Wakaf Uang, Ujian Kekuatan Modal Sosial Bangsa Indonesia

Sumber: presidenri.go.id
Bagikan:

Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) serta brand ekonomi syariah di Istana Negara Jakarta, Senin (25/1/2021). Gerakan ini tentunya, merupakan kepercayaan sekaligus momentum yang sangat berharga bagi umat Islam Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Presiden selaku Ketua Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mengatakan bahwa salah satu bentuk pengembangan lembaga keuangan syariah yang akan dikelola adalah sistem wakaf. Menurutnya,  potensi wakaf tanah air cukup besar,   potensi aset wakaf per tahun mencapai Rp2.000 triliun, dan khusus untuk potensi wakaf uang, bisa menembus hingga Rp188 triliun.

Hitungan itu tentunya  sangat masuk akal apabila dikaitkan dengan besarnya modal sosial umat Islam Indonesia. Memang muncul pertanyaannya, seberapa besar kah potensi modal sosial yang dimiliki,  dan bentuk-bentuk modal sosial apa saja yang dimiliki umat Islam?

Modal sosial yang pertama, adalah posisi Indonesia sebagai negara ber penduduk muslim terbesar di dunia. Posisi ini memiliki dua makna, yang pertama dari segi total populasi dan kemudian tentu saja dari segi kepemimpinan global.

Berdasarkan data Global religius future yang dikutip katadata.com, penduduk Indonesia yang beragama Islam pada 2010 mencapai 209,12 juta jiwa atau sekitar 87% dari total populasi. Kemudian pada 2020, penduduk muslim Indonesia diperkirakan akan mencapai 229,62 juta jiwa.

Secara matematis, potensi ini sangat besar. Misalkan, kalau semua ummat Islam membuat urunan, katakanlah mereka mengumpulan rata-rata 100 ribu per kelapa saja, maka itu artinya umat Islam akan dapat mengumpulkan wakaf uang sebesar 200 triliyun lebih. Ini lah contoh hitungan sederhananya. Tentu bisa lebih besar dari itu.

Tidak saja dari segi hitungan, tetapi juga dari sisi kepemimpinan Indonesia dalam konstalasi global. Indonesia tentunya patut menjadi benchmark bagi bangsa lain. Indonesia harus menujukkan kemampuan terbaiknya dalam mengelola potensi masyarakat muslim, utamanya dalam penerapan sistem keuangan syariah. Hal ini sebenarnya telah dibuktikan bahwa sistem perbankan syariah dapat diterima secara universal, dimana telah terbukti dengan berkembangnya sistem perbankan syariah di beberapa seperti Inggris, Hongkong, dan lainnya.

BACA JUGA :  Fenomena Rasisme di Media Sosial dan Ancaman Perpecahan Bangsa

Selain itu, potensi  modal sosial berikutnya adalah karakter utama bangsa Indonesia yang bernafaskan gotong royong. Prilaku gotong royong sudah melekat dalam kehidupan bangsa Indonesia. Hal itu dapat diperlihatkan dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti pelaksanaan pesta perkawinan, kelahiran dan kematian, masyarakat Indonesia telah terbiasa untuk saling meringankan beban sesama.

Juga dalam hal menjalankan pekerjaan, seperti membangun rumah, mengerjakan sawah dan kebun, warga sudah terbiasa melakukannya secara bersama-sama. Prilaku gotong royong juga terlihat pada budaya arisan, jumputan beras, mengumpulkan koin, dan sebagainya. Kesemuanya merupakan  bagian dari budaya asli Indonesia.

Bukti yang lain adalah kemampuan umat Islam membangun sarana dan prasarana ibadah dan fasilitas publik. Ratusan ribu masjid dibangun Islam secara gotong royong. Juga fasilitas publik lainnya, seperti tempat pengajian anak, majelis taklim, poskamling, dan banyak lagi yang tak dapat disebut satu persatu. Singkatnya bangsa Indonesia memiliki ekternalitas positif berupa kerjasama dalam pengumpulan sumberdaya untuk kepentingan bersama, ini adalah modal sosial yang luar biasa.

Dari dua sisi ini, dengan modal jumlah penduduk yang besar, serta budaya gotong royong yang kental, tentunya akan memberi harapan besar bahwa program wakaf berbasis syariah yang telah diluncurkan Presiden Jokowi, selaku Ketua Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), akan menuai keberhasilan dan memberi dampak positif bagi umat.

Namun demikian, tantangannya terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan kepercayaan (truth) publik umat Islam. Masalah kepercayaan sangat penting untuk kesuksesan program KNEKS tersebut.

Poin penting yang perlu dijelaskan oleh KNEKS adalah bagaimana aspek-aspek pengelolaan dan pemanfaatan dana yang terkumpul. Sudah saatnya, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dapat memberikan contoh yang baik, misalnya bagaimana praktik pengelolaan wakaf yang profesional, kredibel, akuntabel, dan transfaran. Sebaliknya, jangan sampai terjadi bentuk moral hazard, seperti yang acapkali terjadi pada penyalagunaan anggaran negara. Pendeknya, pengeloaannya harus benar-benar dapat dipercaya.

BACA JUGA :  Pelaku Parodi Indonesia Raya Masih Pelajar, Mulfachri Ingatkan Peradilan Anak

Selain itu, yang tak kalah  pentingnya adalah bagaimana menjelaskan kepada Umat Islam bahwa upaya mengumpulkan dana melalaui wakaf adalah benar-benar untuk mengurangi ketimpangan sosial dan mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok tanah air. Bukan untuk kepentingan tertentu atau kelompok tertentu.

Hal penting lainnya yang dapat meningkatkan kepercayaan publik adalah bahwa fungsi keungan syariah adalah membangun kemartabatan umat sendiri. Umat Islam harus saling membantu kepada sesamanya bangsa Indonesia. Dimana Umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas, sehingga wajar jika umat Islam memosisikan sebagai diri sebagai “tangan di atas”.

Dengan kepercayaan yang tingga dari umat Islam, maka wakaf tersebut dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan ekonomi nasional khususnya di sektor usaha mikro dan menengah. Dan yang terpenting bahwa target tersebut akan terus dapat ditingkatkan dari tahun ke tahun, sehingga dampak sosial ekonomi akan semakin besar dan luas.

Kalau  kegiatan KNEKS ini sukses, tentunya  Indonesia akan lebih terhormat dan bermartabat di mata dunia. Dibandingkan dengan menggantungkan diri pada bangsa lain. Lebih terhormat apabila bangsa Indonesia membiayai sendiri kebutuhannya secara mandiri,  atau setidaknya dapat mengurangi keteragantungannya  pada bangsa lain.

Ilham Paulangi, Redaktur IJS Media.

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *