Pembatasan di Bali, Bambang Santoso: Harus Ada Pengembangan Ekonomi Lain

Foto: Bambang Santoso Komite IV DPD RI / Kacamata Suakasada.
Bagikan:

Pemerintah melakukan pembatasan kegiatan masyarakat di sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Anggota DPD RI Dapil Bali, Bambang Santoso menyoroti perlunya inovasi pengembangan ekonomi daerah karena sektor pariwisata terkena dampak dari pembatasan akibat pandemi virus Corona (Covid-19).

“Kita ketahui, Bali bertumpu pada sektor Pariwisata sebagai pemasukan perekonomian daerah. Dengan pembatasan di Bali, maka pariwisata yang paling terkena dampaknya,” ujar Bambang Santoso, Rabu (5/1/2021).

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jawa-Bali ditetapkan atas pertimbangan sejumlah hal. Pertimbangan pertama adalah karena penambahan kasus per minggu pada Desember 2020 mencapai 48.334 kasus dan di Januari sudah 51.986 kasus, meski tingkat kesembuhan sudah di atas global 82% dan tingkat konfirmasi fatality rate 3%.

Pertimbangan pengetatan di sejumlah daerah di Jawa Bali juga karena banyaknya zona risiko. Tercatat zona risiko tinggi ada 54 kabupaten/kota, kemudian ada 380 kabupaten/kota berisiko sedang dan 57 kabupaten/kota risiko rendah, serta 11 kabupaten/kota yang tidak ada kasusnya.

Pemerintah juga mempertimbangkan rasio keterisian tempat tidur isolasi dan ICU di rumah sakit sehingga memutuskan melakukan pengetatan pembatasan Jawa-Bali. Selanjutnya pertimbangan lain juga terkait kasus-kasus positivity rate dan kasus aktif di sejumlah wilayah.

“Persoalan kesehatan memang tidak bisa diabaikan. Kebijakan pengetatan ini memang sudah sewajarnya dilakukan karena penambahan kasus Corona yang tinggi dalam beberapa waktu belakangan,” kata Bambang.

PSBB Jawa-Bali akan mulai berlaku pada 11-25 Januari 2021. Di Bali sendiri ada 2 daerah yang akan diberlakukan pengetatan pembatasan kegiatan masyarakat yaitu Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Bambang meminta Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung bersiap terkait pembatasan ini.

“Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung juga perlu menyiapkan instrumen agar pembatasan tersebut diketahui oleh seluruh warga, termasuk para turis yang datang berlibur,” tutur anggota Komite IV DPD RI ini.

BACA JUGA :  Pengamat Politik Berikan Alasan Dinasti Politik Tak Baik di Era Modern

Kriteria pembatasan secara mikro yang ditetapkan pemerintah di Jawa-Bali seperti pembatasan tempat kerja dengan menerapkan work from home 75%. Kemudian kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring, serta pembatasan jam operasional di pusat perbelanjaan dan restoran hanya sampai pukul 19.00.

Pemerintah juga memberi batasan pelanggan restoran dengan kapasitas 25% di lokasi, dan sisanya take away atau delivery. Tempat ibadah juga hanya dibatasi sebanyak 50% dari kapasitas serta penghentian sementara fasilitas umum dan kegiatan sosial budaya. Kapasitas dan jam moda transportasi juga akan diatur.

Menurut Bambang, perlu ada langkah dari Pemda di Bali untuk menyelamatkan usaha pariwisata dan ekonomi kreatif di Pulau Dewata tersebut. Ia mengatakan para pemangku kepentingan harus duduk bersama mengatasi krisis ini.

“Mau tidak mau, usaha parisiwata dan ekonomi kreatif akan terkena imbas dari kebijakan PSBB di Bali. Kita perlu cari solusi strategis agar para pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif mendapat perlindungan,” kata Bambang.

Bambang pun mendorong agar Bali mengembangkan potensi lain untuk bisa menggenjot perekonomian daerah. Menurutnya, sektor pertanian berpotensi menumbuhkan kembali perekonomian Bali yang lesu akibat pandemi.

“Sektor pertanian bisa dimanfaatkan untuk membantu pertumbuhan ekonomi di Bali. Para petani di Bali saat ini bekerja keras untuk menjaga ketahanan pangan kita. Hasil pertanian di Bali cukup menjanjikan karena kegigihan para petani,” sebut Bambang.

Komite IV DPD RI juga mendukung pengembangan digitalisasi UMKM daerah. Menurut Bambang, dukungan pemerintah terhadap pelaku UMKM bisa menambah pemasukan kas daerah.

“Pemda bisa menggenjot sektor UMKM agar bisa membantu pariwisata yang sangat terdampak akibat pandemi. Banyak sekali pengrajin dan seniman di Bali yang bisa memaksimalkan hasil usahanya untuk bantu perekonomian daerah,” tutupnya.

BACA JUGA :  Tiga Orang Hilang dalam Kebakaran Kilang Minyak Pertamina

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *