Pelaku Pembunuhan Batal Diekseskusi Mati, Ini Penjelasannya

Ilustrasi hukuman mati (Foto; Istimewa)
Ilustrasi hukuman mati (Foto; Istimewa)
Bagikan:

Probolinggo – Dua terpidana kasus pembunuhan satu keluarga di Probolinggo batal dieksekusi tahun 2020 lalu karena Kejaksaan Agung (Kejagung) kehabisan dana. Dana yang semestinya digunakan untuk eksekusi mati Miarto (31) dan Misnari (29) terpaksa dialihkan untuk penanganan Covid-19. Padahal vonis mati sudah dikuatkan Mahkamah Agung (MA) sejak 2018 silam.

“Rencananya, eksekusi dilakukan serentak se-Indonesia di tahun 2020. Namun, karena anggaran eksekusi dialihkan untuk penanganan Covid-19, akhirnya eksekusi ditunda. Karena dananya tidak ada, maka eksekusi dilakukan tahun berikutnya,” jelas Kasi Pidana Umum di Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Probolinggo, Rio Vernika Putra, Sabtu lalu  (2/1/2021).

BACA JUGA :  Mantan Kades Sumberwuluh Pakai Seperempat Miliar Rupiah Dana Desa untuk Berjudi

Sebagai informasi, Misnari dan Miarto merupakan dua dari empat pelaku perampokan dan pembunuhan satu keluarga pemilik Toko Pusaka Jaya, Sukoharjo, Kanigaran, Probolinggo, pada 20 Februari 2011 silam. Dua pelaku lainya adalah Rianto dan Mamat. Sementara aki mereka menewaskan empat orang dengan kondisi penuh luka bacok. Mereka adalah Sri Murni (75), Sri Mulyani (50), dan kedua anak pemilik toko Yuli Melyanti (28) dan Fredi Yuwono (24).

Jajaran Polres Probolinggo kemudian menangkap para pelaku pada 23 Februari 2011 di Lumajang. Dalam persidangan, Misnari dan Miarto pun divonis hukuman mati. Motif perampokan dan pembunuhan karena Miarto sakit hati tidak diberikan pinjaman uang oleh Fredi, pemilik Toko Pusaka Jaya tempatnya bekerja.

Selain membunuh, mereka juga mengambil sejumlah barang milik korban seperti sepeda motor, enam buah HP, uang, dan rokok.

Saat MA menguatkan keputusan pengadilan untuk vonis mati terhadap dua pelaku pada 2018, kedua tersangka sempat mengatakan akan mengajukan peninjauan kembali (PK). Namun sampai satu tahun lebih keduanya tidak memberikan berkas pengajuan PK. Karena lebih dari setahun, eksekusi pun dijadwalkan pada 2020. Namun terpaksa batal karena pandemi Covid-19. (Sdy/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *