Keluarga Mandar Serahkan Bantuan, Korban Minta Direlokasi

Ketua KKMSB Muhammad Asri Anas menyerahkan bantuan kepada warga korban gempa Sulbar, di tenda pengungsian. ISPA
Ketua KKMSB Muhammad Asri Anas menyerahkan bantuan kepada warga korban gempa Sulbar, di tenda pengungsian. (Foto: KKMSB)
Bagikan:

Mamuju – Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat Se-Indonesia (KKMSB) menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana alam gempa bumi 6,2 Skala Richter yang mengguncang Sulbar pada 19 Januari 2021.

Ketua Umum KKMSB, Muhammad Asri Anas beserta rombongan bertemu dengan Plt. Bupati Majene, Lukman, dan menyampaikan duka yang mendalam bagi masyarakat Majene yang sampai saat ini masih berada di tenda-tenda pengungsian.

Pada kesempatan itu KKMSB menyerahkan sumbangan yang dihimpun dari keluarga Mandar yang berada di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Sulawesi tenggara, Kalimantan Selatan, Papua, dan Yogyakarta.

“Kami warga Mandar di berbagai daerah ikut merasakan duka yang dirasakan saudara kami di Mamuju dan Majene. Bantuan ini sebagai bentuk dukungan moral dan upaya turut meringankan beban para korban,” kata Asri Anas.

Dari kantor Bupati Majene, rombongan KKMSB bertolak menuju Kecamatan Malunda, tepatnya di desa Mekkatta, tempat 600 keluarga mengungsi. Tempat itu menjadi posko pengungsian bagi warga beberapa dusun yang terkena dampak cukup parah, seperti Dusun Samaleo, Aholean, dan Dusun Lemo. Dua dusun terakhir ini berada di lereng pegunungan.

Di Mekatta, rombongan KKMSB berdialog dengan tokoh masyarakat dan para korban yang sampai saat ini masih berada di pengungsian.

Dari tempat itu rombongan akan bergeser ke Mamuju, namun situasi tidak memungkinkan karena masih ada longsor di Tappalang sehingga sulit dilewati kendaraan.

KKMSB menyerahkan 3.000 paket bantuan, berupa beras, susu bayi, susu kental manis, abon, minyak, sardine, dan beberapa keperluan harian seperti sikat gigi, pasta gigi, pampers, selimut, baju, dan lain-lain.

Selain itu diserahkan pula secara simbolis 1.000 sak semen khusus untuk warga Majene untuk rehabilitasi masjid dan musala yang berdampak bencana.

Warga korban gempa Sulbar berdialog dengan Ketua KKMSB, Muhammad Asri Anas, di tenda pengungsian. (Foto: KKMSB)

Desa Mekkatta merupakan salah satu titik parah yang posisinya dekat dengan episentrum gempa. Kepala desa ini menjadi salah satu korban tewas dalam gempa tersebut.

Di desa ini, lanjut Asri, masyarakat kesulitan mengakses bantuan karena posisinya jauh dari kota. Untuk itu mereka meminta pemerintah daerah maupun pusat merelokasi 600 keluarga ke lokasi baru yang lebih aman.

“Mereka ini trauma karena Dusun Lemo dan Aholean tertimbun longsor. Sekarang ini ada 3 warga yang belum ditemukan,” katanya. Bila pemerintah dapat merelokasi mereka ke pemukiman baru, maka mereka dapat memulai kehidupan yang lebih damai.

Saat ini para korban gempa masih belum dapat memulihkan aktifitas dan perekonomian mereka. Menurut data Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 90 korban meninggal dunia, 18 orang selamat setelah dievakuasi dari reruntuhan bangunan, dan tiga dinyatakan hilang.

Dari jumlah yang meninggal, 79 orang meninggal di Mamuju, 11 orang di Majene. Tiga orang lainnya dinyatakan hilang di Dusun Aholeang, Desa Mekatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene.

Selain itu sebanyak 19.435 orang mengungsi, dengan rincian 15.014 orang mengungsi di Kabupaten Mamuju dan 4.421 orang mengungsi di Kabupaten Majane.

BACA JUGA :  Dengar Kisah Korban gempa di Tenda Pengungsian Gubernur Sulbar Menangis

Terdapat 25 titik pengungsian di Kabupaten Majene, yang tersebar di Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang serta Desa Limbua yang masih dalam proses pendataan.

Sedangkan di Kabupaten Mamuju terdapat lima titik pengungsian di Kecamatan Mamuju dan Kecamatan Simboro yang masih dalam proses pendataan. (Mjr/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *