Pengembangan Vaksin Covid-19 Merah Putih Kalah dengan Thailand, Ini Penyebabnya

Ilustrasi vaksin Covid-19 Merah Putih. (Foto: Pixabay/HakanGERMAN)
Bagikan:

Jakarta – Staf khusus Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BRIN, Ekoputro Adiyajanto menanggapi kabar yang menyinggung lambatnya pengembangan vaksin Covid-19 Merah Putih buatan dalam negeri. Bahkan tidak sedikit yang menilai pengembangannya kalah dengan negara tetangga, Thailand.

Mengenai hal tersebut, ia menyebut, kurangnya mitra industri untuk memproduksi vaksin Merah Putih bagi seluruh warga Indonesia menjadi salah satu penyebabnya. Ia mengakui, perlu adanya mitra industri yang berpengalaman dalam meproduksi vaksin manusia dalam skala besar.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA :  Kabar Baik! Pasien Covid-19 RSD Wisma Atlet Mulai Berkurang

“Untuk hilirisasi, perlu ada mitra industri di Indonesia yang mampu memproduksi vaksin dan memiliki pengalaman dalam memproduksi vaksin manusia dalam jumlah besar,” tuturnya dikutip dari CNNIndonesia.com, Kamis (25/3/2021).

Pengembangan vaksin Covid-19 Merah Putih di Indonesia dirasa cukup menantang karena harus memenuhi kebutuhan vaksin bagi masyarakat yang jumlahnya sangat besar.

Saat ini telah ada empat perusahaan farmasi swasta nasional yang tengah dipersiapkan untuk mendukung proses produksi vaksin Merah Putih di bawah koordinasi PT. Bio Farma.

BACA JUGA :  Penelitian Terbaru, Antibodi Penyintas Covid-19 Bertahan Hingga 9 Bulan

Terkait soal kalah cepat dengan Thailand, ia menjelaskan, negara gajah putih itu memiliki kerjasama dengan perusahaan farmasi luar negeri. Hal ini menurutnya patut dicontoh untuk mendatangkan investor terutama dari luar negeri.

“Thailand setahu saya banyak melakukan kerjasama dengan perusahaan farmasi luar. Ini hal yang juga patut dicontoh, selain mendatangkan investasi juga ada transfer of technology yang dapat dipersyaratkan,” tuturnya.

Disisi lain, pengembangan vaksin Merah Putih di indonesia ini menggunakan kekuatan Research and Development (R&D) yang baru dimulai April 2020 lalu. “Harus diakui memang R&D dalam bidang vaksin di Indonesia masih harus terus dikembangkan,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Kenal Lebih Dekat Hidden Hunger dan Cara Atasinya

Sebagai informasi, pengembangan vaksin Merah Putih menggaet enam institusi, yakni LBM Eijkman (Subunit protein recombinant yeast-based/berdasarkan sel ragi and Mamalia-based/berdasarkan sel mamalia), LIPI (Fusi protein recombinant). Dari sektor perguruan tinggi ada UGM (Protein recombinant),UI (DNA, mRNA, dan virus-like-particles vaccine), ITB (Adenovirus), dan UNAIR (inactivated virus atau virus utuh yang dimatikan). (Zak/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *