Rahmijati Jahja: Harga Cabai di Gorontalo Makin ‘Pedas’ Saja, Harus Disiasati!

Bagikan:

Anggota DPD RI Dapil Gorontalo, Rahmijati Jahja menyoroti harga cabai yang terus naik. Ia menilai harga cabai yang makin ‘pedas’ ini harus segera disiasati agar tidak merugikan masyarakat.

“Kementerian Perdagangan harus segera mencari cara untuk menurunkan harga cabai. Kalau kondisi seperti ini terus, masyarakat bisa kepedesan juga menghadapi harga cabai yang terus meroket,” ujar Rahmijati Jahja, Senin (11/1/2021).

Bacaan Lainnya

Harga cabai rawit atau rica di tingkat petani di Gorontalo diketahui mengalami kenaikan drastis. Bila biasanya harga rica berkisar Rp 35-45 ribu per kilogram, saat ini harganya sudah mencapai Rp 60 ribu per kilogram.

BACA JUGA :  Senator Babel Ini Usul Reklamasi Bekas Tambang Tak Hanya untuk Tanaman Sawit

Kenaikan harga cabai di Gorontalo terjadi akibat kurangnya pasokan di tingkat lokal, sementara tingkat permintaan sangat tinggi. Banyak petani cabai yang mengaku kekurangan stok untuk lokal karena tingginya permintaan dari luar daerah.

“Ini juga harus menjadi evaluasi bagi pemerintah daerah. Seharusnya bisa mengatur terpenuhinya dulu kebutuhan cabai untuk warganya, baru kemudian penuhi permintaan luar daerah. Ini karena kurangnya stok di tingkat lokal jadi buat harga cabai naik tinggi di Gorontalo,” kata Rahmijati.

Mantan anggota DPRD Provinsi Gorontalo ini pun meminta kepada para petani cabai untuk meningkatkan produksi tani. Dengan demikian, kata Rahmijati, stok bagi masyarakat bisa terpenuhi.

“Ini karena konsumsi masyarakat akan cabai sangat tinggi. Kami mendorong agar petani cabai di Gorontalo semakin meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan pasar,” sebutnya.

Tak hanya itu, peran Dinas Pertanian untuk memenuhi stok cabai di Gorontalo pun disebut Rahmijati juga cukup penting. Dinas Perdagangan juga diharapkan menstabilkan harga cabai di tingkat lokal.

“Dinas setempat harus cepat turun dan memberikan penyuluhan kepada petani agar petani dapat memproduksi cabai dengan maksimal sehingga hasil panennya pun meningkat,” ungkap Rahmijati.

Meningkatnya harga cabai bukan hanya dialami Gorontalo. Lonjakan harga cabai terjadi di tingkat nasional. Salah satu sebab sering naik-turunnya harga cabai adalah karena Indonesia belum memiliki tekonologi penyimpanan cabai agar bisa bertahan lama.

BACA JUGA :  Resmi Larang FPI, Ini isi Surat Keputusan Bersama

Saat paceklik, harga cabai membumbung tinggi. Namun ketika panen sehingga stoknya melimpah, harga cabai pun menjadi anjlok. Rahmijati mendorong agar ada pihak pemerintah segera mengupayakan adanya teknologi penyimpanan cabai.

“Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan serta Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Indonesia bisa bekerja sama agar bisa menciptakan teknologi penyimpanan pangan,” tuturnya.

“Kalau kita sudah punya teknologi seperti itu, bahan pangan segar bisa disimpan lebih lama sehingga saat paceklik harga pasar tidak terdampak karena masih tersedianya stok,” imbuh Rahmijati.

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *