta beberapa negara telah memulai melakukan vaksinasi besar-besaran terhadap warganya. Namun, ancaman virus yang masih terus bermutasi ini, masih menjadi hantu menakutkan. Terutama di negara-negara maju di Eropa. Salah satunya Belanda.

Tak ingin terjadi lonjakan kasus baru Covid-19 di negaranya saat musim libur tiba, Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte segera mengeluarkan pengunguman bahwa Belanda akan melakukan penguncian wilayah (lockdown) paling ketat selama lima pekan, dalam periode Natal dan Tahun Baru.

Pemberlakuan lockdown tersebut termasuk menutup sekolah dan toko yang tidak menjual kebutuhan pokok. Semua toko selain supermarket, toko makanan, dan apotek harus tutup mulai hari ini, Selasa 15 Desember 2020 hingga 19 Januari 2021.

Sementara sekolah akan tutup mulai Rabu (16/12). Begitu pun museum, kebun binatang, bioskop, dan pusat kebugaran juga harus ditutup. Namun “kedai kopi” cannabis (ganja) dan restoran bisa tetap buka untuk layanan dibawa pulang (takeaway).

Rutte mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk membendung lonjakan kasus baru Covid-19 selama musim liburan Natal. Dia juga meminta warganya untuk tetap tinggal di rumah dan hanya menerima maksimal dua tamu dalam sehari dan maksimal tiga orang, selama Hari Natal.

“Kita perlu menghadapi kenyataan pahit ini sebelum semuanya menjadi lebih baik. Dan ya, itu akan menjadi lebih baik. Akan ada saatnya virus corona akan berlalu, ketika hidup kita akan normal kembali,” kata Rutte.

Pengumuman yang disampaikan Rutte ini adalah kali pertama baginya kembali menyampaikan pidato di televisi, sejak bulan Maret 2020. Biasanya, Rutte hanya mengadakan konferensi pers yang sifatnya lebih informal. Apa yang dilakukan Rutte ini seolah menggambarkan, betapa eratnya situasi yang sedang dihadapi Belanda pada saat ini, terkait dengan tingginya infeksi Covid-19 di Belanda .

BACA JUGA :  Imigrasi Mengaku Status Buron Djoko Tjandra Dihapus atas Permintaan Mabes Polri

“Ketika saya memberikan pidato pertama saya di televisi, saya sangat berharap itu akan menjadi yang terakhir. Tapi sayangnya saya harus sekali lagi berbicara kepada Anda seperti ini,” ucapnya

Meski kemudian, pengumuman yang disampaikan Rutte tersebut mendapat penolakan dari sebagian warganya. Mereka menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor perdana menteri menentang aturan tersebut. Namun, Rutte tetap tak bergeming dengan keputusannya.

“Belanda akan tutup selama lima pekan. Kami tidak berurusan dengan flu sederhana seperti yang dipikirkan orang-orang di belakang kami,” sindir Rutte, merujuk pada aksi demonstrasi yang dilakukan sebagian warganya, dalam pidatonya di televisi, Senin (14/12/2020).

Perlu diketahui, jumlah infeksi Covid-19 di Belanda saat ini telah mendekati 10 ribu kasus per hari. Sebuah angka yang cukup besar bagi negara-negara di kawasan Eropa. Sementara jumlah kematian keseluruhan selama pandemi telah melewati 10 ribu jiwa hingga akhir pekan ini.

Belanda disebut-sebut sebagai negara yang memiliki beberapa tindakan pencegahan Covid-19 paling lemah di Eropa. Hal ini pula lah yang mendasari Rutte mengeluarkan aturan lockdown ketat selama musim Natal dan Tahun Baru ini. Ini dilakukan sebagai upaya keras Belanda dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gelombang kedua dan ketiga pandemi.

(Nad)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *