Pemerintah Australia Ubah Lirik Lagu Kebangsaan untuk Menghormati Suku Aborigin

Australia ubah lirik lagu kebangsaannya sumber: IJS Media Network
Bagikan:

Jakarta – Pemerintah Australia mengubah beberapa lirik lagu kebangsaan mereka “Advance Australia Fair” untuk menghormati suku asli Aborigin pada Jumat (1/1/21).

Perubahan terjadi pada baris kedua lagu tersebut adalah “For we are young and free” (karena kita muda dan bebas) menjadi “For we are one and free” (karena kita satu dan bebas).

Bacaan Lainnya

BACA JUGA :  Pasca Dilantik, Biden Tandatangani 17 Perintah Eksekutif
BACA JUGA :  Masuki Wilayahnya, Filipina Minta China Tarik Ratusan Kapal

“Mengubah liriknya tidak menghilangkan apapun tetapi saya yakin menambah banyak,” tulis Perdana Menteri Australia Scott Morrison di koran The Age, seperti dilansir AFP.

Menurut Morrison, Australia adalah negara modern mungkin masih seumur jagung. Namun, sejatinya, negeri kanguru itu memiliki sejarah panjang dari suku asli Aborigin.

Ide untuk mengubah susunan lirik kata tersebut dilontarkan pada 2020 oleh Perdana Menteri New South Wales, Gladys Berejiklian. Dia mengatakan bahwa susunan kata saat ini mengabaikan budaya Bangsa Pertama yang membanggakan Australia.

Ledakan Besar di Nigeria, 70 Orang Dinyatakan Tewas

Kasus Covid-19 Melonjak, DKI Jakarta Lanjutkan Sekolah Dari Rumah

Ide tersebut disambut baik oleh beberapa anggota parlemen, termasuk menteri federal untuk Penduduk Asli Australia, Ken Wyatt serta pemimpin partai One Nation sayap kanan Pauline Hanson.

Saat ini, negara tersebut masih menghadapi persoalan yang berkaitan dengan memori penjajahan masa lalu. Ketimpangan antara penduduk asli dan pendatang masih terjadi.

Berdasarkan data statistik, tingkat kematian anak-anak suku asli di bawah lima tahun dua kali lipat dibandingkan pendatang.

Pada awal tahun ini, demonstrasi besar-besaran yang menuntut untuk menekan angka kematian penduduk asli di tahanan digelar di beberapa kota. Sebagai catatan, terdapat lebih dari 400 kasus kematian Aborigin di tahanan sepanjang tiga dekade terakhir. (ANS/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *