Waspadai Kerawanan Nasional, Benahi Sisi Komunikasi Publik

Bagikan:

JAKARTA – Anggota DPD RI Bustami Zainudin berharap memasuki dua bulan pertama di awal 2021 menjadi momentum Bangsa dalam menyikapi situasi keamanan Indonesia. Faktor komunikasi publik dari pemerintah perlu dibenahi dan ditingkatkan dalam menyikapi beberapa hal, khususnya dalam menciptakan keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas.

“Saya melihat ada beberapa faktor penting menyikapi sejumlah hal menjelang situasi di akhir tahun. Beberapa catatan mendasar yang penting disikapi yakni isu terorisme, korupsi, maupun ekonomi yang belum membaik karena hantaman wabah virus corona hingga kebijakan penutupan ormas FPI,” terang Senator asal Lampung itu, Jumat (01/11/2021).

Bacaan Lainnya

Bustami berharap memasuki Januari dan Februari 2021, dapat menjadi bulan kesiapsiagaan nasional bagi seluruh elemen. “Ada kekecewaan pada pemerintah. Isu-isu yang saya sebutkan tadi harus pula diluruskan dengan penjelasan dan komunikasi yang baik,” jelas pria yang sempat duduk sebagai Bupati Way Kanan itu.

Ditambahkan Bustami, skala ancaman keamanan bisa diukur dengan sejumlah peristiwa yang terjadi.

BACA JUGA :  Saatnya Petani dan SMK Berkolaborasi, Bustami Zainudin: Melangkah Saja Dulu dari yang Terkecil

“Ancaman bisa dikapitalisasi dari siklus informasi, suasana media dan situasi yang tengah berkembang saat ini. Terutama setelah pengungkapan kelompok JI di Lampung dan kasus-kasus kelompok FPI,” papar, Wakil Ketua Komite II DPD RI itu.

Terlebih, sambung Bustami, hingga penghujung tahun 2020, belum ditetapkan siapa yang akan menjadi pengganti Kapolri Idham Azis yang memasuki masa pensiun. “Ini bisa berpengaruh ke konsolidasi internal Polri. Saya berharap, tentu situasi dan kondisi yang ada tetap kondusif,” terangnya.

Kepada masyarakat, Bustami juga meminta, untuk tidak terpancing dengan segala bentuk provokasi, maupun cara-cara yang merangsang publik untuk bereaksi negatif.

“Dalami isu yang muncul. Saring benar-benar informasinya, jangan lekas terprovokasi dengan hal-hal yang bersifat datar dan belum diketahui kejelasannya,” pungkas Bustami. (ijs/ful)

 

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *