Pria di Medan Cabuli 9 Bocah, Salah Satu Korban Tetangganya Sendiri

Ilustrasi pria cabuli anak-anak. (Istimewa)
Bagikan:

Medan – Polisi baru saja mengungkap kasus pencabulan yang menimpa sembilan bocah di Medan, Sumatera Utara. Pelaku diketahui bernama Esli (52) yang sudah melakukan perbuatannya tersebut sejak November 2019.

“Tersangka selalu memberikan korbannya uang antara Rp50 ribu – Rp150 ribu. Jadi setiap melakukan perbuatan tersebut, tersangka selalu memberikan uang kepada korban,” ungkap Kasatreskrim Polrestabes Medan, Kompol Martuasah Tobing, Senin (11/1/2021).

Kasus ini baru terungkap setelah salah satu anak yang menjadi korban Esli mengadu ke orangtuanya. Anak itu sudah beberapa kali dicabuli Esli. Bahkan pelaku pernak melakukannya di sebuah kotel.

BACA JUGA :  Tilap Uang Negara Setengah Miliar Rupiah, Kepala BPKAD Kuansing Ditetapkan Tersangka

“Tersangka Esli melakukan perbuatan cabul terhadap korban yang merupakan anak laki-laki sejak November 2019. Perbuatan tersebut telah berulangkali dilakukan di dalam kamar,” terang Martuasah.

Martuasah juga menyatakan korban dan tersangka yang sudah memiliki istri ini tinggal bertetangga. Selain itu, pihaknya juga mendapatkan informasi dari ibu korban bahwa ada 8 bocah lain yang menjadi korban pencabulan tersangka. Para korban disebut berusia 13-18 tahun yang semuanya merupakan pria.

Martauasah pun mengatakan, pihaknya masih akan melakukan pengembangan terkait kasus ini. Ia pun menerangkan, Esli dijerat Pasal 82 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meneken Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak pada 7 Desember 2020 lalu.

Tata cara mengenai tindakan kebiri kimia diatur dalam Pasal 1 ayat (2), yaitu pemberian zat kimia dengan cara disuntik atau menggunakan metode lain. Pada pasal tersebut juga disebutkan bahwa tindakan kebiri kimia diberikan kepada pelaku yang pernah dipidana karena praktik kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sehingga menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, untuk menekan hasrat seksual berlebih yang disertai rehabilitasi.

Sementara pemasangan alat deteksi elektronik tertera pada Pasal 2 PP 70/2020. Pemasangan akan dilakukan berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. (Sdy/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *