Kotak Hitam Tak Memancarkan Sinyal, 40 Penyelam Mencari Secara Manual

Posisi Emergency Locator Transmitter berada di ekor pesawat Boeing 737-500. (Infografis : IJS)
Bagikan:

Jakarta – Pagi ini Tim SAR TNI Angkatan Laut (AL) melakukan penyelaman untuk mencari pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di sekitar Pulau Laki dan Pulang Lancang, Kepulauan Seribu.

Para penyelam sudah dipersiapkan sejak tadi malam, namun cuaca buruk dan gelombang tinggi tidak memungkinkan dilakukan saat itu.

Bacaan Lainnya

Menurut Kadispen Koarmada I Letkol Pelaut Fajar Tri Rohadi, keadaan itu cukup riskan bagi keselatan Tim SAR. “Kemarin dari pagi sampai sore hujan terus. Ketinggian ombak 1-2 meter” ujarnya di Posko Penyelamatan Dermaga II JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (9/1/2021).

Sebanyak 40 penyelam akan diterjunkan untuk mencari bangkai Sriwijaya yang sudah dipastikan berada di dasar laut.

Penyelaman ini didukung oleh 4 Kapal Perang, yakni KRI Gilimanuk, KRI Beurau, KRI Ciptadi, dan KRI Parang.

Misi ini akan mendapat kesulitan tersendiri karena emergency locator transmitter (ELT) pesawat itu tidak memancarkan sinyal.

Deputi Operasi dan Kesiapsagaan Basarnas Bambang Suryo Aji, dalam konferensi pers
mengungkapkan hal ini. Seharusnya alat ini memancarkan sinyal agar titik jatuh pesawat dapat terdeteksi dengan mudah melalui panduan sinyal radio.

Alat yang bernama ELT ini posisinya menempel pada bagian black box, yang juga memuat cockpit data recorder (CVR) maupun dlight data recorder (FDR).

Bila ELT ditemukan besar kemungkinan CVR dan FDR juga akan ditemukan juga, skalipun mungkin saja ELT terpisah dengan FDR dan CVR.

ELT berfungsi sebagai penanda lokasi kecelakaan pesawat dengan cara mengirimkan sinyal ping atau sinyal digital per 50 detik selama kurang lebih 24 hingga 48 jam. (Mjr/IJS)

BACA JUGA :  ADKASI dan Jalan Berliku Perjuangkan Nasib Tenaga Honorer
Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *