Pebulutangkis Terlibat Match Fixing, Andi Muhammad Ihsan Ingatkan Soal Integritas

Bagikan:

Anggota Komite III DPD RI Andi Muhammad Ihsan mengutuk keras perilaku match fixing yang melibatkan pebulutangkis Indonesia. Ada 8 pebulutangkis Indonesia yang dijatuhi sanksi oleh Federasi Bulutangkis Dunia atau Badminton World Federation (BWF) karena kasus integritas dan perjudian dalam bulutangkis.

“Pengumuman yang disampaikan BWF sangat mengejutkan dunia olahraga tanah air. 8 pebulutangkis kita terlibat aksi pengaturan skor, ini sangat memalukan nama Indonesia,” ujar Andi Muhammad Ihsan, Sabtu (9/1/2021).

Dalam rilisnya, BWF mengungkap adanya kasus match fixing yang melibatkan 8 pebulutangkis Indonesia. Para pemain tersebut saling mengenal dan berkompetisi di ajang internasional level bawah di mana sebagian besarnya pertandingan Asia hingga tahun 2019.

Menurut BWF, 8 pebulutangkis Indonesia itu terbukti melakukan pelanggaran peraturan integritas BWF terkait pengaturan pertandingan, manipulasi pertandingan, dan perjudian dalam bulu tangkis. Andi Muhammad Ihsan menilai perilaku 8 pebulutangkis tersebut telah mencoreng nama baik Indonesia.

“Saya pribadi mengutuk keras aksi match fixing yang melibatkan 8 pebulutangkis Indonesia. Tentunya ini pukulan keras bagi prestasi cabor unggulan bulu tangkis Indonesia di kancah dunia,” kata senator asal Dapil Sulawesi Selatan itu.

Untuk diketahui, 8 pebulutangkis Indonesia yang terlibat match fixing sudah mendapat sanksi berat. Bahkan 3 dari 8 pebulutangkis itu diganjar hukuman larangan terlibat dalam kegiatan bulu tangkis selama seumur hidup. Sementara 5 pemain lainnya diskors antara 6 sampai 12 tahun dan denda masing-masing antara 3.000 USD dan 12.000 USD.

“Hukuman tersebut cukup berat. Tapi mereka masih bisa melakukan banding untuk bisa mengurangi sanksi yang diberikan BWF,” ucap Andi.

Menurut Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), 8 pebulutangkis yang terlibat pengaturan skor bukanlah atlet pelatnas (pemusatan latihan nasional). Meski para pelaku match fixing ini bukan dari tingkat elit, Andi menilai perbuatan mereka patut disesalkan.

BACA JUGA :  Polda Metro Bakal Menambah 50 Kamera E-TLE, Buat Apa?

“Yah biar bagaimanapun kasus ini sangat memprihatinkan. Ini harus jadi pelajaran untuk semua atlet agar tidak melakukan perbuatan yang meruntuhkan integritas diri,” sebutnya.

Andi mengatakan, kasus ini harus dijadikan contoh oleh para pelatih dan klub dalam pembinaan para atlet. Hal ini berlaku tidak hanya untuk bulu tangkis semata, tapi untuk seluruh cabang olahraga (cabor).

“Pembinaan atlet bukan hanya untuk mengejar prestasi saja. Harus diingat, pembinaan karakter juga sangat penting karena para atlet ini merupakan harapan untuk mengharumkan nama bangsa,” ujar Andi.

Andi pun mengajak seluruh atlet untuk menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas. “Prestasi jika tidak dibarengi dengan integritas cuma akan menumpulkan keahlian. Pada akhirnya ketika menangpun hanya menjadi juara yang semu,” tutupnya. (ijs/elz).

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *