Nasib Kristen Gray: Berawal Ajakan Tinggal di Bali, Berakhir Deportasi

Kristen Gray saat diperiksa di Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar, Bali. (Sindonews)
Kristen Gray saat diperiksa di Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar, Bali. (Sindonews)
Bagikan:

Bali – Nasib Kristen Gray untuk melangsungkan hidupnya di Pulau Dewata sudah ditentukan oleh Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) wilayah Bali. Wanita asal Amerika Serikat tersebut bakal segera dipulangkan atau dideportasi ke negara asalnya.

“Sanksinya dideportasi. Tapi kita menunggu penerbangan untuk memberangkatkan dia pulang. Sekarang kan masih ada pembatasan PPKM 11-25 Januari. Kalau ada pesawat yang ke AS, kita juga gak mau nunggu lama-lama,” ungkap Kasubag Humas dan Reformasi Kanwil Kemenkumham, I Putu Surya Dharma saat dimintai konfirmasi, Selasa (19/1/2021).

Bacaan Lainnya

Saat ini, wanita yang sudah menulis e-book “Our Bali Life is Yours” tersebut masih berada di tahanan Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar sampai batas waktu yang belum ditentukan.

BACA JUGA :  BPBD Banjarmasin Ungkap Penyebab Banjir di Wilayah Kalsel

Berdasarkan keterangan pihak Imigrasi, Gray memang tercatat memiliki Izin Tinggal Kunjungan (ITK) keluarga/sosial dengan status Perpanjangan ITK ke-4 yang berlaku sampai dengan 24 Januari 2021 mendatang.

Kepala Humas Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Arvin Gumilang, tak menampik bahwa pihaknya memberi izin tinggal kepada Gray lewat visa onshore. Visa onshore adalah kebijakan izin tinggal untuk warga asing yang tidak bisa kembali ke negaranya karena pandemi Covid-19.

Nama Kristen Gray mencuat di media sosial Twitter beberapa hari yang lalu setelah membuat thread mengenai pengalamannya selama tinggal di Bali. Gray bahkan sampai mengajak siapa pun di luar negeri untuk tinggal di Bali karena ia merasa sangat nyaman di Bali.

Selain itu, Gray juga menjual e-book berjudul “Our Bali Life is Yours” yang ditulisnya sendiri seharga US$ 30 atau setara Rp400 ribu-an. Di buku itu ia mengaku memberikan tips dan trik untuk bisa masuk ke Indonesia selama pandemi Covid-19. Ia juga menyebut punya agen visa khusus.

“Secara sadar, Gray dan pasangannya membuka praktik konsultasi online bagi orang asing yang berminat tinggal di Bali. Mereka mematok harga US$50 (setara Rp700 ribu) untuk sekali konsultasi,” ujar Kepala Humas Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Arvin Gumilang pada hari yang sama.

Sementara, sejauh ini alasan Gray begitu nyaman tinggal di Bali karena merasa murahnya biaya hidup di sini sehingga ia bisa merasakan hidup mewah dengan pendapatannya. Ia juga merasa lingkungan Bali begitu ramah terhadap kelompok LGBT. (Sdy/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 Komentar