Muhammad Rahman: Dari Wabah, Kita Belajar Pentingnya Persatuan dan Kemandirian Bangsa

Bagikan:

JAKARTA – Pandemi COVID-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia telah membuat sendi kehidupan manusia seakan lumpuh. Di sektor ekonomi COVID-19 telah menekan situasi global ke titik nadir. Hampir semua negara di dunia terjerembab ke jurang resesi dan menyebabkan ratusan juta manusia kehilangan pekerjaan.

Wakil Ketua Komite III DPD RI Muhammad Rahman menuturkan, bekal dari wabah inilah, Indonesia belajar banyak dalam memaknai persatuan. Bagaimana daya kekuatan negara hadir bersama elemen masyarakat dalam menangkis kegelisahan sektor ekonomi yang terus dihantam.

Bacaan Lainnya

“Kehidupan manusia di dunia benar-benar berubah direset oleh pandemi virus. Betapa COVID-19 seperti telah mengubah aspek kehidupan, bahkan telah mengubah tatanan geopolitik dunia,” tutur Muhammad Rahman dalam keterangan yang diterima, Jumat (8/1/2021).

BACA JUGA :  Uji Klinis Vaksin Merah Putih Segera Dimulai, Eijkman Libatkan 5.000 Relawan

Sebelas bulan negara-negara di dunia berperang melawan pandemi COVID-19 tidak ada kepastian kapan pandemi ini berakhir sehingga menimbulkan disrupsi fundamental pada berbagai sektor kehidupan.

“Lalu apakah kita larut. Membiarkan wabah itu menghantam¬† ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan telah mengubah pola hidup masyarakat secara fundamental. Jawabannya tidak. Persatuan adalah obatnya!” tegas Senator Asal Kalimantan Tengah itu.

Berbagai negara di dunia berlomba-lomba untuk menciptakan vaksin Covid-19. Cina, Amerika, Inggris, Rusia termasuk Indonesia berlomba-lomba untuk menciptakan vaksin untuk mengakhiri pandemi ini.

Sinovac, Pfizer-BioNtech, Sputnik V, AstraZeneca, Novavax, Merah Putih adalah di antara nama-nama vaksin itu. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkmen, LIPI, UGM, ITB, UI, dan Universitas Airlangga berkomitmen untuk membuat vaksin Merah Putih.

“Prinsip moral pembuatan vaksin Merah Putih sendiri adalah tentang kemandirian, lebih-lebih terkait tenaga ahli dan fasilitas penelitian kita sebagai bangsa dan negara Indonesia. Sebagaimana negara-negara maju, mereka menunjukkan rasa percaya diri dengan mengandalkan saintis dan teknologi. Begitu pun seharusnya negara kita tercinta, Indonesia,” paparnya.

Ditambahkan Muhammad Rahman, sudah saatnya Indonesia mandiri dan bergantung pada saintis dan inovasi anak-anak bangsa sendiri. Karena kemandirian saintis linier dan erat kaitannya dengan pemulihan ekonomi nasional di satu sisi.

“Kebergantungan pada vaksin impor tidak cukup bijak tatkala pandemi COVID-19 sempat menghentikan roda ekonomi negara. Mengurangi kebergantungan pada impor dengan mengandalkan produk dalam negeri jauh lebih strategis,” urainya.

BACA JUGA :  Kader dan Eks Kader Demokrat Ingin Kudeta AHY?

Di sisi lain, spirit zaman kontemporer berupa antusiasme pada sains dan teknologi. Negara-negara menjadi besar, maju, dan adidaya tidak lepas dari prestasi para sainstis mereka.

Bahkan, sebuah negara mampu mendominasi di tingkat global ketika pencapaian sains mereka selangkah lebih maju dari lainnya. Sampai di sini, vaksin Merah Putih menjadi supra-struktur ketahanan nasional.

“Ketahanan nasional berbasis kemandirian saintis, khususnya dalam memproduksi vaksin Merah Putih ini, sepenuhnya persoalan kebijakan pemerintah. Pemerintahan kita dapat memaknai dan belajar pada negara-negara maju dalam membuat kebijakan,” ulasnya.

(ijs/ful)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *