Senator Babel Ini Usul Reklamasi Bekas Tambang Tak Hanya untuk Tanaman Sawit

Alexander Fransiscus (Foto beritababel.com)
Alexander Fransiscus (Foto beritababel.com)
Bagikan:

Pangkalpinang – Anggota DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Alexander Fransiscus mendukung upaya reklamasi di kawasan bekas tambang timah. Reklamasi yang meliputi wilayah darat dan laut di Babel itu bisa dimanfaatkan kembali untuk sejumlah sektor.

“DPD mendukung upaya perbaikan ekosistem yang rusak akibat penambangan timah melalui reklamasi darat dan laut. Langkah yang dipelopori oleh PT Timah Tbk itu sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM nomor 1827
tahun 2018,” ujar Alexander Fransiscus, Senin (18/1/2021).

Untuk diketahui, emiten tambang PT Timah Tbk telah melakukan reklamasi darat seluas 406 hektar selama 2020. Untuk reklamasi laut, PT Timah Tbk melakukan artifical reef dengan penenggelaman 700 unit fish shelter dan 295 unit transplantasi karang.

Reklamasi laut dilaksanakan di Perairan Bangka, Bangka Tengah, Bangka Barat, Bangka Selatan, dan lintas kabupaten. Reklamasi di kawasan bekas tambang timah yang telah dilakukan selama tahun 2020 sudah menyedot biaya hingga lebih dari Rp 29 miliar.

Sementara itu reklamasi darat dilakukan dengan penanaman tanaman, bahkan ada juga yang disulap menjadi lokasi agrowisata. Salah satu penanaman reklamasi darat yaitu dengan menanam tanaman sawit yang sejalan dengan rencana pemerintah untuk mendukung energi baru dan terbarukan. Ini juga sesuai dengan permintaan masyarakat.

Alexander menilai, masih banyak potensi lain yang bisa dilakukan dengan reklamasi bekas tambang timah. Salah satu contohnya dengan menjadikan reklamasi bekas tambang timah sebagai areal pertanian.

“Lahan bekas tambang timah berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai areal pertanian. Ini sekaligus mendukung upaya pemenuhan kebutuhan pangan dan mengatasi persoalan lingkungan pasca-penambangan,” ucap Alexander.

“Selain itu dapat juga ditanami dengan tanaman produktif dan memiliki nilai ekonomis yang dapat dikelola oleh masyarakat setempat,” sambungnya.

BACA JUGA :  Youth Leader Forum 2020, Mengajak Pemuda Peduli Politik

Reklamasi bekas tambang timah di Babel juga ada yang dibuat sebagai agrowisata. Seperti di Kampoeng Reklamasi Selinsing, Belitung Timur, dan di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, Bangka.

Alexander menyebut reklamasi agrowisata ini selain berguna untuk kebutuhan pangan masyarakat, tapi juga punya nilai jual yang bisa mendatangkan wisatawan. Ia pun mendorong agar semakin banyak bekas tambang timah yang dipoles menjadi lokasi wisata.

“Kawasan reklamasi bekas tambang timah yang dijadikan lokasi agrowisata bisa menjadi destinasi wisata di Babel. Ini tentunya bisa menjadi motor penggerak ekonomi desa, bagus sekali,” sebut Alexander.

Anggota Komite II DPD RI ini menyebut bekas tambang timah di Babel jangan dibiarkan terbengkelai begitu saja. Menurut Alexander, harus ada nilai manfaat dari lokasi bekas tambang timah yang sudah tidak berproduksi lagi.

“Bangka Belitung yang kaya dengan tambang timah dan menjadi sumber kekayaan alam yang utama sudah semestinya tidak boleh membahayakan bagi penduduknya, seperti kerusakan lingkungan yang mengakibatkan
longsor dan banjir,” ungkap salah satu senator muda itu.

Alexander pun meminta kepada emiten tambang untuk terus menerapkan komitmen penambangan dengan prinsip-prinsip good mining practies. Caranya adalah termasuk dengan melakukan program reklamasi di bekas lokasi tambang.

“Program reklamasi darat dan laut ini merupakan suatu keharusan yang dilakukan setelah terjadi penambangan untuk menyelamatkan dan memperbaiki ekosistem yang telah rusak,” ujar Alexander.

Alexander pun mendorong kepada perusahaan tambang timah lainnya di Babel untuk melakukan kewajiban terkait reklamasi bekas pertambangan. Perusahaan juga bisa diuntungkan melalui reklamasi yang punya banyak potensi tersebut.

“Reklamasi bekas penambangan dilakukan agar meminimalisir kerusakan lingkungan, dan jika tidak dilakukan pemerintah daerah dapat mengenakan denda atau sanksi lainnya sesuai dengan perda,” kata Alexander mengakhiri. (ijs/elz).

BACA JUGA :  Banjir Bandang NTT Terjang Bendungan Kambaniru, Petani Gagal Tanam Padi

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *