Mengapa Sebuah Konten Mudah Menyebar dan Menjadi Viral?

Bagikan:

Begitu banyak contoh yang dapat dikemukan, bagaimana sebuah gagasan, konten atau  produk,   dapat menjadi populer  dan menyebar cepat dan luas. Hal  itu  dapat diamati pada fenomena viral dan trending di berbagai platform media sosial, seperti  instagram, twitter, facebook, youtube dan tiktok.  Berbagai konten yang diunggah netizen  mendapatkan penonton ribuan, jutaan,  bahkan puluhan juta dalam waktu singkat.

Kendati fenomena viral dan trending ini sudah sangat biasa di media sosial, tetapi dalam kenyataanya kadang membingkungkan dan menyisakan banyak pertanyaan. Mengapa ide-ide sederhana  misalnya, dapat menjadi viral atau trending  dibanding dengan ide yang lebih serius.

Atau mengapa ide yang dipersiapkan dengan baik sering kali kalah populer dengan isu yang dibuat seadanya. Mengapa sebuah restoran kecil di gang sempit sangat diganrungi ketimbang di jalan besar dan sejumlah pertanyaan lainnya.

Sebuah buku dari Jonah Berger,  berjudul  Contagious  (2013) sedikit menjelaskan gejala ini. Buku ini memperlihatkan  benang merah antara seluruh fenomena produk  yang  menjadi sangat populer dan digemari  atau sebuah konten yang dapat menjadi  viral dan trending di media sosial.

Gagasannya dijelaskan secara sederhana  dalam beberapa kata kunci, yaitu  social currency, trigger, emotion, public, practical value, story yang disingkap menjadi STEPPS.

BACA JUGA :  Waketum PKB: Reshuffle Dilakukan pada Rabu Pon

Istilah social curency (mata uang sosial) artinya sesuatu mata uang yang bernilai sosial.  Disini mengandung  pengertian  bahwa sebuah  gagasan, baik dalam bentuk produk, konten, dapat  menjadi dipopuler karena  dianggap sebagai sesuatu yang sangat bernilai oleh si penerima informasi.

Misalnya, seorang yang baru saja melihat  atau membaca sebuah konten, menganggap bahwa konten yang diterimanya,  menjadi sesuatu yang dapat mengangkat harganya dirinya atau kelasnya sosialnya di mata publik, apabila informasi tersebut dibagikan ke publik.

Sama halnya dengan seorang yang baru saja menemukan sebuah restoran kecil dipojokan, bersih, murah, enak dan sehat, menganggap bahwa pengalamannya adalah sebuah informasi yang berharga. Pengalaman inilah yang dimaksud dengan mata uang sosial.

Pengalaman yang didapatkannya akan menjadi sesuatu yang benilai tinggi, ketika di diceritakan kepada orang lain atau di share kepada orang lain. Pengalaman atau konten informasi yang diperoleh itulah yang kemudian menimbulkan efek berantai. Awalnya mereka menceritakannya ke pada orang-orang yang ditemui, lalu dibagikan kepada publik dimedia sosial.

Dengan begitu ide-ide dalam produk atau konten tersebut pada akhirnya menjadi percakapan publik. Karena banyaknya orang menjadikannya bahan percakapan, maka berubahlah konten tersebut menjadi trending atau viral.

Jadi tantangan pertama bagi para konten kreator atau produsen  adalah bagimana membuat sebuah konten atau kemasan produk yang dapat menjadi mata uang sosial.  Dengan menjadi menjadi mata sosial maka produk atau konten yang ada akan memiliki energi sendiri untuk bergerak cepat dan luas melalui media internet  dan komunikasi tatap muka.

Syarat kedua , sebuah gagasan dapat menjadi populer karena  memiliki unsur trigger atau pemicu. Bagaimana membuat pemicu ingatan yang relevan dan sesuai konteks kekinian publik. Sebuah konten yang viral adalah konten yang terhubung dengan kesadaran khalayak. Pemicu ingatan bisa berupa warna, narasi, bunyi, bentuk  atau karakter. Sebuah konten yang digemari anak-anak muda misalnya, tentunya adalah konten yang mengandung warna, narasi, musik yang memang bersifat kekinian.

Mungkin warna yang keras (hard) tidak begitu memicu ingatan mereka dibanding dengan warna lembut (soft). Barangkali musik-musik hip-hop lebih memicu mereka dari pada musik klasik. Atau karakter  k-pop  lebih dapat melibatkan mereka. Kendati musik klasik atau musik  avand-garda lebih berkelas,  tapi mungkin hal itu tidak ada dalam pengalaman dan kasadaran para milenial.   Sebuah produk atau konten yang memiliki ketersambungan konteks dengan pemirsa akan lebih cepat menyebar tentunya.

BACA JUGA :  3 Manfaat Tracing untuk Bantu Putus Rantai Penyebaran COVID-19

Syarat lainnya, sebuah konten dapat menjadi trending dan viral karena kemampuannya untuk menyentuh perasaan pemirsa. Ada perasaan yang membuat orang bereaksi atas konten, yaitu perasaan takjub (amazing) dan perasaan sedih atau terharu. Sementara perasaan senang saja, belum tentu menimbulkan respon, bahkan cenderung menerimanya begitu saja  tanpa keinginan untuk memberi reaksi atau membagikan informasinya.

Informasi seperti ini biasanya tidak menimbulkan enggagement antara pemirsa dan pengirim konten. Makanya, sebisa mungkin saat membuat konten, buatlah pemirsa menjadi takjub atau sebaliknya membuatnya terharu.

Selain itu, sebuah fenomena viral juga dapat dijelaskan berkaitan dengan  kecenderungan orang untuk menyukai sesuatu produk atau konten yang sudah terlanjur diganrungi publik. Hal ini dapat diamati seperti halnya saat bingung memilih restoran mana yang akan ditempati makan di mall untuk makan siang. Berkeliling beberapa menit tapi belum juga memutuskan makanan apa yang akan disantap.

Keputusan akhirnya jatuh pada gerai makanan yang sedang banyak orang antrian. Fenomena konten viral dimedia sosial kurang lebih sama. Hal-hal yang sudah terlanjur digemari, akan terus mendapatkan dukungan dari pemirsa dan cenderung menjadi trending.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah informasi kemanfaatan sebuah gagasan, produk atau konten. Konten juga dapat menyebar cepat dan luas apabila mengandung pesan yang benar-benar dianggap memberi manfaat. Sebut saja informasi tentang teknologi atau peralatan.

Sebuah informasi tentang teknologi bisa sangat digemari dan dibagikan ke publik lantaran informasi yang tersebut  dapat memudahkan atau penunjang tugas-tugas orang di dunia kerja atau rumah tangga. Beberapa konten tentang alat-alat rumah tangga, alat menjahit, alat memasak, alat bertani, alat pertukangan, resep makanan, tutorial,  banyak menjadi viral karena orang melihat aspek manfaatnya (practical value). Informasi semacam ini selalu dibutuhkan publik.

Terakhir adalah aspek penyajian  informasi juga menjadi sangat penting. Banyak  gagasan, produk dan konten menjadi populer justru karena disajikan dalam bentuk story (cerita). Tidak to the point. Sebuah produk makanan misalnya kadang menjadi booming karena mengandung story di dalamnya. Misalnya KFC selalu diceritakan sebagai sebuah karya masterpiece dari seorang  yang pantang menyerah.

Dialah Kolonel Sanders  sang penemu KFC. Seorang telah mencoba membuat resep ribuan kali, baru pada akhirnya menemukan formula masakan dan cita rasa seperti sekarang ini. Fenomena story ini paling banyak ditemukan pada iklan-iklan produk, dimana penceritaan menjadi faktor yang sangat  penting dalam menarik minat konsumen.

Sebuah ide, produk atau konten tak harus memiliki keenam unsur diatas. Tetapi setidaknya wajib memiliki dua atau tiga diantaranya untuk dapat menjadi populer atau viral.  Intinya bagaimana sebuah konten dapat menjadi percakapan publik, mengandung trigger ingatan yang kontekstual, sajikan dalam bentuk cerita, dan buatlah pemirsa tersentuh perasaannya. Karena begitu mulai diganrungi, mendapatkan like, maka pada tahap berikutnya konten tersebut akan terus direspon.   Dan jangan lupa bahwa aspek manfaat itu tidak pernah dilupakan orang, bahkan akan terus dicari sepanjang masa.

Dengan melihat benang merah ini, mungkin publik menemukan jawaban sekaligus inspirasi,  mengapa sebuah konten dapat menjadi viral sementara lain tidak. Mengapa sebuah gagasan dapat menjadi populer , yang lain tidak. Mengapa sebuah konten diberi emoji senang, bahagia, dikasih like, tetapi yang lain dapat emoji marah bahkan mendapatkan  komentar negatif. Kurang lebih seperti itulah jawabannya. Mengapa sebuah konten mudah menyebar dan menjadi viral?

Ilham Paulangi, Praktisi dan Magister Komunikasi, di Jakarta.

 

 

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *