Twitter Merupakan Media Sosial  Paling Banyak Digunakan Fraksi di DPR, Partai Apa yang Merajai Perbincangan?

Bagikan:

Perdebatan di ruang publik tak pernah luput dari persoalan-persoalan kebangsaan. Wajar jika perbincangan di twitter diramaikan oleh para legislator atau politisi Senayan yang ramai bicara politik.

Seminggu terakhir ini perbincangan anggota fraksi di DPR paling banyak dilakukan di twitter. Hal ini dapat dilihat dari  bacaan mesin bigdata Sciograf,  pada kurun waktu 31 Desember  2020  hingga 07 Januari 2021.

Data menunjukkan, platform twitter memuat sekitar 81,2 persen atau sekitar 5.539 perbincangan. Sedangkan melalui media online sekitar hanya  12,4% atau sekitar 544 kali pemberitaan.  Selebihnya youtube, Instagram dan Facebook tidak mencapai sepuluh persen.

Bukan hal yang mengagetkan bila perbincangan dari anggota  fraksi di DPR lebih dominan di twitter. Sejumlah tokoh politik, baik yang mengambil jalan opisisi maupun partai pendukung pemerintahan memiliki menanam akun di twitter, mulai presiden, menteri, sampai aktifis.

Hal lain yang medukung adalah ketersediaan ruang diskursus yang lebih kondusif .  Sesuai dengan namanya, platform media sosial ini memang dirancang untuk bercuit atau bercakap ria tanpa batas.  Di twitter, karena tidak ada adanya pembatasan pertemanan, sebanyak-banyaknya pembicaraan bisa masuk.  Jadi, pas lah bagi yang ingin membangun narasi atau sebaliknya membuat narasi tandingan.

Lalu Fraksi apa yang paling banyak melakukan perbincangan menurut lembaga riset bigdata dan media Sciograf?  Dalam seminggu teraksir ini Partai Keadilan Sejahtera merajai ruang publik di twitter dengan tangkapan mencapai 2,063 kali perbincangan atau setara dengan 58 persen dari total perbincangan semua fraksi.

Sementara posisi kedua paling banyak adalah Fraksi Demokrat dengan 988 kali perbincangan di twitter, disusul Partai Amanat Nasional 200 perbincangan.

Kurang lebih sama dengan fenomena di Twitter, media online juga dikuasai oleh PKS, yang mendapatkan pemberitaan 203 kali atau sekitar 37 persen dari total pemberitaan tentang partai.

BACA JUGA :  Pansus DPRD Jember Ungkap Tenda Bantuan Covid-19 Tak Disalurkan

Menyusul di urutan kedua adalah PAN dengan 136 pemberitaan atau 25 persen, serta PKB berada diurutan ketiga dengan 93 persen atau sekitar 17 persen dari total perbincangan semua fraksi DPR di twitter.

Hal apa yang banyak diperbincangkan, atau narasi apa yang dibangun di twitter dan media online sehingga menguasai lebih banyak perbincangan?

Beberapa Tweet dari Fraksi PKS  kelihatannya seputaran isu terikini dalam negeri. Diantaranya tentang tanggapan Anggota Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati, mendukung BPOM yang menyatakan vaksin Covid-19 dari Sinovac belum boleh disuntikkan kepada masyarakat.

“Batasnya bukan waktu, maksudnya harus diizinkan pada tanggal segini atau segitu. Tapi, batasnya adalah ketuntasan hasil uji klinis tentang efektifitas dan efikasi dari virus tersebut. Lebih baik kita lakukan kajian yang mendalam dengan segala plus minusnya, daripada terburu-buru” ungkapnya kepada media. Berita yang sama dimuat di banyak media.

Selain itu Anggota Komisi 1, Sukamta juga menaggapi soal  efektivitas penanganan Covid-19 yang tengah dilakukan. Ia tak puas dengan banyaknya disinformasi soal penangan pandemi.

Kemudian pada isu lain, Anggota Komisi VI Fraksi PKS, Amin AK mempermasalahkan soal kedelai impor. Ia mendesak Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyelidiki dugaan praktik ilegal oleh importir kedelai dengan menimbun stok kedelai disaat pasokan pasar global menipis. Amin mencurigai adanya penimbun dan mendesak agar KPPU dan Kementerian Perdagangan mencabut izin impor perusahaan penimbun.

“Persoalan kedelai ini kan selalu berulang sejak satu dekade terakhir. Persoalannya sama, yaitu instabilitas harga yang membuat pelaku usaha tempe dan tahu yang didominasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terpukul kenaikan harga,” imbuhnya. (ILP/IJS)

 

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *