Tingkat Efikasi Vaksin Covid-19 Ramai Diperbincangkan Publik, Begini Penjelasannya

Bagikan:

Jakarta – Pengetahuan tentang tingkat efikasi vaksin menjadi perbincangan publik beberapa hari belakangan. Publik ingin mengetahui lebih jauh berkaitan pengumuman dari BPPOM mengenai tingkat efikasi vaksin Covid-19 yang sudah dinyatakan lolos uji klinis tahap ketiga. Otoritas resmi tersebut menyebutkan, tingkat efikasi Vaksin Covid-19 Sinovac adalah 65,3 persen.

Efikasi merupakan kata yang sangat banyak dicari di mesin google Pukul 10:22. (13/01/2021). Terdapat sekitar  1.670.000 hasil (0,37 detik) mengetik kata tersebut. Sementara untuk kata efikasi vaksin sinovac dicari  sekitar 1.310.000 kali (0,37 detik). Ini berarti,  animo warga net untuk menambah referensi seputar  isu efikasi ini sangat tinggi.

Bacaan Lainnya

Sejalan dengan bacaan mesin bigdata Sciograf, pemberitaan tentang tingkat efikasi vaksin Covid-19 dari Sinovac  juga menjadi berita trending hari ini. Salah satunya adalah berita dari CNN Indonesia, telah dibagikan sekitar 71 kali hingga pukul 10.30 WIB.

Berkaitan dengan Efikasi vaksin tersebut, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof DR Zullies Ikawati, telah menjelaskan dengan baik, melalui keterangan tertulis yang ramai beredar dijagat media soal dan media perpesanan WhattsApp.

Menurut akedemisi bidang farmasi tersebut, nilai efikasi suatu vaksin menunjukkan jumlah penurunan kasus penyakit yang bisa dicegah lewat vaksinasi. Ini berarti, jika tingkat efikasi atau kemanjuran 65,3 persen dalam uji klinik,  berarti terjadi penurunan 65,3 persen kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi (atau plasebo). Dan itu didapatkan dalam suatu uji klinik yang kondisinya terkontrol.

“Jadi misalnya pada uji klinik Sinovac di Bandung yang melibatkan 1600 orang, terdapat 800 subyek yang menerima vaksin, dan 800 subyek yang mendapatkan placebo (vaksin kosong). Jika dari kelompok yang divaksin ada 26 yang terinfeksi (3.25%), sedangkan dari kelompok placebo ada 75 orang yang kena Covid (9.4%), maka efikasi dari vaksin adalah = (0.094 – 0.0325)/0.094 x 100% = 65.3%. Jadi yang menentukan adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak. Efikasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, misal dari tingkat risiko infeksi tempat uji,  karakteristik subyek ujinya, pola kesehatan masyarakat, dll.” Terang Zullies

BACA JUGA :  Jakarta Banjir, Anies Dikritik "Jangan Mimpi Mimpin Negara"

Artinya, jika subyek ujinya adalah kelompok risiko tinggi, maka kemungkinan kelompok placebo akan lebih banyak yang terpapar, sehingga perhitungan efikasinya menjadi meningkat. Jadi misalnya pada kelompok vaksin ada 26 yang terinfeksi, sedangkan kelompok placebo bertambah menjadi 120 yg terinfeksi, maka efikasinya menjadi 78.3%.

Menurutnya Zullies, uji klinik di Brazil menggunakan kelompok berisiko tinggi yaitu tenaga Kesehatan, sehingga efikasinya diperoleh lebih tinggi. Sedangkan di Indonesia menggunakan populasi masyarakat umum yang risikonya lebih kecil. Jika subyek placebonya berisiko rendah, apalagi taat dengan prokes sehingga tidak banyak yg terinfeksi, maka perbandingannya dengan kelompok vaksin menjadi lebih rendah, dan menghasilkan angka yang lebih rendah. Dan mungkin juga ada faktor2 lainnya yang berpengaruh terhadap hasil uji kliniknya.

Tingkat efikasi vaksin Sinovac yang mencapai 65,3 persen dipandang secara optimistis Zulis.  Karena dengan angka itu, berarti angka penurunan angka Covid-19 akan menurun cukup siginifikan.

“penurunan kejadian infeksi sebesar 65% secara populasi tentu akan sangat bermakna dan memiliki dampak ikutan yang panjang. Katakanlah dari 100 juta penduduk Indonesia, jika tanpa vaksinasi ada 8,6 juta  yang bisa terinfeksi, maka jika program vaksinasi berhasil hanya ada 3 juta  penduduk yang terinfeksi. Angka 65% diperoleh dari hitungan  (0.086 – 0.03)/0.086 x 100% = 65%. Jadi ada 5,6 juta kejadian infeksi yang dapat dicegah. Mencegah 5 juta kejadian infeksi tentu sudah sangat bermakna dalam penyediaan fasilitas perawatan kesehatan.”  Jelasnya.

“Ketika tadi diumumkan hasil efikasi vaksin Sinovac sebesar 65.3%, mungkin ada yang kecewa.. kenapa kok rendah… Tapi menurut saya it is a good start… apalagi batasan minimal FDA, WHO dan EMA pun utk persetujuan suatu vaksin adalah 50%. Artinya, secara epidemiologi, menurunkan kejadian infeksi sebesar 50% itu sudah sangat berarti dan menyelamatkan hidup banyak orang. Apalagi disampaikan juga tadi bahwa vaksin memiliki imunogenisitas yang tinggi mencapai 99-an % yang berarti dapat memicu antibody pada subyek yang mendapat vaksin.” Pungkasnya. (ilp/ijs)

BACA JUGA :  Warga Patah Hati, Rumah Gubernur Sulsel Dipenuhi Karangan Bunga
Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *