Kronologi Pasien Covid-19 Asal Depok Meninggal di Taksi Online

Supir taksi online yang menggunakan pakaian hazmat sebagai alat pelindung diri memasang plastik pembatas di mobilnya saat menunggu calon penumpang di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo
Supir taksi online yang menggunakan pakaian hazmat sebagai alat pelindung diri memasang plastik pembatas di mobilnya saat menunggu calon penumpang di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo (Foto: Fransiskus Simbolon/Kontan)
Bagikan:

Depok – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) melaporkan ada seorang pasien Covid-19 asal Depok meninggal di dalam taksi setelah ditolak rumah sakit rujukan khusus Covid-19.

“Ada seorang keluarga pasien di Depok melaporkan pada 3 Januari 2021, salah satu anggota keluarganya meninggal di taksi online usai ditolak 10 rumah sakit rujukan covid-19,” kata Tri Maharani, salah satu relawan Lapor Covid-19 .

Bacaan Lainnya

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari Satgas Covid-19 Pemerintah Kota Depok tentang informasi meninggalnya pasien covid tersebut.

Selain itu, ia mengungkapkan, ada 23 laporan kasus pasien yang ditolak rumah sakit karena penuh, pasien meninggal di perjalanan, dan meninggal di rumah karena ditolak RS sejak Desember 2020 hingga awal Januari 2021.

Ia mendapatkan laporan dari berbagai daerah diantaranya, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Melihat laporan tersebut, ia mengingatkan kepada pemerintah bahwa penanganan pandemi di Indonesia berada dalam kondisi genting lantaran kapasitas rumah sakit yang semakin padat.

Dia meyakini, hal itu telah terjadi sejak bulan November 2020. Kemudian, pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 dan libur panjang akhir tahun memperburuk kondisi saat ini.

“Sebetulnya, tanda-tanda penurunan layanan kesehatan sudah terlihat sejak September 2020. Kemudian, sempat mereda pada periode pemberlakuan PSBB di Jakarta. Jelang pertengahan November 2020, Pilkada Serentak dan libur Nataru, memperburuk ketidakmampuan RS menampung pasien,” katanya.

Ia menilai, ada sistem rujuk antarfasilitas kesehata yang tak berjalan dengan sesuai prosedur. Hal ini mengakibatkan masyarakat yang membutuhkan penanganan darurat kesehatan tidak mengetahui harus ke mana.

BACA JUGA :  Menag Sambangi Rabithah Alawiyah Minta Doa

Tri menegaskan, hal ini diperparah dengan permasalahan sistem kesehatan yang tak kunjung diatasi, di antaranya keterbatasan kapasitas tempat tidur, minim perlindungan tenaga kesehatan, dan ketiadaan sistem informasi kesehatan yang diperbarui secara real-time.

Ia tidak lupa mengingatkan kepada pemerintah pusat untuk memberikan perhatian lebih kepada tenaga kesehatan. Telah tercatat, ada 620 tenaga kesehatan meninggal akibat covid-19 per 15 Januari lalu.

Bila tak segera diatasi, saya semakin khawatir, banyak masyarakat meninggal karena otoritas mengabaikan hak perawatan dan layanan kesehatan,” tandas Tri.

Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah pusat dan daerah agar tidak mengabaikan 3T yakni, testing, tracing, treatment.

(FWI/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *