Seaglider Ditemukan di Perairan Indonesia, TNI AL: Alutsista Kami Belum Mampu Mengcover Seluruh wilayah laut Indonesia

Kadispenal Julius Widjojono
Kadispenal Julius Widjojono
Bagikan:

Jakarta – Ditemukannya drone laut alias Seaglider oleh nelayan di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada bulan Desember 2020 kemarin, sedikit banyak menguak kemampuan Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) negeri kita.

Masuknya Seaglider ke dalam perairan wilayah NKRI menjadi sinyal bahwa ternyata wilayah laut kita sangat mudah diterobos pihak asing.

Hal ini juga diakui oleh Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono yang mengakui bahwa alutsista milik TNI AL belum mampu mendeteksi Seaglider di wilayah laut Indonesia secara keseluruhan.

Oleh karena itu, menurut Julius, sangat memungkinkan bagi peralatan seperti unmanned underwater vehicle (UUV) yang baru ditemukan di Perairan Kepulauan Selayar, yang kemudian diidentifikasi sebagai Seaglider, lalu-lalang di bawah permukaan laut Indonesia tanpa terdeteksi.

“Alutsista kami juga tidak mampu mengcover seluruh area, jadi sangat memungkinkan mereka lalu-lalang,” ucap ulius kepada awak media, Selasa (5/1/2021).

Meski begitu sesuai dengan penjelasan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono peralatan itu mungkin bisa terdeteksi oleh kapal milik Indonesia jika kebetulan tengah melintas di wilayah yang memang banyak terdapat seaglider milik asing.

Dengan catatan, kapal-kapal Indonesia itu menyalakan sonar untuk mendeteksi benda-benda asing di kedalaman laut.

“Sesuai penjelasan Bapak Kasal di Pushidrosal lalu, kalau pas lewat kapal-kapal kita yang punya sonar, bisa saja kedapatan (ada seaglider),” kata dia.

Namun, menurutnya, Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Sehingga tak bisa semua titik diawasi dalam waktu bersamaan. Lagi pula sebetulnya kata Julius, seaglider ini bekerja untuk keperluan riset.

Alat ini juga kebanyakan diluncurkan oleh kapal-kapal asing yang tengah melakukan survei dan riset di suatu wilayah, termasuk di Indonesia.

BACA JUGA :  Tak Turunkan Perpres Miras, PA 212 Ancam Turun ke Jalan

“Seaglider ini dilepaskan dari kapal-kapal survei, untuk itu instansi yang bekerja sama dengannya harus laporan ke TNI AL,” kata dia.

Perlu diketahui, wilayah geografis Indonesia yang strategis juga membawa ancaman tersendiri kala teknologi drone bawah laut kian berkembang.

Keberadaan Indonesia di tengah konflik Laut China Selatan dengan minimnya anggaran pertahanan nasional, membuat kita kelimpungan mengimbangi kekuatan China dan Amerika Serikat (AS) yang berseteru di sana.

Ancaman tersebut diperparah dengan menipisnya anggaran pertahanan di tengah pandemi Covid-19. Setelah dilakukan realokasi berdasarkan Perpres No 54/2020, maka anggaran Kemenhan berkurang menjadi Rp 122 triliun. Adapun Anggaran pertahanan untuk 2021 sebesar Rp 136,7 triliun.

Dari Buku III Himpunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga Tahun Anggaran 2021, alokasi untuk alat utama sistem pertahanan (alutsista) Rp 9,3 triliun. Padahal pembangunan sektor pertahanan dengan posisi geografis Indonesia yang strategis sangatlah penting.

(Nad/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *