Nasib Migas RI Semakin Melas, Dirjen Migas: Minyak Kita Perlu Kerja Keras

Bagikan:

Jakarta – Tahun 2020 menjadi tahun yang paling dramatis dan sangat memberatkan bagi industri minyak dan gas bumi (migas). Tak hanya dalam negeri, industri migas global juga merasakan hal yang sama.

Anjloknya harga minyak dan runtuhnya permintaan minyak dan gas dunia akibat pandemi Covid-19 yang merontokkan hampir semua sektor industri memperparah kondisi industri hingga jauh melemahnya investasi di sektor ini.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), investasi di sektor energi hingga akhir tahun 2020 ini diperkirakan turun 3 persen menjadi 22 miliar dollar AS hingga 23 miliar dollar AS atau sekitar Rp310 triliun (asumsi kurs Rp 14.100 per dollar AS) dibandingkan tahun 2019 kemarin yang mencapai 31,9 miliar dollar AS

Hingga Oktober 2020, ESDM menyebut, capaian investasi sektor energi baru sekitar 59 persen dari target tahun di tahun 2020 yang dipatok sebesar 13,8 miliar dollar AS. Investasi migas hingga Oktober hanya sebesar 17,7 miliar dollar AS. Di mana investasi terjadi di spesifik sektor migas dengan nilai sekitar 8,1 miliar dollar AS.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengaku, ada dua hal yang memberatkan kondisi migas selama 2020. Pertama, harga minyak dunia yang memang sudah rendah karena terjadi perang harga akibat banyaknya suplai sebelum terjadinya Covid-19. Kedua, adanya pandemi Covid-19 membuat permintaan akan migas menurun secara drastis.

“Jadi memang dua hal yang beratkan kondisi saat ini, pertama sebelum Covid harga minyak sudah rendah karena banyaknya suplai. Ada Covid, demand turun lagi, ini memperparah kondisi industri sampai hari-hari ini. Nah demand yang sebabkan beratnya bahwa create demand tidak bisa cepat dan disinyalir sekitar 35 persen demand turun,” ucap Tutuka saat diwawancara sebuah kantor media, Selasa lalu (22/12/2020).

BACA JUGA :  DPR RI Sebut Milenial Tak Kenal Pancasila, Selamat Tinggal Indonesia Emas 2045

Tutuka mengaku, Indonesia masih harus terus mengimpor migas karena untuk kebutuhan dalam negeri, produksi migas dalam negeri tidak bisa mencukupi. Dan kebutuhannya terus mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun.

“Khusus di Indonesia kita tahu punya produksi minyak yang tidak bisa mencukupi. Kita konsumsi naik terus dan produksi saat ini melandai 700 an (ribu bph). Sehingga untuk penuhi kebutuhan minyak dalam negeri cukup berat. Namun gas kondisinya masih menguntungkan, gas ini sebesar-besarnya diperuntukkan untuk kebutuhan domestik. Gas is better. Minyak kita perlu kerja keras.” Tutur Tutuka.

Meski begitu, Tutuka mengaku tetap optimis di 2021 industri migas Indonesia akan membaik. Hal ini ditunjang dengan perbaikan di sektor regulasi, perpajakan dan perijinan, juga tentang insentif yang diberikan oleh pemerintah untuk industri migas.

“Ya yang pertama perlu saya sampaikan dulu insentif yang bisa diberikan. Misalnya investment credit diberikan sampai berapa persen, kemudian depresiasi dipercepat, kemudian DMO (Domestic Market Obligation) full price, perpajakan juga berbagai hal misalnya untuk pajak PPN ya terkait LNG khusus hingga 1 persen nanti kita bicarakan lebih detail. Kemudian juga PPh badan, pengurangannya berapa akan diupayakan agar membuat iklim-iklim ini bisa lebih bagus. Kemudian penundaan biaya pencadangan, biaya pencadangan pasca operasi. Berbagai hal ini, termasuk terakhir kita bekerja sama untuk split yang pas dalam kondisi sulit ini. Kita optimis memang diharapkan meningkatkan investasi sekarang masih 60 persen dari target sebelumnya ya, diharapkan tahun depan terpenuhi target itu. Kondisinya mudah-mudahan membaik dengan adanya aksi di Covid ini, diharapkan membaik tahun depan,” jelas Tutuka.

(Nad/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *