Soedjono Hoemardani, Jendral Kesayangan Soeharto

Soedjono Hoemardani, Jendral Kesayangan Soeharto
Soedjono Hoemardani, Jendral Kesayangan Soeharto
Bagikan:

Tak ada jenderal yang punya gaya senyentrik Soedjono Hoemardani. Potongan rambut yang mirip Michael Jackson serta gayanya yang khas, Soedjono lebih cocok disebut seorang seniman ketimbang jenderal.

Meski demikian, ia merupakan jenderal kesayangan Soeharto.

Setelah lulus dari HIS Surakarta, dia melanjutkan pendidikannya di Gemeentelijke Handels School, sebuah sekolah dagang di Semarang.

Ayahnya, Raden Hoemardani adalah pedagang di Carikan, sebelah barat Pasar Klewer. Sehari-hari memasok berbagai jenis bahan makanan dan pakaian pamong serta abdi keraton.

Setelah lulus sekolah pada 1937, ia pulang ke Solo untuk mengelola usaha ayahnya sekaligus bendahara organisasi pergerakan bernama Indonesia Muda.

Pada masa kependudukan Jepang, ia ditugaskan sebagai fukudanco (wakil komandan) dari keibodan (pembantu polisi).

Dalam dunia militer, Soedjono atau yang akrab disapa Djonit berkarir hingga mendapat pangkat jenderal. Ia memulai karirnya dari pangkat Letnan Dua karena dianggap sebagai orang yang terpelajar di tahun 1945.

Dalam buku yang berjudul Soedjono Hoemardani 1918-1986 (1987:16), Harry Tjan Silalahi menjelaskan, Djonit menjabat bendahara di Resimen 27 Divisi IV dengan pangkat Letnan Dua dalam kurun 1945-1947. Setelah itu, naik pangkat jadi Letnan Satu dengan jabatan perwira di bagian keuangan Divisi IV hingga 1949. Pangkatnya naik menjadi Kapten pada tahun 1950.

Pada 1957, pangkatnya naik menjadi Mayor dengan jabatan Direktorat Administrasi Angkatan Darat (DAMAD) di Bandung. Kemudian pada 1961, pangkatnya naik lagi menjadi Letnan Kolonel dengan jabatan Wakil Deputi III/KSAD.

Teguh Pambudi dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya (2012:537) mengatakan,
“Untuk mendapatkan lisensi dari perusahaan Jepang, selain rekomendasi dari Menteri Perekonomian, rekomendasi dari Soedjono Hoemardani sangat penting. Sebab, pada tahap seleksi awal, Jepang lebih percaya kepada Soedjono yang dianggap sebagai utusan langsung Presiden.”

BACA JUGA :  Sejarah Kecerdasan Buatan, dan Perkembangan Terkini yang Perlu Diketahui

Djonit bersama Suryohadiputro dan Alamsyah Ratuprawiranegara termasuk jenderal yang sering didatangi oleh para pengusaha. Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016:66), mereka bertiga digolongkan sebagai Jenderal Finansial.

Soedjono sering disebut-sebut sebagai penasihat spiritual Presiden Soeharto. Hal itu berdasarkan kegiatannya yang dekat dengan hal-hal gaib dan klenik. Pria dengan pembawaan yang tenang ini memang tergolong berbeda. Bahkan, dia sering kali menerima tamu dengan bertelanjang kaki.

Hubungannya dengan Soeharto sering dikaitkan dengan wejangan dari Soediyat Prawirokoesoemo alias Romo Diyat, seorang guru spiritual. Sang Romo pernah berpesan kepada Djonit agar menjaga Soeharto karena dipercaya akan menjadi orang besar. Itulah mengapa keduanya sering pergi ke tempat-tempat yang dianggap keramat.

Kedekatan keduanya membuat banyak yang mengira jika Soeharto berguru pada Soedjono. Namun, dalam autobigrafinya yang berjudul Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989:441-442), Soeharto menampik kabar tersebut.

“Sangkaan begitu tidak benar. Mengenai ilmu kebatinan, Soedjono lebih banyak bertanya ke saya daripada sebaliknya.” ujar Mantan Presiden RI Ke-2 itu.

Sang Jendral berpulang kepada sang ilahi pada 12 Maret 1986 dan dimakamkan di Solo. Di hari itu, Soeharto dan istri turut mengiringi kepergian sang jenderal kesayangan.

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *