Penipu Meraup Uang Rp2,2 Miliar dari 75 Orang yang Dijanjikan Masuk ASN

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara. (Istimewa)
Bagikan:

Sidoarjo – Seorang pria berinisial KRH berhasil meraup uang lebih dari Rp2,2 miliar setelah menipu 75 orang yang percaya bahwa pelaku bisa memasukkan mereka sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim).

“Korban berasal dari berbagai kota. Ada yang dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Jombang. Pelaku mengaku sebagai ASN di Pemprov Jatim,” terang Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Sidoarjo Kompol Wahyudin Latif, Jumat (8/1/2021).

Pelaku diketahui sudah beraksi selama dua tahun. Ia mematok harga kepada para korbannya di kisaran Rp30 – Rp50 juta. Selain itu, untuk dapat menjaring banyak korban, pelaku mengiming-imingi mereka bonus Rp1 juta apabila bisa menjaring orang lain yang ingin masuk menjadi ASN di Pemprov Jatim melalui jalurnya.

BACA JUGA :  Pekan Depan John Kei Sidang Dakwaan di PN Jakarta Barat

Wahyudin mengungkapkan, KRH tidak sendiri dalam melakukan aksinya. Ia dibantu oleh temannya berinisial M. Namun, temannya tersebut sudah meninggal beberapa waktu lalu.

Sementara itu, seluruh uang hasil penipuan sudah tidak tersisa lagi. Saat menangkap KRH di wilayah Kecamatan Krian, Sidoarjo, 28 Desember 2020 lalu, Satreskrim Polresta Sidoarjo hanya berhasil menyita barang bukti uang tunai sebesar Rp1 juta. Pelaku mengaku uangnya hanya tersisa sebesar itu karena sudah habis digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kasus penipuan yang dilakukan KRH lama terungkap karena modus yang dilakukan pelaku sangat meyakinkan. Pasalnya, pelaku sampai mengadakan serangkaian tes masuk ASN seperti tes pengetahuan secara tertulis dan psikotes di sebuah hotel.

Bahkan setelah tes tersebut, pelaku menyatakan seluruh korban lulus dengan memberikan Surat Keputusan (SK) sebagai pegawai Pemprov Jatim yang palsu. Karena itu, para korban baru menyadari ada yang aneh setelah tidak mendapatkan kejelasan lagi dalam waktu yang lama.

“Kasus ini terungkap setelah korban dan kepolisian melakukan kroscek ke kantor BKD (Badan Kepegawaian Daerah) mengenai SK yang diberikan pelaku dan menanyakan soal perekrutan,” terang Wahyudin.

Pelaku dijerat Pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan, dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara. (Sdy/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar