Properti Mulai Menggeliat Meski Masa Pandemi Masih Melekat

Bagikan:

Pandemi Covid-19 memberi pukulan cukup telak pada sektor bisnis properti. Pada masa PSBB aktivitas bisnis seolah terhenti. Para pelaku bisnis banyak mengeluh mengalami kerugian cukup parah.

Tingginya biaya operasional bisnis properti tidak seiring dengan pemasukan, karena tingkat penjualan juga ikut turun. Banyak konsumen untuk menahan diri untuk membelanjakan dananya di sektor property. Kondisi ini tentu membuat industri properti Indonesia mengalami penurunan cukup parah.

Perlahan tapi pasti, bisnis properti saat ini sudah mulai bangkit. Aktivitas ekonomi di beberapa sektor termasuk properti sudah mulai sedikit berjalan normal. Peran pemerintah secara langsung menjadi salah satu pemicu bangkitnya aktivitas bisnis properti Indonesia.

Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida mengatakan, pada era new normal lalu, industri properti sudah mulai bergairah. Adanya peningkatan aktivitas pada sektor ini menjadi angin segar bagi pelaku industri.

“Jadi, sebelumnya yang laku hanya rumah sederhana, sekarang sudah mulai ada kemajuan pada segmen rumah di harga Rp1.5 miliar ke bawah,” ujar Totok

Kini pihak REI tetap meminta adanya tambahan relaksasi bagi sektor properti. Mulai dari penghapusan PPh 21, pengurangan PPh Badan, meminta menurunkan PPh final sewa cari yang awalnya 10% menjadi 5% saja, hingga penurunan PPh final transaksi dari 2.5% jadi 1% saja berdasarkan nilai aktual transaksi serta bukan berdasarkan NJOP (nilai jual Objek Pajak).

Totok menyatakan, mau tidak mau sektor industri properti harus melakukan perubahan sistem, strategi, serta konsep hunian. Tujuannya sebagai penyesuaian untuk perubahan kebutuhan konsumen di masa pandemi ini.

Para pelaku bisnis properti harus bisa melakukan sinergi pemasaran pada strategi virtual dan non virtual. REI sendiri mulai melakukan perencanaan pameran khusus yang melibatkan para anggotanya pada bulan Oktober 2020 mendatang. Selain itu, para pelaku bisnis properti harus berinovasi untuk membangun hunian sehat yang menjadi kebutuhan konsumen saat ini.

BACA JUGA :  Kedai Kopi Ganja Boleh Buka Saat Belanda Berlakukan Lockdown Nasional Hari Ini

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN), Pahala Mansury, bahwa saat ini, kredit perumahan mangalami pertumbuhan yang menggembirakan. Kredit perumahan tumbuh sebesar 1,98 persen pada masa pandemi Covid-19 ini.

“Kita di bank BTN cukup beruntung bahwa di saat seperti ini, meskipun kondisi perekonomian nasional mengalami kontraksi, namun sektor perumahan masih bisa tumbuh sebesar 1,98 persen,” ujar Pahala Mansury dalam seminar daring di Jakarta, Rabu (16/12/2020).

Menurut Pahala, hal ini cukup mengejutkan, mengingat sektor properti terutama perumahan rentan terhadap penurunan ekonomi.

“Namun, yang terjadi karena sebagian besar kegiatan ekonomi terpusat di rumah saat ini, tentunya itu menyebabkan nilai rumah, kita melihat mengalami peningkatan dan permintaan terhadap rumah juga tetap meningkat,” katanya.

Dia mengatakan Bank BTN merespons hal tersebut dan terus memperbaiki digital banking-nya. Secara nasional, lanjutnya, jumlah transaksi digital banking dalam setahun terakhir meningkat sekitar 37 persen, sedangkan di BTN meningkat lebih dari 40 persen.

Digital banking ini, dalam artian hanya melakukan transaksi perbankan saja, namun juga melakukan kegiatan pembelian rumah dan nasabah berupaya memasukkan aplikasi untuk bisa memperoleh KPR,” jelas Pahala.

Sebelumnya, selama masa pandemic, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan dan menerapkan kebijakan dalam pemberian stimulus bagi perekonomian. Melalui POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease (Covid) – 2019, diharapkan ada peningkatan aktivitas ekonomi salah satunya di sektor properti.

Stimulus tersebut sudah berlaku semenjak 13 Maret 2020 hingga 31 Maret 2021 dan ditujukan bagi debitur khususnya untuk UMKM dan sektor yang cukup rentan akibat pandemi Covid-19. Sektor tersebut antara lain transportasi, perhotelan, pariwisata, pengolahan, pertanian, hingga perdagangan.

BACA JUGA :  Evaluasi Penyaluran Dana Desa Penting, Ini Pesan Senator Asal Banten

(Nad)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *