Nobar Film De Toeng Asal Makassar, Muhajir Effendy: Daerah Bisa Jadi Pusat Perfileman

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Muhajir Effendy, memberikan keterangan kepada media, di Cinema XXI, Senayan City, Jakarta, 15/2/2021 (Foto: IJS)
Bagikan:

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Muhajir Effendy, Senin 15/02/2021, menghadiri acara nonton bareng film De Toeng; Misteri Ayunan Nenek bersama sejumlah pencinta film, di Cinema XXI Senayan City, Jakarta.

Pada kesempatan ini Muhajir menyatakan terkesan dengan film bergenre horor yang disutradari sineas Bayu Pamungkas tersebut. Sebuah film yang diangkat dari dari cerita rakyat asal dari Kabubaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

Misteri tentang Ayunan Nenek dalam cerita film ini, diungkap lewat kisah seorang dokter muda, Zaldy (diperankan Sean Hasyim) bersama istrinya Hanum  (diperankan Kartika Waode) dan putrinya kecilnya Rania (Resysha Nafisa). Sang dokter bertugas sebagai tenaga kesehatan di sebuah desa terpencil di Bukit Toeng, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan.

Keluarga kecil ini dihantui sepasang roh nenek dan cucu yang merupakan istri pemilik rumah yang konon meninggal dalam keadaan menderita karena terusir dari rumah.  Roh nenek tersebut gemar menggoda Raina kecil untuk diayun dan ditidurkan. Roh nenek dan cucunya tersebut bahkan sempat merasuki Hanum dan Raina dan membuat gempar warga desa.

Cerita ini menjadi menarik lantaran unsur horor dan budaya menyatu dalam film. Unsur budaya diceritakan dalam sebuah flash back,  tentang cinta dua pasang kekasih yang berakhir tragis.  Cinta keduanya tak pernah direstui ayahnya, hingga  kematiannya tiba.  Kematian pasangan tersebut dikuti kematian ibu dan anaknya, yang kemudian berubah menjadi  roh penasaran. Roh ini sering terlihat mengayun cucunya.  Ayahnya merupakan  bangsawan terpandang yang bergelar Karaeng (diperankan Asmin Amin). Singkat cerita, teror  roh penasaran si nenek berakhir setelah sang Karaeng menyatakan penyesalan di atas pusara almarhum istrinya tersebut.

BACA JUGA :  Ma'raga, Tradisi Permainan Bugis yang Masih Bertahan

“Ada sensasi tersendiri dalam menonton film ini. Film ini bagus karena film ini berbasis etnografi, menggunakan dialek lokal, tradisi budaya lokal,” ungkap mantan Menteri Kebudayaan ini.

“Film ini juga mengangkat ikon-ikon lokal, yang eksotik, seperti budaya siri, gelar karaeng, benda pusaka tradisonal, upacara tolak bala, dan sebagainya. Saat ini memang sedang terjadi trend global mengangkat tema-tema etnografi, tema-tema eksotik ke dalam produksi film.” imbuh Muhajir.

Untuk itu tak tertutup kemungkinan bahwa daerah-daerah di Indonesia, seperti halnya Makassar, dapat tumbuh menjadi pusat perfileman. Dan hal ini perlu didukung.

Menanggapi lesunya industri film saat ini, Muhajir meminta kepada pelaku industri film untuk terus berkarya, di tengah pandemi, seperti halnya film produksi Makassar ini. Mantan Rektor Universitas Mumahammadiah Malang tersebut menyatakan keprihatinannya atas lesunya dunia perfileman saat ini. Untuk itu, “Saya yakinkan pada para penggemar film, jangan takut menonton, namun tetap waspada, jalankan prosedur sesuai protokol kesehatan. Jangan takut hadir di bioskop, namun harus mematuhi protokol kesehatan.” pungkasnya (ilp/ijs)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *