Lima Fakta Mutasi Virus Covid-19 Varian Eek

Mutasi virus Covid-19 varian E484K atau Eek. (Foto: NIAID via News Medical)
Bagikan:

Jakarta – Kementarian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan, mutasi virus SARS-CoV-2 varian E484K alias Eek telah ditemukan di Indonesia. Varian itu ditemukan setelah melalui pemeriksaan Whole Genome Sequence (WGS) pada Februari 2021.

Terkait temuan ini, Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman khawatir mutasi virus korona Eek ini berdampak negatif pada penurunan efikasi alias kemanjuran vaksin virus Covid-19 yang digunakan saat ini.

Bacaan Lainnya

Ada beberapa fakta yang menyertai mutasi virus SARS-CoV-2 varian E484K ini, diantaranya:

BACA JUGA :  Peneliti: Risiko Covid-19 Pada Pengguna Kacamata 3 Kali Lebih Rendah

1. Menyebar di Jepang

Mutasi virus Covid-19 varian Eek ini pertama kali ditemukan di Jepang. Mutasi virus korona ini muncul di tengah persiapan Jepang menjadi penyelenggara Olimpiade musim panas pada Juli mendatang.

Pada Maret 2021, sebanyak 10 dari 14 orang yang dites positif Covid-19 di Tokyo Medical and Dental University Medical Hospital hasilnya terinfeksi varian virus korona Eek. Sementara itu, berdasarkan data Februari hingga Maret, terdapat 12 dari 36 pasien Covid-19 yang membawa mutasi virus korona Eek. Sejauh ini terhitung sudah terjadi 446 infeksi varian baru virus Covid-19 ini.

BACA JUGA :  Raffi Ahmad Masuk Jajaran Artis Pertama yang Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac di Istana pada Hari Ini

2. Mutasi dari virus korona B.1.1.7

Dikutip dari MJ, analisis Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE) menemukan E484K atau Eek merupakan salah satu mutasi dari virus korona B.1.1.7. Virus korona B.1.1.7 ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan.

3. Mutasinya terjadi di protein spike virus

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menyebut, mutasi virus ini terjadi di protein spike atau yang sering disebut protein S1. Hal ini mengakibatkan reseptor lebih mengikat pada sel manusia menjadi lebih kuat, yang berimplikasi pada cepat dan banyaknya jumlah penularan.

Karena sifat tersebut, LBM Eijkman khawatir mutasi virus korona Eek berdampak pada penurunan hasil efikasi alias kemanjuran vaksin Covid-19 yang digunakan saat ini.

BACA JUGA :  Antisipasi Kerawanan Bencana, Senator Asal Sulbar Minta Kesiagaan Posko Tanggap Darurat

4. Ditemukan di Jakarta sejak Februari 2021

Menurut laporan Kemenkes, kasus mutasi virus korona varian Eek terdapat di Jakarta berdasarkan tes spesimen Februari 2021. Saat ini individu yang terkonfirmasi positif terpapar mutasi virus dari Jepang itu sudah sehat dan terus dipantau Kemenkes.

Menurut laporan Kemenkes, individu yang terpapar tidak habis bepergian dari luar negeri, yang berarti penularan terjadi secra lokal.

Sejauh ini, Kemenkes terus melakukan pemantauan terhadap penularan kasus varian baru tersebut. Hingga saat ini, belum ada kasus serupa yang di temukan.

BACA JUGA :  Kerumunan WNA di Terminal 3, LaNyalla Minta Otoritas Bandara Tegas Terapkan Prokes

5. Berpotensi menular lebih cepat

Terkait potensi menular, Kepala LBM Eijkman, Amin Soebandrio menyebut, varian korona Eek dilaporkan berpotensi menular lebih cepat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menduga, varian Eek memiliki potensi yang mengakibatkan penularan yang lebih masif. (Zak/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *